27.000 Hektar Sawah di Sumatera Kebanjiran, 385 Hektar Puso

Dari 27.000 hektar sawah yang terdampak banjir di tiga provinsi di Sumatera, seluas 385 hektar mengalami puso atau gagal panen.

01 Des 2025 19:40 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Hendriyo Widi

JAKARTA, KOMPAS — Sawah seluas 27.000 hektar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kebanjiran. Dari total luasan itu, 385 hektar sawah yang ditanami padi itu mengalami puso atau gagal panen.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi, Senin (1/12/2025), mengatakan, Kementan telah menerjunkan tim ke Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Hasil identifikasi sementara tim tersebut adalah terdapat 27.000 hektar sawah yang terdampak banjir di tiga provinsi tersebut.

”Dari total luasan itu, tanaman padi di sawah seluas 385 hektar mengalami puso. Sementara untuk jagung yang gagal dipanen seluas sekitar 200 hektar,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah yang digelar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) secara hibrida di Jakarta.

Suwandi juga memaparkan tentang peta daerah penghasil beras yang langganan banjir berdasarkan rerata kejadian banjir pada 2019-2023. Sejumlah daerah di Aceh, Sumut, dan Sumbar termasuk daerah yang rutin terdampak banjir.

Dalam kurun waktu lima tahun tersebut, total luas sawah yang terdampak banjir berkisar 163.559 hektar hingga 380.998 hektar. Sementara itu, tanaman padi yang mengalami puso akibat banjir berkisar 40.625 hektar hingga 85.915 hektar.

Quote

Dari total luasan itu, tanaman padi di sawah seluas 380 hektar mengalami puso. Sementara untuk jagung yang gagal dipanen seluas sekitar 200 hektar.

Infografik Dampak Bencana Alam di Sumatera Utara dan Aceh

Data itu, lanjut Suwandi, menjadi salah satu rujukan Kementan dalam penyusunan delapan strategi untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim ke depan. Pertama, pemetaan wilayah yang kerap mengalami banjir, kekeringan, dan serangan hama, serta memantau kondisi cuaca harian melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kedua, membentuk brigade sebagai langkah antisipasi, mitigasi, dan adaptasi terhadap berbagai dampak perubahan iklim. Ketiga dan keempat, memperkuat sistem irigasi dan pengolahan air, serta memperbaiki drainase yang rusak.

”Kelima, pemanfaatan benih yang tahan genangan atau yang mampu beradaptasi dengan iklim. Keenam, penanganan serangan hama. Adapun yang ketujuh dan kedelapan adalah memberikan penyuluhan bagi petani tentang adaptasi iklim dan bantuan benih,” katanya.

Selama ini, Aceh, Sumut, dan Sumber merupakan daerah produsen beras. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sepanjang 2025, potensi produksi beras di Aceh mencapai 1,01 juta ton atau meningkat 5,49 persen secara tahunan.

Potensi produksi beras di Sumut juga dipekirakan naik 24,34 persen secara tahunan menjadi 1,57 juta ton. Adapun Sumbar produksi berasnya diperkirakan sebanyak 791.676 ton atau naik 0,8 persen secara tahunan.

Sejumlah lokasi potensi panen padi pada November 2025-Januari 2026 berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Padi Amatan Oktober 2025.

Merujuk hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Amatan Oktober 2025, BPS menyebutkan masih ada potensi panen padi di ketiga provinsi itu pada November 2025-Januari 2026. Di Aceh, misalnya, potensi panen padi pada November 2025 dan Desember 2026 masing-masing seluas 26.020 hektar dan 18.670 hektar.

Di Sumut, potensi panen padi pada November 2025-Januari 2026 masing-masing seluas 24.480 hektar, 22.850 hektar, dan 48.370 hektar. Adapun Sumbar, panen padi pada Desember 2025 dan Januari 2026 diperkirakan masing-masing seluas 16.330 hektar dan 30.310 hektar.

Stok beras berkurang

Dalam rapat itu juga terungkap, stok beras di Bulog di tiga provinsi di Sumatera yang terdampak bencana mulai berkurang. Kemendagri meminta Badan Pangan Nasional (Bapanas) menambah stok beras tersebut. Selain itu, pasokan pangan di daerah-daerah yang terisolasi juga harus benar-benar diupayakan.

Direktur Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengemukakan, stok beras di sejumlah gudang Bulog di Aceh, Sumut, dan Sumbar berkurang. Hal itu terjadi lantaran stok beras itu telah disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak bencana.

Di Aceh, stok beras Bulog berkurang dari 97.416 ton menjadi 82.296 ton. Di Sumut, stok beras Bulog turun dari 43.636 ton menjadi 29.943 ton. Begitu pun dengan stok beras di Sumbar yang telah berkurang dari 9.530 ton menjadi 7.996 ton.

”Namun, secara nasional, stok beras kami masih banyak, yakni 3,79 juta ton. Untuk itu, Bulog akan menambah stok beras di Aceh, Sumut, dan Sumbar hingga dua kali lipat. Ini mengingat dampak bencananya meluas dan penanganannya butuh waktu lebih lama,” katanya.

Warga korban banjir mengangkut bahan makanan untuk stok di rumah maupun di tempat pengungsiannya di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang telah habis dijarah, Minggu (30/11/2025). Sejumlah yang memiliki loteng enggan mengungsi dan lebih memeilih untuk tinggal. Hingga hari keenam banjir melanda kota tersebut, bantuan yang diterima oleh warga masih minim

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengungkapkan, Kementerian Dalam Negeri telah meminta setiap daerah terdampak bencana berkoordinasi dengan Bapanas dan Bulog. Salah satunya guna memastikan ketersediaan pasokan bahan pangan bagi masyarakat.

Hal itu juga berlaku bagi daerah-daerah yang terisolasi akibat dampak bencana hidrometeorologis. Ini agar tidak terjadi lagi penjarahan minimarket dan gudang Bulog (di Tapanuli Tengah, Sumut, dan Pidie, Aceh) akibat daerah tersebut terisolasi.

Kemendagri, lanjut Tito, juga telah meminta Bapanas untuk menambah stok beras Bulog di tiga provinsi terdampak bencana. Penambahan itu terutama untuk daerah-daerah terisolasi di Lhokseumawe, Aceh Utara, dan Bireuen di Aceh.

Akses distribusi ke tiga daerah tersebut putus lantaran ada jembatan dan jalan yang rusak akibat banjir. Saat ini, pemerintah tengah mencari cara untuk memasok tambahan beras bagi ketiga kabupaten itu dari Medan atau Riau.

”Sembari itu, sisa beras Bulog di Lhokseumawe yang sebanyak 28.000 ton bisa disalurkan secara gratis kepada masyarakat di tiga kabupaten itu. Stok itu masih cukup dan nantinya bakal ditambah lagi,” kata Tito.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto