17 Orang Meninggal, Pencarian Korban Longsor Pekalongan Dilanjutkan Rabu

Sebanyak 17 korban meninggal ditemukan di lokasi tanah longsor di  Pekalongan, Jateng, Selasa. Pencarian sembilan orang yang diduga tertimbun dilanjutkan Rabu.

21 Jan 2025 20:21 WIB · Nusantara

Oleh Kristi Dwi Utami

PEKALONGAN, KOMPAS — Korban meninggal dunia yang ditemukan dalam bencana tanah longsor di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, hingga Selasa (21/1/2025) malam, sebanyak 17 orang. Pencarian dihentikan pada Selasa malam dan akan kembali dilakukan pada Rabu (22/1/2025) pagi.

Pencarian korban tanah longsor di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, sudah dilakukan sejak Senin (20/1/2025) malam atau sesaat setelah kejadian. Oleh karena terkendala hujan deras dan minimnya penerangan, pencarian dilanjutkan pada Selasa pagi.

Hingga Selasa malam, petugas gabungan dari berbagai instansi bersama sukarelawan dan warga setempat berhasil mengevakuasi 17 jenazah. Camat Petungkriyono, Hadi Surono, mengatakan, masih ada sembilan orang yang dilaporkan keluarganya hilang. Mereka diduga menjadi korban dalam bencana itu.

Petugas gabungan, sukarelawan dan warga mengevakuasi korban meninggal dunia akibat tertimbun longsor di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (21/1/2025). Akibat bencana itu, 16 orang dilaporkan meninggal.

”Karena sudah malam, pencarian dihentikan dan akan dilanjutkan besok pagi. Besok akan dilakukan pencarian korban yang belum ditemukan,”" kata Hadi saat dihubungi, Selasa malam.

Menurut Hadi, Desa Kasimpar bukanlah satu-satunya desa yang terdampak longsor pada Senin malam. Di Petungkriyono, longsor terjadi di sejumlah titik di seluruh desa, yaitu Kayupuring, Yosorejo, Tlogopakis, Curugmuncar, Songgodadi, Tlogohendro, Gumelem, Simeko, dan Kasimpar. 

”Tapi, yang ada korban luka-luka ataupun korban jiwa hanya di Desa Kasimpar. Korban luka-luka itu ada 13 orang, sudah dibawa ke rumah sakit dan puskesmas. Di desa lain, longsor yang terjadi menyebabkan tertutupnya jalan akibat material longsoran dan pohon tumbang,” ucap Hadi.

Petugas gabungan, sukarelawan dan warga mencatat identitas korban longsor di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (21/1/2025). Akibat bencana itu, 16 orang dilaporkan meninggal.

Hadi menyebut, Petungkriyono terletak di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan air laut. Di wilayah itu, tanah longsor sering kali terjadi, terutama saat musim hujan.

”Karena daerah pegunungan, tanahnya gembur. Banyak tebing, banyak sungai, dan rawan longsor. Wilayah Petungkriyono juga masuk ke daerah dataran tinggi Dieng,” katanya.

Sejumlah instansi turut membantu dalam penanganan bencana tanah longsor di Pekalongan, termasuk dari kepolisian. Kepala Kepolisian Resor Pekalongan Ajun Komisaris Besar Doni Widamanto menuturkan, ada sejumlah kendala dalam proses penanganan bencana di Petungkriyono.

Petugas gabungan, sukarelawan dan warga mengevakuasi korban meninggal dunia akibat tertimbun longsor di Desa Kasimpar, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (21/1/2025). Akibat bencana itu, sebanyak 11 orang dilaporkan meninggal dunia.

 

”Untuk akses yang ditempuh, harus memutar melalui Kabupaten Banjarnegara karena sebuah jembatan terputus. Hal ini menyebabkan petugas membutuhkan waktu yang lama untuk bisa ke lokasi kejadian,” ujar Doni.

Sementara itu, Kepolisian Daerah Jateng juga mengirimkan satuan tugas bantuan kendali operasi (BKO) untuk menangani dan membantu upaya evakuasi serta pemulihan di sejumlah lokasi bencana. Kepala Bidang Humas Polda Jateng Komisaris Besar Artanto menyebut, pihaknya telah mengirimkan masing-masing satu regu BKO dari Perintis dan Brimob ke lokasi tanah longsor di Pekalongan dan lokasi banjir di Grobogan.

”Tim tersebut dilengkapi sejumlah kendaraan taktis, seperti perahu karet serta kendaraan yang difungsikan sebagai dapur lapangan. Hal ini sebagai upaya kami untuk membantu penanganan bencana dan proses evakuasi para korban. Selain itu juga sebagai bentuk upaya pemulihan dengan menjamin kesehatan warga yang terdampak bencana,” ucap Artanto.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kristi Dwi Utami
 | 

Editor:

Siwi Yunita Cahyaningrum