75 Tahun Hubungan Denmark-Indonesia, dari Diplomasi Bulu Tangkis hingga Ketahanan Pangan

Hubungan Denmark-Indonesia telah terjalin sejak era Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten. Kini, landasan hubungan itu bukan soal ”tangan di atas dan tangan di bawah”.

18 Feb 2025 12:19 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

Denmark dan Indonesia tahun ini merayakan 75 tahun hubungan bilateral. Kedutaan Besar Denmark di Jakarta memilih cara yang unik. Bukannya menyelenggarakan resepsi di aula hotel berbintang, mereka memilih kegiatan yang sama-sama digandrungi masyarakat kedua negara, yaitu bulu tangkis.

Hall Bulu Tangkis di GBK Arena, Jakarta, Sabtu (15/2/2025), ramai. Bukan oleh atlet profesional, melainkan para atlet dadakan. Mereka adalah para diplomat dari Kedutaan Besar Denmark di Indonesia, para pegawai dari sejumlah kementerian/lembaga, pegawai perusahaan Denmark di Indonesia, dan pegawai lembaga swadaya masyarakat.

”Secara total ada 230 peserta acara dan yang bertanding bulu tangkis ada 64 pemain,” kata Sten Frimodt Nielsen, Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN), Timor Leste, dan Papua Niugini.

Hadir mewakili Pemerintah Indonesia adalah Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Umar Hadi. Bersama Nielsen, ia melakukan servis kok sebagai pertanda acara dimulai.

Setelah itu, ada pemutaran video ucapan salam dan selamat bertanding dari bintang bulu tangkis Denmark, Viktor Axelsen, dan kelompok musik asal Denmark, Michael Learns To Rock, yang masih populer di Indonesia.

Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Timor Leste, Papua Niugini, dan ASEAN, Sten Frimodt Nielsen (depan) memberi ucapan selamat kepada para pemenang pertandingan bulutangkis di Jakarta, Sabtu (15/2/2025). Acara ini adalah perayaan 75 tahun hubungan Denmark-Indonesia.

Pertandingan dimulai dengan kategori tunggal putri dan putra serta ganda campuran. Pemenang pertama dan kedua diberi hadiah menginap semalam (staycation) di dua hotel bintang lima di Jakarta. Hadiah ini turut diharapkan para diplomat Denmark, tetapi tidak mereka peroleh.

Sejak era Sultan Banten

Denmark dan Indonesia secara formal memang baru memulai hubungan sejak tahun 1950. Akan tetapi, sejatinya, hubungan Nusantara dengan kerajaan di Skandinavia itu pertama tercetus pada zaman Sultan Ageng Tirtayasa yang berkuasa di Banten pada periode 1651-1683.

Ia bersurat kepada Raja Denmark Frederik III (1648-1670) dan kemudian putranya, Raja Christian V (1670-1699). Melalui surat-suratnya, Tirtayasa menyatakan minat Banten membuka hubungan perniagaan dengan Denmark.

Quote

Melalui surat-suratnya, Sultan Ageng Tirtayasa menyatakan minat Banten membuka hubungan perniagaan dengan Kerajaan Denmark.

Pada abad ke-19, pengusaha Denmark, Mads Johansen Lange, menapakkan kaki di Nusantara. Ia membuka jalur perdagangan lebih lanjut di antara kedua bangsa. Lange tinggal di Bali hingga akhir hayatnya tahun 1856. Bagi Denmark, ia adalah simbol diplomasi Denmark dengan Nusantara dan kini Indonesia.

Nielsen menjelaskan, pada awal hubungan formal Indonesia-Denmark pada 1950, Indonesia masih negara baru merdeka. Sifat hubungannya masih klasik, yaitu berupa pemberian bantuan ekonomi dan pembangunan dari Denmark.

”Hubungan ini terus berkembang dan menjadi dewasa. Sekarang, Indonesia-Denmark adalah kemitraan penuh dan setara,” kata Nielsen.

Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Timor Leste, Papua Niugini, dan ASEAN, Sten Frimodt Nielsen (depan) mengalungkan medali kepada salah satu pemenang pertandingan bulutangkis di Jakarta, Sabtu (15/2/2025). Acara ini adalah perayaan 75 tahun hubungan Denmark-Indonesia.

Warna lain diplomasi

Nielsen mengatakan, hubungan kedua negara juga merambah warna yang berbeda. Landasannya tidak lagi tangan di atas dan tangan di bawah, melainkan kerja sama sesuai kebutuhan spesifik yang dikembangkan melalui kemitraan. Intinya, hubungan bukan lagi soal bagi-bagi uang.

”Ini untuk kebaikan bersama. Indonesia dan Denmark membuat rencana aksi periode lima tahun. Rencana sebelumnya sudah dilaksanakan per 2024, kita sekarang sedang merumuskan untuk lima tahun berikutnya,” ujar Nielsen.

Bidang-bidang yang menjadi kerja sama antara lain pangan dan pertanian, pelestarian lingkungan, transisi energi, perlindungan hak cipta dan kekayaan intelektual, maritim, dan transportasi. Di kedutaan, ada pakar-pakar teknis Denmark yang berhubungan langsung dengan kementerian/lembaga terkait. Mereka mengembangkan program bersama-sama.

Bidang pangan dan perhatian memperoleh porsi besar, terutama karena Indonesia kini menggencarkan program makan bergizi gratis untuk murid-murid sekolah dan ibu hamil. Pendekatan yang diambil Denmark adalah bukan mengekspor barang, melainkan berbagi ilmu dan keterampilan.

”Denmark negara kecil, kami tidak bisa main ekspor dalam jumlah besar. Tetapi, kami punya ilmu pengelolaan pertanian secara efisien dengan produksi yang besar dan bermutu,” kata Nielsen.

Duta Besar Denmark untuk Indonesia, ASEAN, Timor Leste, dan Papua Niugini Sten Frimodt Nielsen (kanan) mengunjunginPT PAL di Surabaya, Jawa Timur pada 20 Juni 2024. Ia didampingi SEVP TM PT PAL Satriyo Bintoro.

Nielsen mencontohkan, produksi susu seekor sapi perah per hari di Denmark bisa 40 kali lebih tinggi dibandingkan sapi di Indonesia. Kuncinya bukan di jenis sapi, melainkan di cara perawatan hewan, pengelolaan peternakan, dan teknologi yang membantu produktivitas.

Berdasarkan kajian Kedutaan Besar Denmark, Indonesia memiliki masalah besar dengan sampah makanan. Ini bukan sampah makanan setelah dimasak, melainkan hasil produksi pertanian dan peternakan yang rusak, busuk, ataupun basi di dalam setiap proses logistiknya.

Setiap kali hasil panen dari lahan pertanian diangkut ke gudang pengepul pasti ada yang rusak. Serupa dengan ketika hasil panen dibawa dari gudang menuju pasar induk. Demikian seterusnya.

Risiko berkurangnya produk itu bisa mencapai 20 persen dari jumlah semula. Jika banyak produk sia-sia, ketahanan pangan tidak akan tercapai.

”Sebelum produk pertanian sampai di tangan konsumen, banyak sekali yang mubazir. Ini semua bisa dicegah dengan sistem hulu ke hilir yang baik. Di sini Denmark membantu. Kami berkolaborasi dengan kementerian/lembaga dan organisasi terkait ketahanan pangan dan produksi,” kata Nielsen.

Demikian pula di bidang energi terbarukan. Ada pakar-pakar dari Denmark yang bekerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara. Mereka berkolaborasi membuat permodelan sistem kelistrikan Indonesia menuju peralihan ke energi terbarukan.

Denmark sudah menggunakan energi terbarukan sebagai sumber energi. Di sini, mereka bisa berbagi pengalaman dan teknik dari aneka kegagalan dan kesuksesan sehingga bisa membantu membuat permodelan yang sesuai dengan kebutuhan nasional Indonesia.

Multilateralisme

Kerja sama lain yang didorong Denmark dan Indonesia adalah multilateralisme. Nielsen mengatakan, Denmark mengapresiasi komitmen Indonesia mengutamakan diplomasi melalui forum-forum multilateralisme untuk menyelesaikan berbagai persoalan global.

Menurut mantan hakim pengadilan Uni Eropa ini, sikap teguh pada multilateralisme adalah kunci penegakan peraturan internasional. Justru, dengan dunia yang semakin menunjukkan kecondongan polarisasi, multilateralisme adalah penjaga keseimbangan.

”Pada saat yang sama, Denmark memahami bahwa multilateralisme di kawasan Asia Tenggara berbeda dengan pola di Uni Eropa. Kita terus saling belajar agar komunikasi dan kerja sama kedua kawasan meningkat,” ujar Nielsen.

Duta Besar Denmark untuk Indonesia, ASEAN, Timor Leste, dan Papua Niugini Sten Fremodt Nielsen (kanan) menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden Terpilih Prabowo Subianto dari Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen pada Juni 2024 di Jakarta.

Belum ada pembicaraan langsung Denmark-Indonesia mengenai penyelesaian konflik di Palestina dan Ukraina. Akan tetapi, Denmark selalu mendukung solusi dua negara di Palestina. Adapun Indonesia mendukung solusi perang Ukraina yang berkeadilan.

”Konflik terus menunjukkan kepada kita semua bahwa interaksi masyarakat global sangat penting di dalam membangun saling memercayai, menghargai, dan menghormati. Multilateralisme menjaga keeratan itu,” kata Nielsen.


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari