75 Tahun Hubungan Diplomatik RI-China, Momentum Perkuat Kemitraan Masa Depan

Peringatan 75 tahun sering disebutkan sebagai suatu tonggak dari usia, kerja sama, dan kemitraan. Demikian pula dalam hubungan diplomatik Indonesia-China.

24 Apr 2025 13:30 WIB · Opini

Oleh Djauhari Oratmangun

Tujuh puluh lima tahun lalu, tepatnya 13 April 1950, menjadi momentum yang bersejarah dalam hubungan bilateral Indonesia-China. Di tanggal tersebutlah secara resmi Indonesia dan China membuka hubungan diplomatik.

Peringatan 75 tahun sering disebutkan sebagai suatu tonggak (milestone) dari usia, kerja sama, dan kemitraan. Demikian juga dalam perayaan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-China, banyak catatan capaian penting yang telah diraih bersama.

Komitmen kemitraan strategis di tahun 2005 terus diperkuat dengan kesepakatan untuk membentuk kemitraan strategis komprehensif di 2013.

Pada November 2024, dalam joint statement yang dikeluarkan saat kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Beijing, kedua pemimpin negara tersebut berkomitmen untuk terus memajukan kemitraan strategis komprehensif.

Pilar kemitraan

Salah satu upaya pemajuan ini dengan menambah satu pilar kemitraan, yaitu pilar keamanan, memperkuat empat pilar sebelumnya, yaitu politik, ekonomi, kemaritiman, dan people-to-people.

China mitra perdagangan terbesar Indonesia. Tahun 2024, dari data Kepabeanan China, total perdagangan mencapai hampir 150 miliar dollar AS. Kementerian Perdagangan Indonesia mencatat ekspor Indonesia ke China pada Januari 2025 mencapai lebih dari 4 miliar dollar AS, atau seperlima lebih dari total ekspor Indonesia sepanjang Januari 2025.

Dalam sepuluh tahun terakhir, Indonesia dan China terus memperkuat kerja sama perdagangan yang seimbang, inklusif, dan berkelanjutan.

Ilustrasi

Di bidang investasi, China dalam lima tahun terakhir merupakan salah satu dari dua atau tiga besar mitra investasi Indonesia. Realisasi investasi China tahun lalu mencapai 8,1 miliar dollar AS dengan berbagai realisasi proyek strategis di Indonesia.

Indonesia-China juga banyak bekerja sama di berbagai proyek strategis. Termasuk di sini proyek strategis di bawah sinergi Global Maritime Fulcrum (GMF) dengan The Belt and Road Initiative, dengan pembangunan empat koridor ekonomi.

Seperti di Sumatera Utara untuk koridor ekonomi dengan mitra ASEAN; di Kalimantan untuk hub energi dan mineral, seperti berbagai kerja sama di bidang hilirisasi; di Bali untuk hub kreatif dan digital; dan di Sulawesi Utara untuk hub kawasan Pasifik.

Pada Oktober 2023, kereta cepat pertama di Asia Tenggara, Whoosh, juga resmi beroperasi menghubungkan Jakarta-Bandung, menjadi salah satu bentuk kemitraan konkret Indonesia-China.

Tahun 2021, Indonesia-China juga meluncurkan kerangka kerja sama Two Countries Twin Park (TCTP) yang menghubungkan kawasan industri di Batang, Bintan, dan Semarang dengan Yuanhong Investment Zone di Provinsi Fujian.

Memfokuskan, antara lain, pada pembangunan kawasan industri, perikanan, dan rantai pasok (supply chain); TCTP berpeluang untuk memperkuat koneksi industri dan kerja sama rantai pasok untuk produk-produk unggulan kedua negara yang kuat di kawasan.

Kemitraan masa depan

Saat memulai hubungan diplomatik 75 tahun lalu, di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno dan Ketua Partai Komunis China Mao Zedong, Indonesia dan China mengawali komitmen hubungan bilateral pada masa banyak negara baru berhasil keluar dari belenggu kolonialisme. Indonesia saat itu merupakan negara merdeka baru, yang masih dalam proses konsolidasi dan upaya untuk memulai pembangunannya. Demikian juga China.

Dalam perjalanan selama 75 tahun hubungan diplomatik, banyak pasang surut, tetapi Indonesia-China telah berkomitmen saling mendukung visi pembangunan masing-masing: Indonesia untuk mencapai target ”Indonesia Emas” di 2045, sementara China untuk mencapai ”the Great Rejuvenation of the Chinese Nation” di 2049.

Kemitraan Strategis Komprehensif di berbagai bidang akan diperkuat untuk mendukung capaian pembangunan sesuai visi dan karakter masing-masing tersebut.

Dunia terus bergulir, banyak perubahan terjadi. Dunia saat ini tengah mengalami dinamika geopolitik, multilateralisme yang semakin tergerus, tensi perang dagang, potensi konflik yang mengemuka dan kompetisi teknologi yang menguat.

Dengan isu perubahan iklim yang juga menjadi ancaman nyata global, ketidakpastian semakin menjadi hal yang pasti.

Tentunya berbagai dinamika itu akan turut berimbas pada upaya pencapaian target pembangunan kedua negara dan akan menguji komitmen implementasi kemitraan strategis komprehensif kedua negara.

Namun, saya meyakini hal tersebut tidak akan mengubah komitmen dan arah kerja sama dan kemitraan strategis komprehensif Indonesia-China yang berlandaskan pada saling percaya dan menghargai, mendukung pembangunan yang inklusif, memperkuat solidaritas dan kerja sama, mendorong keadilan dan kesetaraan, serta global governance.

Indonesia dan China dapat terus memfokuskan pada kerja sama yang memberikan manfaat konkret bagi masyarakat di kedua negara.

Mengutip kembali bagian dari pernyataan bersama kedua pemimpin pada November tahun lalu, Indonesia dan China akan memanfaatkan momentum peringatan 75 tahun hubungan diplomatik untuk memperkuat pertukaran antarmasyarakat, memperdalam pemahaman, mendorong peran, partisipasi dan juga kemanfaatan kemitraan Indonesia-China.

Karena itu, Indonesia dan China dapat secara kreatif memfokuskan pada kerja sama yang memberikan manfaat nyata dengan partisipasi dan sinergi dari seluruh komponen dan pemangku kepentingan.

Kerja sama juga bisa terus diarahkan untuk mendorong pembangunan berkelanjutan, menjamin keamanan pangan dan energi, serta memastikan kesejahteraan masyarakat.

Fokus kerja sama

Ke depan, terdapat lima fokus kerja sama yang dapat terus dikembangkan oleh Indonesia-China untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara. Berbagai kerja sama ini tidak hanya sejalan dengan keprihatinan global, tetapi juga sejalan dengan prioritas kedua negara.

Pertama, transisi energi hijau. Indonesia dan China dapat terus melanjutkan kerja sama pengembangan ekosistem baterai dan EV. Selain itu, dengan kapasitas China di bidang teknologi hijau, Indonesia dan China dapat terus bersinergi dalam mendukung pengembangan energi terbarukan dan juga infrastruktur hijau lainnya.

Pengembangan sektor industri manufaktur dan hilirisasi di sektor-sektor lain, termasuk pertanian dan perikanan, juga dapat mengambil manfaat dari pesatnya teknologi industri yang ramah lingkungan.

Kedua, keamanan pangan. Isu keamanan pangan diperkirakan akan terus menjadi tantangan global. Karena itu, kerja sama mendukung kepastian keamanan pangan menjadi hal yang strategis. Indonesia dan China sama-sama negara yang kaya akan sumber alam melimpah yang dapat mendukung keamanan pangan.

Pengolahan secara berkelanjutan dan teknologi tinggi tepat guna dapat membantu mencapai target ini.

Ketiga, kerja sama teknologi dan pengembangan SDM yang mumpuni. Kerja sama yang mendukung akses terhadap teknologi, pendidikan yang berkualitas, vokasi dan pelatihan yang tepat guna dapat terus didorong dan dikembangkan.

Selama 75 tahun hubungan diplomatik, kedua negara telah memiliki berbagai mekanisme untuk mendukung kerja sama tersebut.

Keempat, kerja sama kesehatan yang menjadi sangat relevan pasca-pandemi. Saat ini China juga telah menjadi negara penting di sektor biofarmasi, vaksin dan alat kesehatan. Sementara kerja sama kesehatan kedua negara telah berlangsung erat dalam penanggulangan Covid-19.

Terdapat komitmen kuat kedua negara untuk kerja sama peningkatan kualitas layanan kesehatan, pelatihan tenaga kerja medis dan sister hospital serta peningkatan investasi di sektor farmasi, bioteknologi dan alat kesehatan.

Kelima, kerja sama teknologi digital, ekonomi kreatif dan tourism economy. Transformasi digital telah menjadi fokus penting kedua negara.

Ke depan, penguatan kerja sama perlu dilakukan untuk area penting seperti e-commerce, artificial intelligence (AI), blockchain, big data, IoT, dan robotik. Selain itu, masih terdapat potensi besar untuk penguatan kerja sama ekonomi kreatif dan tourism economy di antara kedua negara.

Di tengah berbagai ketidakpastian, satu hal yang pasti adalah koneksi antarmasyarakat dan budaya akan terus terjalin. Di balik angka-angka dan statistik capaian kerja sama, terdapat fondasi hubungan masyarakat dan antarpemimpin yang kuat. Karena itu, penting untuk terus memperkokohnya.

Hubungan antarmasyarakat kedua budaya yang telah dimulai sejak berabad-abad lalu menjadi fondasi jembatan panjang koneksi kedua bangsa.

Jembatan yang akan terus kokoh hingga puluhan dan bahkan ratusan tahun ke depan, di tengah berbagai perubahan zaman.

Sebagai sesama aktor penting Global South, kemitraan masa depan Indonesia dan China juga dapat terus mendorong kerja sama regional dan global, dialog yang konstruktif, mendorong kembali fair and just global governance, dan upaya pencapaian target-target pembangunan berkelanjutan.

Tujuh puluh lima tahun bukan hanya waktu yang panjang, melainkan juga merupakan momentum dan milestone penting untuk menuju kemitraan jangka panjang dan bervisi masa depan yang akan berkontribusi pada pencapaian target pembangunan kedua negara.

Djauhari Oratmangun, Duta Besar RI untuk China Merangkap Mongolia


Kerabat Kerja

Penulis:

Djauhari Oratmangun
 | 

Editor:

Sri Hartati Samhadi, Neli Triana
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul