Meskipun demikian, dunia harus bersiap menghadapi berbagai kejutan. Dampak Tarif Trump baru mulai terlihat.
09 Okt 2025 10:02 WIB · Internasional
WASHINGTON DC, KAMIS — Di tengah ketidakpastian geoekonomi, Dana Moneter Internasional atau IMF menyatakan bahwa situasi ternyata tidak seburuk yang dikhawatirkan. Meskipun demikian, IMF mengimbau semua pihak agar bersiap menghadapi pelambatan ekonomi. Ini terutama karena dampak dari tarif impor balasan Presiden AS Donald Trump baru akan terlihat.
”Kondisi ekonomi dunia tidak sejelek yang kita duga, tetapi tidak sebaik yang kita inginkan,” kata Direktru IMF Kristalina Georgieva di Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (8/10/2025) waktu lokal atau Kamis (9/10/2025) waktu Indonesia.
Pekan depan, IMF, Bank Dunia, dan para menteri keuangan dari sejumlah negara akan berkumpul di Washington DC. Mereka hendak membahas perkembangan situasi geoekonomi. Kemungkinan besar mereka membahas persoalan tarif impor balasan yang ditetapkan oleh Trump.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/09/027f4010-21f3-480d-b562-2176b384f15b_jpg.jpg)
Dalam pertemuan pekan depan pula IMF akan meluncurkan Perkiraan Ekonomi Dunia, tepatnya pada Selasa (14/10/2025).
Menurut Georgieva, sejauh ini, ekonomi dunia berhasil bertahan melalui berbagai hambatan. Tarif Trump adalah salah satu dari kejutan ekonomi. Akan tetapi, negara-negara berhasil menghindari perang dagang dengan cara mengintensifkan perundingan supaya jumlah tarif bisa dikelola.
Secara rata-rata, tingginya tarif telah turun dari 23 persen menjadi 17,5 persen. Adapun jumlah tarif efektif ialah 10 persen. Jumlah ini tergolong tinggi dalam standar perekonomian global. Akan tetapi, mengingat sifat Trump yang impulsif, angka-angka ini bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung keinginan dia.
”Kita harus waspada karena dampak sejati dari tarif ini belum sepenuhnya terlihat,” kata Georgieva.
IMF memperkirakan, perekonomian dunia akan terus bertumbuh, tetapi tidak dalam kecepatan tinggi. Kisarannya ialah 3 persen sampai dengan 3,7 persen. Perhitungan terkuat masih di angka 3 persen.
Di tengah pertumbuhan yang lambat itu, Georgieva menuturkan, tetap ada perkembangan di negara-negara tertentu. India salah satu negara yang terus meningkat pertumbuhannya. Sebaliknya, China menunjukkan tanda-tanda pelambatan yang stabil.
Oleh sebab itu, IMF mengimbau agar negara-negara mempersiapkan diri menghadapi hambatan akibat dampak tarif impor balasan. Caranya dengan meningkatkan perdagangan di dalam negeri dan di dalam kawasan.
Hal ini terutama penting untuk kawasan Asia. Di kawasan ini, IMF melihat pentingnya peningkatan akses keuangan dan penguatan di sektor jasa.
Di kawasan lain, harus ada kebijakan untuk menyeimbangkan neraca perdagangan antarnegara. Perlu pula ada kesigapan pemerintah menabung dana cadangan (fiscal buffer).
Khusus di Afrika, secara umum diperlukan pembenahan kebijakan agar bersahabat dan menarik bagi investor. Menurut Georgieva, apabila di Afrika ada kawasan perdagangan bebas dalam benua, produk domestik bruto per kapita bisa meningkat 10 persen.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/03/8189c205c7d32dfaa75f3fc193ae37db-FILES_INDIA_US_TRADE_TARIFF_131579241.jpg)
Georgieva mengatakan, sikap proteksionisme adalah hal yang harus diwaspadai. Selama proteksionisme terkendali, masih bisa diterima. Jangan sampai sikap proteksionisme malah menghambat perdagangan intrakawasan.
Ia juga meminta agar negara-negara menurunkan utang. AS salah satunya. Utang federal mereka harus dikurangi. Apalagi, AS kini mengalami kebuntuan layanan pemerintah federal gara-gara DPR belum mencapai kesepatakan penetapan anggaran.
Utang nasional adalah jumlah uang yang dipinjam suatu negara dari kreditor. Menurut data Departemen Keuangan AS, Washington memiliki utang sebesar 37,64 triliun dollar AS.
Trump baru-baru ini mengesahkan undang-undang omnibus terkait pelonggaran pajak. Hal itu, menurut Kantor Pendanaan Kongres AS (CBO), akan menambah 3,4 triliun dollar AS ke dalam total utang nasional per 2034.
Georgieva memperingatkan, pengelolaan keuangan negara secara cermat tidak bisa dihindari. Di sejumlah negara, masyarakat, terutama generasi muda, telah menunjukkan kemarahan mereka terhadap sikap pemerintah yang dinilai abai.
”Di Lima, Rabat, Paris, Nairobi, Kathmandu, dan Jakarta semua sama. Anak-anak muda kecewa dan membawa kemarahan mereka ke jalan. Mereka melihat, pendapatan mereka jauh lebih rendah dibandingkan orangtua mereka,” kata Georgieva.
Di AS, pekan depan, Mahkamah Agung akan mulai bersidang. Perkaranya untuk menentukan apakah Trump selaku kepala negara memang berwenang secara sepihak menjatuhkan tarif impor balasan dengan berlandaskan Undang-Undang Kedaruratan Ekonomi.
Dampak tarif Trump mulai terlihat di industri otomotif Eropa. Menurut laporan harian The Telegraph, per Rabu (9/10/2025), industri otomotif benua itu kehilangan nilai 6 miliar poundsterling. Penyebabnya, mereka harus membayar lebih tinggi untuk baja sehingga ongkos produksi bertambah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/11/be09924a65db23d3fc6bcd1300e6c0f7-20250711TOK17.jpg)
Komisi Eropa mengusulkan meningkatkan pajak baja menjadi 50 persen. Tujuannya untuk membantu para produsen baja.
”Kami paham ini untuk membantu industri baja, tetapi ini tidak adil bagi sektor otomotif,” kata Direktur Asosiasi Pembuat Otomobil Eropa (ACEA) Sigrid de Vries.
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dalam laporan yang diluncurkan pada Selasa (7/10/2025), mengatakan, perdagangan internasional akan melambat per 2026. Awalnya, WTO memperkirakan pertumbuhan perdagangan dunia naik 1,8 persen. Mereka lalu meralat angkanya menjadi hanya 0,5 persen. (AP/REUTERS)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto