IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 sebesar 3,3 persen, sama dengan dua tahun terakhir. Apa tantangan dan peluang Indonesia?
20 Jan 2026 08:12 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Dinamika global yang tengah berlangsung bukanlah gejolak atau gangguan sementara, melainkan sebuah transisi sistemik. Ketika politik internasional tengah mencari keseimbangan baru—digerakkan oleh kekuatan-kekuatan besar dalam sistem internasional dengan maksud membangun kembali balance of power—konsekuensi strategisnya luas, struktural, dan bertahan lama. Selamat datang 2026. Selamat datang dunia baru!
Sejak era Perang Dingin berakhir pada 1991, politik internasional berjalan dalam sistem unipolar pimpinan Amerika Serikat, ditopang dengan tatanan ekonomi liberal, multilateralisme, dan konsensus bahwa keterbukaan pasar menghasilkan perdamaian dan kesejahteraan. Namun, sejak 2017, menurut John Mearsheimer, Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Chicago, dunia bergeser ke multipolar dengan tiga kekuatan besar dalam sistem.
Ketika politik internasional tengah mencari keseimbangan baru—digerakkan oleh kekuatan-kekuatan besar dalam sistem internasional dengan maksud membangun kembali ”balance of power”— konsekuensi strategisnya luas, struktural, dan bertahan lama.
China adalah kekuatan baru yang muncul sebagai pesaing setara atau peer competitor AS. Sementara Rusia, di bawah Vladimir Putin, bangkit kembali menjadi kekuatan besar dan masuk dalam orbit negara adidaya. Saat ini terdapat tiga kekuatan besar dalam sistem internasional, yakni AS dan China, yang relatif setara. Satu lagi adalah Rusia yang posisinya agak jauh di bawah AS dan China alias distant power.
Sementara kekuatan-kekuatan lain, seperti Uni Eropa, India, dan negara-negara menengah, menuntut ruang pengaruh yang lebih besar. Saat ini kekuatan-kekuatan besar dunia sedang bertarung pengaruh sampai mencapai balance of power. Dunia berlayar menuju keseimbangan baru yang kompetitif, bukan kooperatif.
Periode penyesuaian keseimbangan baru adalah fase paling tidak stabil dalam sistem internasional. Henry Kissinger menggambarkan fase ini sebagai kondisi ketika aturan lama tidak lagi diterima secara universal. Sementara keseimbangan kekuatan baru belum terbentuk. Situasi ini menciptakan ambiguitas strategis dan risiko miskalkulasi yang jauh lebih tinggi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/30/1232e010-acc4-4d8a-9df0-13d8d6936262_jpg.jpg)
Dalam konteks ekonomi politik, fase ini mendorong bergesernya tatanan global, dari liberal ke multipolar kompetitif, serta memicu fenomena lindung nilai (hedging), pemutusan hubungan (decoupling), dan pembentukan blok-blok baru. Secara strategis, pergeseran tatanan global dari liberal ke multipolar kompetitif menciptakan tiga gejala utama.
Pertama, sekuritisasi dalam kebijakan ekonomi. Energi, teknologi, dan keuangan, misalnya, tidak lagi dianggap sebagai sektor netral, tetapi bagian dari keamanan strategis nasional.
Kedua, instrumentalisasi perdagangan dan investasi sebagai alat geopolitik. Artinya, perdagangan dan investasi digunakan sebagai senjata untuk memaksimalkan kepentingan geopolitik.
Gampangnya, dulu perdagangan dan investasi adalah mata uang untuk bekerja sama sekaligus jembatan perdamaian. Sekarang, keduanya adalah pelatuk untuk memaksa negara lain tunduk sesuai kemauan politik kekuatan yang lebih besar.
Ketiga adalah fragmentasi tatanan global. Hal ini tecermin dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang pengaruhnya semakin lemah dan aturannya tak digubris. Kekuatan-kekuatan besar suka-suka menjalankan kebijakannya sendiri sekalipun itu bertentangan dengan norma global. Di saat yang sama muncul lembaga-lembaga baru.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/12/08/29caafa5-76d3-4337-9d6a-a66a4af51216_jpg.jpg)
Sementara fenomena lindung nilai, pemutusan hubungan, dan pembentukan blok-blok baru adalah bentuk pertahanan diri, baik ofensif maupun defensif, dari negara-negara yang berusaha untuk bertahan dan atau memperkuat lingkaran pengaruh dalam sistem. Lindung nilai adalah strategi negara kecil atau menengah untuk tidak menjadi korban saat kekuatan-kekuatan besar bertarung pengaruh.
Pemutusan hubungan adalah upaya melemahkan basis ekonomi dan teknologi lawan agar kekuatan mereka tidak melampaui kekuatan pihak yang memutuskan hubungan. Adapun pembentukan blok formasi bertujuan untuk menciptakan kekuatan kolektif melalui aliansi guna mengimbangi kekuatan atau dominasi eksternal.
Dunia bergerak dari tatanan ekonomi liberal berbasis efisiensi menuju sistem yang lebih terfragmentasi, berorientasi keamanan, dan sarat pertimbangan geopolitik.
Berangkat dari gejala dan lanskap strategis tersebut, pertanyaannya kemudian, bagaimana proyeksi perekonomian global dan nasional pada 2026?
Tahun ini bukanlah tahun siklus biasa dalam ekonomi global, melainkan fase transisi sistemik: dunia bergerak dari tatanan ekonomi liberal berbasis efisiensi menuju sistem yang lebih terfragmentasi, berorientasi keamanan, dan sarat pertimbangan geopolitik.
Dalam fase ini, strategi mendominasi ekonomi serta pertumbuhan menjadi cenderung melemah dan tidak merata. Sementara negara kembali menjadi aktor utama dalam alokasi sumber daya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/16/5f4516d2-66ff-42ad-b0f7-2e56b2440e1c_jpg.jpg)
Sejumlah lembaga multilateral, seperti IMF, Bank Dunia, dan Forum Ekonomi Dunia (WEF), menyampaikan pesan lebih kurang senada untuk perekonomian 2026: risiko global meningkat, ruang kebijakan menyempit, dan ketidakpastian menjadi variabel permanen.
Namun, dalam situasi yang sulit ini, perekonomian global ternyata berdaya tahan dan dengan caranya diperkirakan tetap tumbuh pada 2026 meski landai dan cenderung turun pada 2027.
WEF dalam Global Risk Report 2026 menyebut, memasuki 2026, dunia sedang menyeimbangkan diri di tepi jurang atau on a precipice. Ini untuk menggambarkan bagaimana dunia dalam situasi yang rentan dalam fase ketika kekuatan-kekuatan besar global sedang mencari balance of power.
Gejolak yang ditimbulkan oleh perang senjata, bersamaan dengan penggunaan senjata ekonomi demi keuntungan strategis, terus menciptakan fragmentasi masyarakat global. Aturan dan institusi yang selama ini menjadi penopang stabilitas kini di bawah tekanan berat dalam sebuah era di mana perdagangan, keuangan, dan teknologi diperlakukan sebagai senjata untuk memengaruhi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/16/8c7be0b646392f0a616c0700a5c4125c-Menteri_Perdagangan_RI_dan_Dirjen_WTO.jpg)
Sementara Bank Dunia dalam laporan Global Economic Prospects 2026 per Januari 2026 mengingatkan, pertumbuhan ekonomi dunia bisa tersandung jika ketegangan perdagangan meningkat, hambatan perdagangan makin tinggi, atau sentimen pasar keuangan memburuk akibat penurunan harga aset, kekhawatiran fiskal, atau lonjakan inflasi yang tak terduga.
”Seiring berlalunya waktu, perekonomian global semakin sulit untuk mendorong pertumbuhan dan tampak lebih tangguh terhadap ketidakpastian kebijakan,” ujar Kepala Ekonom dan Wakil Presiden Senior untuk Ekonomi Pembangunan di Bank Dunia Indermit Gill, Selasa (13/1/2026).
Seiring berlalunya waktu, perekonomian global semakin sulit untuk mendorong pertumbuhan dan tampak lebih tangguh terhadap ketidakpastian kebijakan,
Namun, antara dinamika dan ketahanan ekonomi, ia melanjutkan, tidak bisa berjalan berbeda terlalu lama tanpa mengganggu keuangan publik dan pasar kredit. Dalam beberapa tahun ke depan, Bank Dunia memperkirakan perekonomian dunia tumbuh lebih lambat dibandingkan dengan era 1990-an yang penuh tantangan sekalipun—sementara beban utang publik dan swasta berada pada level tertinggi.
”Untuk menghindari stagnasi dan meningkatnya pengangguran, pemerintah di negara maju dan berkembang harus membuka peluang investasi dan perdagangan swasta, mengendalikan belanja pemerintah, serta berinvestasi pada teknologi baru dan pendidikan,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/29/49df185c-7cad-4516-b74e-3bd2ff0ea2f5_jpg.jpg)
WTO dalam Global Trade Outlook 2026 memperkirakan perlambatan perdagangan barang global. Penghimpunan barang di depan telah berakhir pada 2025. Hambatan tarif dan nontarif akan mulai berlaku efektif tahun ini.
Di negara-negara maju mulai terlihat tanda-tanda pelemahan pada perdagangan dan sektor manufaktur. Hal ini tecermin dari menurunnya kepercayaan pelaku usaha dan konsumen serta melambatnya pertumbuhan lapangan kerja dan pendapatan.
Sementara IMF dalam Proyeksi Ekonomi Dunia yang dirilis per 19 Januari 2026 meramalkan pertumbuhan ekonomi global pada 2026 akan tetap 3,3 persen untuk tiga tahun berturut-turut. Proyeksi ini 0,2 poin persentase lebih tinggi ketimbang proyeksi pada Oktober 2025. Namun, untuk 2027, pertumbuhan diperkirakan melambat menjadi 3,2 persen.
Performa yang relatif stabil ini terjadi karena adanya keseimbangan di antara dua faktor yang berbeda. Faktor penghambat adalah perubahan kebijakan perdagangan.
Faktor positif adalah dorongan dari investasi yang melonjak terkait teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). Hal ini terutama lebih terasa di Amerika Utara dan Asia. Faktor positif lain adalah fiskal dan moneter yang mendukung, kondisi keuangan yang secara umum longgar, dan kemampuan swasta beradaptasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/30/56825ccf-cfcb-4f48-a063-5ced46b6f2a1_png.png)
Sementara inflasi global diperkirakan turun, dari 4,1 persen pada 2025 menjadi 3,8 persen pada 2026, dan lebih lanjut menjadi 3,4 persen pada 2027. Proyeksi inflasi ini secara garis besar tidak berubah dari perkiraan IMF per Oktober 2025. Penurunan inflasi secara bertahap di AS berlangsung lebih lambat dibanding ekonomi besar lainnya.
”Kami mendapati bahwa pertumbuhan global tetap cukup tangguh. Jadi, dalam arti tertentu, perekonomian global berhasil mengatasi guncangan akibat gangguan perdagangan dan tarif pada 2025, dan justru berada pada posisi yang lebih baik daripada yang kami perkirakan sebelum semua itu dimulai,” kata Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas kepada para wartawan, dikutip dari Reuters, Senin (19/1/2026).
Inflasi global diperkirakan turun, dari 4,1 persen pada 2025 menjadi 3,8 persen pada 2026, dan lebih lanjut menjadi 3,4 persen pada 2027.
Risiko terhadap prospek ini, masih menurut IMF, tetap condong ke sisi negatif. Peninjauan kembali ekspektasi pertumbuhan produktivitas terkait AI dapat menyebabkan penurunan investasi dan memicu koreksi pasar keuangan secara tiba-tiba, yang menyebar dari perusahaan terkait AI ke segmen lain dan mengikis kekayaan rumah tangga. Ketegangan perdagangan dapat meningkat, memperpanjang ketidakpastian dan menekan aktivitas ekonomi.
Ketegangan politik domestik atau geopolitik dapat muncul, menambah lapisan ketidakpastian baru dan mengganggu ekonomi global melalui dampaknya pada pasar keuangan, rantai pasok, dan harga komoditas. Defisit fiskal yang lebih besar dan utang publik yang tinggi dapat menekan suku bunga jangka panjang dan, pada gilirannya, memengaruhi kondisi keuangan yang lebih luas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/ae1b662286180d9042f451af9c17d11a-20260119_DMS_Pertumbuhan_Ekonomi_3_mumed.png)
Lantas, bagaimana dinamika global tersebut mendarat di perekonomian Indonesia? IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia naik tipis dari perkiraan 5,0 persen pada 2025 ke 5,1 persen di 2026. Pada 2027, lajunya tetap 5,1 persen. Bank Dunia memperkirakan 5,0 persen di tahun 2026 dan 2027.
Sementara pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 5,4 persen, sebagaimana tertuang sebagai asumsi dasar APBN 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan optimistis realisasinya bisa mencapai 6 persen. Ini dengan mengandalkan percepatan belanja negara dan penguatan koordinasi fiskal-moneter.
”Saya percaya, dengan lebih sinkronnya kebijakan kita, (pertumbuhan ekonomi) 6 persen tahun 2026 tidak akan sulit dicapai,” ujar Purbaya di Jakarta, Rabu (14/1/2026).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/08/4180b4cab57205a528f8dba784f1f673-20260108TOK7.jpg)
Dalam WEF Global Risk 2026, lima risiko terbesar dari 34 daftar risiko untuk Indonesia adalah sebagai berikut. Pertama, kurangnya peluang ekonomi dan pengangguran. Kedua, layanan publik dan perlindungan sosial yang tidak memadai (termasuk pendidikan, infrastruktur, dan pensiun).
Ketiga, dampak negatif teknologi kecerdasan buatan. Keempat, perlambatan pertumbuhan ekonomi (misalnya resesi atau stagnasi). Kelima, inflasi.
WEF Global Risk merupakan riset atas hasil survei terhadap 1.300 responden lintas negara pada 12 Agustus-22 September 2025. Responden adalah pemimpin dan pakar global dari kalangan akademisi, dunia usaha, pemerintahan, organisasi internasional, dan masyarakat sipil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/06/86403251-9193-40dc-b080-5e5b47739ab3_jpg.jpg)
Dalam jangka pendek hingga menengah, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif, ditopang permintaan domestik dan sektor komoditas meskipun gejolak eksternal meningkat melalui fluktuasi arus modal dan harga ekspor.
Dalam jangka menengah hingga panjang, perlambatan pertumbuhan global mengurangi dorongan eksternal sehingga kualitas pertumbuhan menjadi lebih penting daripada sekadar angka pertumbuhan.
Pola perdagangan pun semakin terfragmentasi dan regional dengan akses pasar yang kian dipengaruhi oleh kepercayaan geopolitik, standar ESG, dan pembatasan teknologi. Keunggulan Indonesia terletak pada diversifikasi pasar ekspor. Namun, risiko eksklusi regulasi tetap mengintai.
Indonesia memiliki peluang besar untuk menyerap investasi relokasi industri dalam strategi bisnis ”China+1” atau ”China+N”.
Arus investasi global kini semakin diarahkan oleh pertimbangan risiko geopolitik dengan investor memprioritaskan stabilitas politik, netralitas, dan kepastian kebijakan.
Indonesia memiliki peluang besar untuk menyerap investasi relokasi industri dalam strategi bisnis ”China+1” atau ”China+N”. Namun, Indonesia harus waspada terhadap risiko masuknya investasi berkualitas rendah atau ketergantungan berlebihan pada satu negara.
Pada saat yang sama, perubahan keseimbangan global membuka jendela transformasi struktural, yakni Indonesia dapat naik ke rantai nilai yang lebih tinggi melalui industrialisasi dan manufaktur. Sebaliknya, Indonesia justru bisa terjebak pada peran bernilai tambah rendah jika strategi industrinya tidak konsisten dan tidak kompetitif.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/20/5bbf5bf00666502f10b39490dde7527c-Screenshot_2026_01_20_at_07.49.54.png)
Di tengah dinamika ini, Indonesia menghadapi sejumlah risiko utama. Tekanan geopolitik dapat mendorong Indonesia ke dalam jebakan keberpihakan, terutama dalam teknologi, infrastruktur, dan pembiayaan, dengan potensi sanksi sekunder atau pembatasan pasar.
Risiko jebakan pertumbuhan juga nyata jika ketergantungan pada komoditas tidak disertai peningkatan nilai tambah, atau hilirisasi dilakukan tanpa daya saing global.
Kredibilitas kebijakan menjadi krusial: perubahan regulasi yang mendadak atau persepsi nasionalisme sumber daya dapat melemahkan kepercayaan investor. Sementara volatilitas arus modal meningkatkan kerentanan keuangan.
Indonesia memiliki posisi unik sebagai ekonomi ’swing’ strategis—mampu berdagang dengan semua pihak, berinvestasi dengan banyak mitra, tanpa harus berpihak.
Pada sisi lain, Indonesia memiliki posisi unik sebagai ekonomi swing strategis—mampu berdagang dengan semua pihak, berinvestasi dengan banyak mitra, tanpa harus berpihak. Fragmentasi global justru menciptakan titik masuk baru bagi peningkatan industri, khususnya di sektor baterai kendaraan listrik, rantai pasok energi hijau, ketahanan pangan, dan layanan digital.
Kendali atas sumber daya kritis memberi daya tawar lebih besar dalam dunia managed interdependence asalkan didukung oleh strategi industri yang kredibel. Lebih jauh, kepemimpinan Indonesia di ASEAN memberikan jaminan stabilitas kawasan, yang dapat mengurangi eksposur terhadap rivalitas kekuatan besar sekaligus menarik investasi yang mencari jangkar regional yang andal.
Bagaimana proyeksi sektoral? Selama tiga pekan ke depan, Harian Kompas dan Kompas.id akan menurunkan laporan proyeksi sektoral, mulai dari pasar modal, perbankan, manufaktur, perdagangan, telekomunikasi, pariwisata, hingga dunia kerja. Selamat berayun!
Penulis:
FX Laksana Agung SaputraEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto