Hubungan Jakarta-Washington tak selalu mulus, tetapi kedua belah pihak berkomitmen memperkuat di level masyarakat.
14 Des 2024 21:35 WIB · Internasional
JAKARTA, KOMPAS — Indonesia dan Amerika Serikat merayakan puncak peringatan 75 tahun hubungan diplomatik. Kedua negara berkomitmen terus mencari berbagai kesempatan untuk menanggulangi tantangan dan meningkatkan kemakmuran.
Puncak acara di Indonesia diadakan di Jakarta, Sabtu (14/12/2024). Puncak acara di AS diselenggarakan di Washington DC pada September 2024. ”Masa depan tidak akan ada yang bisa menjamin, tetapi kita harus optimistis,” kata Duta Besar AS untuk Indonesia Kamala Shirin Lakhdir.
Ia menjelaskan, inti dari hubungan diplomatik Jakarta-Washington bukan hanya pada tataran pemerintah, justru pada tataran masyarakat akar rumput dan pihak swasta. Indonesia tetap merupakan negara yang diminati oleh berbagai perusahaan AS sebagai tempat berinvestasi. Sejauh ini, AS termasuk ke dalam lima besar sumber penanaman modal asing langsung di Indonesia.
”Perusahaan-perusahaan AS memiliki misi pengembangan sumber daya manusia, inovasi teknologi, dan industri serta kapasitas manusia yang bertaraf tinggi. Harapannya, iklim bisnis di Indonesia semakin kuat dan ramah investor,” kata Lakhdir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/14/f0e2eaf22398eaecebec8980c8cf5670-20241214_182716.jpg)
Sejumlah sektor yang menjadi fokus kedua negara ialah akal imitasi (AI), kesehatan, bioteknologi, telekomunikasi, dan pengembangan pusat data canggih. Lakhdir mengatakan, hubungan kedua negara menjalani naik dan turun. Akan tetapi, dari aspek komunikasi antarmasyarakat terus berjalan dan berkembang.
Sementara itu, Wakil Dubes AS Heather Merritt menjelaskan, tema dari perayaan 75 tahun ini adalah ”Keragaman, Demokrasi, dan Kemakmuran”. Pada dasarnya, Indonesia dan AS sama-sama bangsa yang terbentuk dari menerima serta merayakan keberagaman masyarakatnya.
”Di AS, semboyan kami adalah E Pluribus Unum. Di Indonesia namanya Bhinneka Tunggal Ika. Artinya sama. Kita berbeda-beda, tetapi satu,” ujar Merritt saat membuka acara perayaan.
Menurut Merritt, perdagangan, pendidikan, dan pertukaran antara Indonesia dan AS terus meningkat. Kerja sama yang digagas untuk masa depan ialah kesiapan menghadapi bahaya global, antara lain krisis iklim dan risiko penyakit berskala besar. Konteksnya juga tidak hanya pada pemerintah, tetapi juga pada gerakan akar rumput.
Turut hadir di dalam acara Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Umar Hadi. Ia mengatakan, hubungan ke depan dengan AS memang memiliki tantangan.
Presiden terpilih AS Donald Trump yang akan dilantik per 20 Januari 2025 telah mengumumkan hendak menjatuhkan tarif tambahan kepada semua produk impor. Produk dari Indonesia juga berisiko terimbas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/14/b04dbaf9e0517c560cda6d67a4475e0b-20241214_164320.jpg)
Namun, Umar mengatakan, selama ini, serumit apa pun hubungan Jakarta-Washington, selalu ada celah kesempatan yang bisa diambil. Itu semua tergantung dengan kepintaran Indonesia bergerak dan mengambil keputusan.
Dari sisi Indonesia, terdapat kelebihan berada di kawasan Asia Tenggara yang aman dan stabil dari segi geopolitik. Perekonomian dan pembangunan terus bertumbuh, meskipun tidak sepesat yang diharapkan. Masyarakat Indonesia juga dinilai memiliki daya tahan kuat. Ini menjadi daya tarik untuk meningkatkan kerja sama dengan AS.
”Patut dipahami pula Indonesia tidak pernah menggantungkan harapan hanya kepada satu negara. Kita selalu mengembangkan dan memperkuat jaringan global. Tugas Indonesia ialah meningkatkan kemampuan meragamkan pasar,” tutur Umar.
Rangkaian perayaan 75 tahun AS-Indonesia berupa seminar, diskusi publik, pemutaran film, dan acara kebudayaan. Semua dilakukan paralel di Indonesia dan AS. Kedutaan besar dan konsulat jenderal kedua negara bergerak dengan aktif.
Puncak acara di Jakarta menghadirkan konser oleh kelompok musik Maliq n d'Essentials serta Diskoria. Juga ada pameran berbagai hasil kerja sama kedua negara di sektor kelembagaan ataupun bisnis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/14/7728e62cd733e26558e357c670752360-20241214_165700_0_.jpg)
Lakdhir mengatakan, fokus acara adalah para pemuda. Oleh sebab itu, juga ada acara bincang-bincang yang menghadirkan kakak-beradik pembuat konten media sosial, yaitu Jovial dan Andivo Da Lopez.
Keduanya mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan budaya untuk menjadi bahan baku karya kreatif. Akan tetapi, karya-karya buatan pemuda Nusantara tujuan akhirnya baru untuk berjualan dan menghasilkan uang. Padahal, sejatinya berjualan adalah level terendah di dalam berkarya.
”Satu hal yang bisa kita pelajari dari kreativitas di AS ialah tidak hanya untuk berkreasi dan dijual saja, tetapi karya sebagai kritik sosial. Ini yang memberi kualitas dan kelanggengan pada karya,” kata Jovial.
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase