Perundingan China-AS soal Tarif Memberi Harapan

China-AS sudah saling bicara selama 15 jam di Swiss. Tahan berunding selama itu saja sudah luar biasa. Hasilnya, ada ”kabar gembira” bagi seluruh dunia.

12 Mei 2025 10:34 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

GENEVA, MINGGU — Amerika Serikat dan China sepakat saling menjanjikan evaluasi 115 persen tarif bea masuk impor. Kabar baik itu dicapai selepas perundingan kedua negara di Swiss.

Dalam pernyataan pada Senin (12/5/2025), Kementerian Perdagangan China mengungkap kesepakatan itu. AS-China sepakat saling membatalkan tarif 91 persen dan menunda tarif 24 persen untuk impor mereka. "Langkah ini selaras dengan harapan produsen dan konsumen kedua negara serta menjadi kepentingan kedua negara maupun dunia, " demikian pernyataan Beijing.

Wakil Perdana Menteri He Lifeng memimpin delegasi China ke Swiss pada 10-11 Mei 2025. Ia bertemu delegasi AS yang dipimpin Menteri Keuangan AS AS Scott Bessent dan Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer. Bessent menjadi salah satu pejabat AS yang meyakini perang tarif harus diakhiri. Di sisi lain, ia sepakat perdagangan AS-China tidak adil karena AS terus menanggung defisit bertahun-tahun.

Salah satu kemajuan yang disebut adalah komitmen keduanya untuk menciptakan ”mekanisme konsultasi” untuk meredakan ketegangan hubungan bilateral gara-gara tarif tinggi Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap China.

Mekanisme konsultasi atau dengan kata lain cara berkomunikasi itu akan memungkinkan kedua pihak berkomunikasi secara rutin khusus terkait masalah perdagangan. Rincian tentang hasil pertemuan itu akan diumumkan, Senin (12/5/2025).

Wakil Menteri Perdagangan China Li Chenggang mengatakan, pernyataan bersama China-AS yang akan dirilis di Geneva itu akan berisi kabar baik bagi dunia. Wakil Perdana Menteri China He Lifeng juga mengatakan, China dan AS sudah seide sepahaman untuk meredakan ketegangan perdagangan dengan memperbaiki cara berkomunikasi.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer sependapat. Hanya saja, menurut perwakilan perdagangan internasional China, Li Chenggang, tidak ada pihak yang menyebutkan perjanjian apa pun untuk memangkas tarif AS sebesar 145 persen atas barang-barang China dan tarif China sebesar 125 persen atas barang-barang AS.

”Penting untuk memahami seberapa cepat kami dapat mencapai kesepakatan. Ini mencerminkan bahwa mungkin perbedaan kita tidak sebesar yang dikhawatirkan,” kata Greer.

Ia menekankan bahwa prioritas utama Trump adalah menutup defisit perdagangan AS dan China yang mencapai rekor 263 miliar dollar AS tahun 2024. ”Kami yakin kesepakatan yang kami buat dengan mitra China akan membantu kami untuk menyelesaikan, bekerja menuju penyelesaian keadaan darurat nasional itu,” ujarnya.

Greer menyebut He, Li, dan Wakil Menteri Keuangan China Liao Min sebagai perunding yang tangguh. He menggambarkan proses perundingan dengan Bessent dan Greer berlangsung terbuka, jujur, mendalam, konstruktif, dan substantif.

Kepala Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) Ngozi Okonjo-Iweala menyambut baik hasil positif pertemuan China-AS. Ia mendesak kedua negara untuk membangun momentum tersebut. Kemajuan ini penting bagi seluruh dunia, terutama bagi negara-negara yang paling rentan dari sisi ekonomi. WTO telah memutuskan menentang tarif Trump atas barang-barang China.

infografik AFP Apa yang Diinginkan Amerika: Produk-produk China yang Mendominasi Pasar AS

Namun, kasus-kasus tersebut telah terhenti di badan banding WTO yang lumpuh karena AS memblokir penunjukan hakim.

”Saya mendesak kedua negara untuk membangun momentum ini dengan terus mengembangkan solusi praktis yang meredakan ketegangan, memulihkan prediktabilitas, dan memperkuat kepercayaan pada sistem perdagangan multilateral,” ujarnya.

Wakil Presiden Institut Kebijakan Masyarakat Asia Wendy Cutler menilai diskusi bilateral selama 15 jam itu sudah langkah yang luar biasa. Itu sudah waktu yang lama bagi kedua pihak untuk bertemu. Meski demikian, tetap saja yang terpenting adalah rinciannya.

Dari rincian itu baru terlihat akan seperti apa rencana dan strategi kedua pihak ke depan untuk menangani masalah perdagangan. ”Ini awal dari narasi, awal dialog dan proses untuk memulai kembali semuanya,” kata Kepala Ekonom Global Citigroup Nathan Sheets.

Selama beberapa dekade terakhir, China dan AS telah membentuk banyak badan konsultasi untuk mencoba menyelesaikan masalah perdagangan dan ekonomi, termasuk Kelompok Kerja Ekonomi yang dibentuk mantan Menteri Keuangan Joe Biden, Janet Yellen, bersama Wakil PM China He pada tahun 2023.

Dialog-dialog ini telah menyediakan forum untuk menyuarakan keluhan bilateral. Hanya saja, forum-forum itu tidak banyak membantu memajukan tujuan jangka panjang AS untuk mengubah model ekonomi China yang didominasi negara dan didorong oleh ekspor menjadi model yang didorong oleh belanja konsumen.

Atur ulang total tarif

Belum juga perundingan bilateralnya selesai, Trump sudah menuliskan ”Kemajuan besar sedang dibuat” di media sosialnya, Minggu. Ia menyarankan pengaturan ulang total pada tarif.

China tampak jauh lebih terukur tentang arah keseluruhan perundingan. Sebelum hari perundingan, China sudah dengan tegas menolak setiap proposal yang mengompromikan prinsip-prinsip inti atau merusak tujuan yang lebih luas dari ekuitas global.

China juga sejak awal menegaskan posisinya terhadap perang dagang dengan AS. China menegaskan tidak ingin berperang dagang karena dalam perang dagang tidak akan ada yang menang. Namun, jika AS bersikeras memaksakan perang dagang pada China, China tidak akan takut dan akan berjuang sampai akhir. He menyatakan China siap bekerja sama.

infografik AFP Apa yang Dijual Amerika: Produk Utama AS yang Diekspor ke China

Perundingan perdagangan China-AS dapat menstabilkan pasar dunia yang bergejolak akibat perang dagang China-AS. Dampak perang dagang ini terlihat pada kapal-kapal berisi barang-barang China di pelabuhan. Mereka tidak mau membongkar muatan sampai mereka mendapatkan keputusan akhir tentang tarif.

Tarif tinggi Trump terhadap China dan sebaliknya pada dasarnya sama dengan memboikot produk satu sama lain. Ini mengganggu perdagangan bilateral yang tahun lalu mencapai 660 miliar dollar AS.

”Menteri Bessent telah menjelaskan bahwa salah satu tujuan perundingan ialah untuk meredakan ketegangan. AS dan China sama-sama mengenakan tarif yang terlalu tinggi untuk berbisnis. Kita adalah konsumen dunia. Semua orang ingin menjual barang mereka di sini. Jadi, mereka perlu berbisnis dengan Amerika dan kita menggunakan kekuatan ekonomi kita untuk membuka ekonomi mereka bagi eksportir kita,” kata Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick, yang tidak ikut ke Geneva.

Direktur Ekonomi Nasional Gedung Putih Kevin Hassett kepada ”Sunday Morning Futures” di Fox News Channel mengatakan, kemungkinan besar dari hasil perundingan itu ialah pulihnya hubungan perdagangan karena China juga ingin segera menormalkan kembali keadaan. Prospek untuk terobosan besar masih tampak tipis, tetapi penurunan tarif—meski sedikit—dapat membantu memulihkan kepercayaan.

”Apa pun hasilnya, perundingan seperti ini tetap dibutuhkan. Ini melampaui pertengkaran mereka tentang siapa yang harus menelepon lebih dulu,” kata Direktur Program Asia Timur di Quincy Institute for Responsible Statecraft Jake Werner.

(Reuters/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji