Prinsip hidup dari ibu antar Mohammad Ahsan ke akhir yang tak bisa disangkal: jadi pebulu tangkis terbaik dunia meski tiada medali Olimpiade di etalase prestasinya.
23 Jan 2025 11:00 WIB · Olahraga
Sebuah raket dan sepatu tergantung pada salah satu bagian rumah pebulu tangkis ganda putra Indonesia, Mohammad Ahsan, di Tangerang Selatan, Banten. Untuk melihatnya, setiap orang harus menengadah. Sebab, alat ”perang” Ahsan di lapangan itu tergantung pada dinding dengan ketinggian 4 meter hingga 5 meter.
”Bener-bener gantung setinggi-tingginya biar susah mau ngambilnya lagi. Biar kalau diajak tanding lagi udah enggak bisa. Kalau raketnya gampang diambil, nanti malah main lagi,” kata Ahsan sembari sedikit tertawa, Sabtu (11/1/2025).
Dengan menggantung raket dan sepatu, Ahsan menggambarkan pensiun secara harfiah. Desember 2024, saat mengumumkan untuk gantung raket dan sepatu di media sosial, Ahsan mengunggah foto ketika ia duduk di sebuah tangga. Tangannya benar-benar menggantungkan raket ke dinding, sedangkan sepatu telah tergantung tepat di sampingnya.
Maka, perumpamaan Ahsan terasa tepat soal menggantungkan raket dan sepatu setinggi-tingginya agar sulit digapai. Untuk menggapainya memang tidak mudah, paling tidak butuh membawa tangga dan menaikinya.
Kendati ucapannya soal raket itu dibalut dengan gurauan, Ahsan menunjukkan bahwa itulah simbol keputusannya yang bulat. Ia telah sampai pada titik akhir, tiada jalan baginya untuk kembali. Tiada pula ruang untuk penyesalan atas perjalanan yang telah mencapai titik akhir tersebut.
”Memang niatnya, pensiun kalau sudah benar-benar enggak kuat. Jadi, setelah pensiun enggak ada rasa, ’Gue sebenarnya masih bisa nih, harusnya gue masih main lagi’. Saya enggak mau seperti itu,” ujar Ahsan.
Sesal seolah kata yang tak pernah masuk dalam kamus hidup Ahsan. Sepanjang karier sebagai pebulu tangkis, Ahsan selalu berusaha mengupayakan segalanya dan memaksimalkan upayanya agar memastikan penyesalan itu tak ada. Itulah prinsip hidup yang pebulu tangkis berusia 37 tahun ini tanamkan sejak muda.
Prinsip tersebut tertanam kuat sedari awal perjalanan Ahsan sebagai atlet. Pada 2001, saat pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta untuk mewujudkan mimpi sebagai pebulu tangkis, prinsip itu juga yang menjaga Ahsan tetap bertahan di tengah kesulitan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/14/554c355e-d466-45f5-aeb4-407c1527f4cd_jpg.jpg)
Ahsan mengingat betapa awal perjalanan di Sekolah Khusus Olahraga (SKO) Ragunan, Jakarta Selatan, tak mudah. Ia kerap menangis. Semua serba pertama baginya: jauh dari keluarga yang ada di Palembang, Sumatera Selatan, harus mempersiapkan semua hal sendirian, serta menjalani latihan berat setiap pagi dan sore.
Hati Ahsan sedikit lega ketika senior menghibur dan menenangkannya. Dan paling penting, jiwanya juga tertopang nasihat ibunya, Siti Rohanah, sebelum berangkat ke Jawa.
”Ibu saya mengingatkan, jangan sampai jauh-jauh ke sini cuma numpang berak, kasarnya, tetapi, pulang tanpa hasil,” kata Ahsan. Kalimat itu juga menjadi cambuk yang membakar semangatnya.
”Saya selalu tanamkan itu ke diri sendiri. Setidaknya, kalau saya tidak ’jadi’, walaupun gagal, tidak berhasil, saya sudah berjuang. Itu memang sudah jalannya. Jadi, tidak ada penyesalan dalam diri saya,” ujarnya lagi.
Menurut Ahsan, tidak ada rumus pasti untuk meraih kesuksesan sebagai atlet. Namun, mengupayakan segala hal dengan maksimal adalah sebuah keniscayaan. Hanya itu yang berada di wilayah kendali manusia. Sementara hasil ialah perkara lain.
Prinsip hidup Ahsan itu tampak jelas dari bagaimana ia memandang karier dan prestasinya selama ini. Bersama Hendra Setiawan, Ahsan tak hanya menjadi salah satu ganda putra terbaik Indonesia, tetapi juga di dunia.
Ayah dengan masing-masing tiga anak berjulukan ”The Daddies” ini bahkan merengkuh hampir segalanya, termasuk tiga kali juara dunia, dua kali juara All England, dan tiga kali juara Final BWF. Di bagian depan rumahnya, Ahsan memberi tempat khusus untuk mengenang deretan prestasinya itu.
Di lemari kaca, Ahsan memajang trofi dan medali. Ia mengaturnya berdasarkan kejuaraan besar. Namun, ada yang absen dalam etalase prestasi Ahsan. Tidak ada medali Olimpiade, ajang tertinggi bagi setiap atlet.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/14/8c807b31-ef9e-45e3-80c9-e2909204ec39_jpg.jpg)
Ahsan tiga kali mendapatkan kesempatan di Olimpiade. Pada Olimpiade pertamanya di London 2012, Ahsan berpasangan dengan Bona Septano. Saat itu, mereka terhenti di perempat final.
Lalu, saat tampil di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 dan Olimpiade Tokyo 2020 (yang digelar 2021) bersama Hendra Setiawan, langkah Ahsan lebih jauh sekaligus nyaris membawa pulang medali. Mereka mencapai semifinal, tetapi pada babak itu mereka kalah. Begitu juga ketika perebutan perunggu.
Kata penyanyi kenamaan Amerika Serikat, Ariana Grande, ”hampir” atau ”nyaris” saja tidaklah cukup. Almost is never enough. Namun, Ahsan jelas bukan Ariana Grande. Ia tahu, patokannya bukanlah keberhasilan mencapai sesuatu atau tidak.
Ahsan mengamini bahwa meraih medali di Olimpiade adalah target setiap atlet. Untuk itu, dalam persiapan Olimpiade terakhirnya di Tokyo, Ahsan benar-benar berusaha keras dengan berkaca pada pengalamannya di dua Olimpiade sebelumnya. Tak hanya usaha, kata Ahsan, ia pun banyak memanjatkan doa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/14/4f1e62fc-42ec-4a7b-95f2-fe68fb2e996f_jpg.jpg)
Namun, takdir berkata lain. Saat hanya selangkah lagi menuju raihan medali, Ahsan/Hendra kalah dari ganda putra terbaik saat itu, Lee Yang/Wang Chi Lin, di semifinal. Setelah itu, mereka dikalahkan Aaron Chia/Soh Wooi Yik pada kesempatan terakhir untuk meraih perunggu.
Lantas, apakah Ahsan menyesal menutup karier tanpa pernah meraih medali Olimpiade? Dengan tegas, Ahsan menjawab tak ada penyesalan sedikit pun.
”Momennya memang sedikit lagi untuk dapat medali. Namun, saya sudah berusaha maksimal, jadi memang sudah takdirnya seperti itu,” kata Ahsan.
Kata Ahsan, penyesalan akan datang jika sebelum Olimpiade, ia tidak pernah melakukan persiapan maksimal dan belajar dari pengalaman sebelumnya. ”Dan meskipun enggak dapat medali di Olimpiade, alhamdulillah saya meraih banyak prestasi yang lain. Itu yang saya syukuri,” kata Ahsan lagi.
Raket dan sepatu telah digantung. Di sanalah, pada dinding rumahnya yang tinggi, Ahsan menunjukkan simbol karier yang berakhir. Itu juga sekaligus pengingat betapa keras perjuangan Ahsan dan betapa lapang hatinya saat ada yang tidak berhasil digapai.
Ahsan mencintai takdir yang menghampirinya, termasuk takdir yang tak bisa ia sangkal: menjadi pebulu tangkis terbaik dunia, meski tak ada medali Olimpiade di etalase prestasinya.
Penulis:
Rebiyyah Salasah, Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .