Ke depan harga emas diperkirakan masih akan terus berlanjut seiring meningkatnya permintaan, baik oleh bank sentral maupun para investor.
13 Nov 2025 07:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS – Tren kenaikan harga emas diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun depan seiring dengan permintaannya yang terus meningkat. Sebagian besar masyarakat Indonesia pun tertarik untuk membeli emas dalam setahun ke depan sebagai instrumen investasi jangka panjang.
Sejak Februari 2024, harga emas terus merangkak dan mencetak rekor tertingginya. Pada perdagangan Rabu (12/11/2025), harga emas berada di kisaran 4.125 dollar AS per troy ons atau naik sekitar 60 persen secara tahunan.
Sejalan dengan perkembangan itu, harga emas di dalam negeri pun ikut melonjak. Setiap satu gram emas batangan Antam, termasuk dengan pajak penghasilan final 0,25 persen, kini dihargai senilai Rp 2,37 juta atau naik 59,71 secara tahunan.
Head of Asia Pacific (ex China) and Global Head of Central Banks di World Gold Council Shaokai Fan menjelaskan, lonjakan harga emas selama setahun terakhir dipicu oleh ketidakpastian global akibat kondisi geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat (AS), dan penurunan suku bunga kebijakan global.
”Memang harga emas akan cenderung meningkat ketika muncul risiko atau peristiwa tertentu. Jangka waktu kenaikan itu akan sangat bergantung dari lamanya risiko itu terjadi,” katanya dalam media briefing, di Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/12/b50fd49eb3626d2d5df135aa43c00501-IMG_20251112_143746_1_.jpg)
Berkaca dari sejarah, lonjakan harga emas memang selalu dipicu oleh krisis, salah satunya pada periode 2010-2011, setelah krisis finansial pada 2008. Namun, pada 2011, harga emas berbalik anjok sekitar 45 persen setelah mencatatkan rekor tertingginya.
Menurut Shaokai, kenaikan harga emas dalam setahun terakhir bukan dipicu oleh krisis, melainkan oleh kondisi global yang tidak menentu. Dengan demikian, harga emas hingga 2026 setidaknya tidak akan turun signifikan.
Pasar tidak lagi merespons guncangan jangka pendek, melainkan kepercayaan yang hilang lebih dalam terhadap para pembuat kebijakan, mata uang, dan sistem keuangan itu sendiri.
Sebaliknya, tingginya permintaan emas, baik oleh bank sentral maupun para investor justru akan memperkuat harga emas. World Gold Council mencatat, rata-rata pembelian emas oleh bank sentral dalam tiga tahun terakhir mencapai 1.000 ton per tahun, naik dari sebelumnya 500 ton per tahun.
Di sisi lain, prospek pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) turut berdampak positif terhadap pergerakan harga emas ke depan. Apalagi, dalam waktu dekat, Presiden AS Donald Trump akan memilih Gubernur The Fed yang mendukung penurunan suku bunga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/03/5e8d2f0cf585bcaf59aa0742e19ae945-20251003_DMS_Harga_Emas_2025_2_mumed.png)
Sejalan dengan itu, jajak pendapat Reuters yang melibatkan 39 analis dan pedagang memperkirakan, rerata harga emas akan mencapai 3.400 dollar AS per troy ons pada 2025 dan berlanjut menjadi 4.275 dollar AS per troy ons pada 2026.
Sepanjang tahun ini, rerata harga emas telah mencapai 3.281 dollar AS per troy ons. Meski harga emas diperkirakan masih akan terus melonjak, para analis tersebut memperkirakan laju kenaikannya pada 2026 cenderung akan melambat.
”Pasar tidak lagi merespons guncangan jangka pendek, melainkan kepercayaan yang hilang lebih dalam terhadap para pembuat kebijakan, mata uang, dan sistem keuangan itu sendiri,” ujar David Russell dari GoldCore, dikutip dari Reuters, pada 27 Oktober 2025.
Dalam kesempatan yang sama, World Gold Council turut merilis laporan terkait analisis wawasan konsumen di Indonesia bertajuk ”Gold for the Nation: Strengthening the Financial Resilience of Indonesians”. Laporan ini dibuat berdasarkan hasil survei kepada 2.000 investor pada 12 Agustus-17 September 2025.
Survei tersebut menemukan, dua dari tiga orang Indonesia (67 persen) memiliki investasi emas dalam berbagai jenis produk, termasuk emas batangan dan koin, perhiasan emas, Exchange Traded Fund (ETF) emas, dan sekuritas emas lainnya.
Secara umum, investor memilih emas untuk investasi jangka panjang hingga 10 tahun sebagai upaya menyisihkan dana darurat, menyiapkan dana pensiun, serta membangun warisan bagi generasi mendatang. Emas juga dipilih lantaran kemudahan aksesnya dan bersifat likuid.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/12/8bd44058cd75fccf8a16e0b2194b6b21-IMG_20251112_141621.jpg)
Laporan tersebut juga menemukan, sebagian besar dari investor (85 persen) yang pernah berinvestasi emas menyatakan akan mempertimbangkan untuk berinvestasi kembali dalam setahun ke depan.
Shaokai menjelaskan, emas menjadi salah satu investasi andalan masyarakat Indonesia karena dianggap mudah untuk dibeli dan dijual, serta menunjukkan kinerja yang kuat dan konsisten di tengah ketidakpastian ekonomi.
”Investor Indonesia cenderung didorong oleh keinginan yang kuat akan stabilitas finansial. Mereka berharap investasi dapat membantu mereka merasa optimistis terhadap masa depan, terlindungi secara finansial, serta yakin telah mengambil keputusan yang tepat dan bijaksana,” katanya.
Di sisi lain, sebagian besar dari investor (62 persen) yang belum pernah berinvestasi emas memiliki minat untuk investasi emas, tetapi tidak tahu kapan akan mulai membelinya. Adapun mereka yang belum berinvestasi emas, antara lain karena tidak memiliki cukup dana dan merasa harga emas telah terlampau tinggi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/23/63846ab1-7da4-4a0d-b5e3-45fd793175b2_png.png)
Sejalan dengan tingginya minat masyarakat terhadap investasi emas, lembaga jasa keuangan kini memiliki landasan hukum yang kuat untuk mengembangkan kegiatan usaha bulion alias bank emas, melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 17 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Usaha Bulion.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan mengatakan, pemerintah bersama otoritas terkait dan pelaku industri emas akan mendorong inovasi dan mempercepat pengembangan ekosistem bulion.
”Sinergi lintas lembaga dan badan usaha, pengembangan produk sesuai amanat Undang-Undang-Undang P2SK (Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan), penyusunan roadmap jangka menengah oleh OJK, perluasan pasar dan kerja sama internasional, serta peningkatan literasi masyarakat menjadi pilar penting dalam membangun ekosistem bulion,” katanya dalam siaran pers.
Direktur Utama PT Pegadaian Damar Latri Setiawan menambahkan, pihaknya akan terus memperkuat ekosistem emas nasional, antara lain dengan menghubungkan layanan gadai tradisional hingga perdagangan emas digital.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/22/4c2261f3-2239-4ce1-ab94-d4d987b10ed8_jpg.jpg)
Hingga Oktober 2025, total kelolaan emas PT Pegadaian tercatat sebesar 129 ton. Ini seiring dengan upaya mengintegrasikan seluruh layanan, mulai dari transaksi tradisional hingga digital, terutama dengan hadirnya aplikasi Tring!
”Langkah ini kami ambil untuk memastikan bahwa emas yang tersimpan di masyarakat dapat lebih optimal tidak hanya sebagai investasi, tetapi juga sebagai sumber pembiayaan yang produktif,” kata Damar.
Di sisi lain, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) pada 10 November 2025 lalu telah mengantongi izin bulion jasa simpan emas. Dengan demikian, BSI memiliki tiga kegiatan usaha bulion, yakni Simpanan Emas, Perdagangan Emas, dan Penitipan Emas.
Pengembangan layanan bulion ini sejalan dengan ekosistem emas di BSI yang di dalamnya terdapat gadai dan cicil emas dengan pertumbuhan yang sangat pesat.
Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta menyampaikan, aktivitas bulion telah membuat investasi emas menjadi lebih terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Melalui aplikasi mobile BYOND by BSI, nasabah dapat memiliki emas mulai dari Rp 50.000 atau setara dengan 0,02 gram.
”Pengembangan layanan bulion ini sejalan dengan ekosistem emas di BSI yang di dalamnya terdapat gadai dan cicil emas dengan pertumbuhan yang sangat pesat,” ujarnya.
Per 30 September 2025, jumlah nasabah yang memiliki rekening emas di BSI tercatat telah mencapai 200.238 nasabah atau tumbuh 94,98 persen secara tahun kalender berjalan. Adapun penjualan emas melalui aplikasi BYOND by BSI sebesar 1,06 ton.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/26/932329fd-52c3-424f-8315-44efdbfa6b19_jpg.jpg)
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase