Abu Mohammed al-Golani pernah dipenjara AS di Irak, lalu memimpin kelompok militan di Suriah. Kini dia jadi penentu masa depan Suriah.
09 Des 2024 18:01 WIB · Internasional
Abu Mohammed al-Golani, pemimpin kelompok oposisi yang menumbangkan Presiden Suriah Bashar al-Assad, saat ini sedang naik daun. Ia mulai tampil dan semakin sering terlihat di depan publik. Minggu (8/12/2024), hari tumbangnya kekuasaan Bashar al-Assad, ia muncul di Masjid Umayyah, landmark Damaskus, ibu kota Suriah.
Video kehadiran Golani di Masjid Umayyah beredar luas secara daring. Ia juga mengganti nama perangnya dengan nama lahirnya, yakni Ahmad al-Sharaa.
”Kemenangan ini, wahai Saudara-saudaraku, bersejarah bagi kawasan ini,” ujar Golani dalam pidatonya di Masjid Umayyah.
”Ini juga kemenangan keseluruhan negara Islam,” lanjut Golani yang saat itu memakai seragam militer. ”Hari ini, Suriah sedang dibersihkan.”
Penampilan Golani (42) di depan publik itu berbeda dari kebiasaannya selama bertahun-tahun: menjauh dari publik. Meski memimpin faksi oposisi, ia jarang memberikan kesempatan wawancara kepada media.
Ketika pertama kali diwawancara media tahun 2014 oleh televisi Al Jazeera, ia menutupi wajahnya dengan syal warna gelap. Kala itu, ia menyatakan keinginannya melihat Suriah menerapkan hukum Islam dan jelas mengungkapkan tidak ada tempat bagi kelompok-kelompok minoritas Alawiyah, Syiah, Druze, dan Kristen.
Golani baru memperlihatkan wajahnya di depan publik untuk pertama kali pada 2016. Itu saat ia mengumumkan perubahan nama faksi yang dipimpinnya menjadi Jabhat Fateh al-Sham (Front Penaklukan Suriah) dan pemutusan hubungan dengan Al Qaeda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/09/07aa7f3a557b3cf55a56dbcba805db02-Syria_Insurgency_Leader_125920495.jpg)
Pada 2021, Golani mulai berubah. Saat diwawancara untuk program FRONTLINE televisi AS, PBS, wajahnya menghadap kamera. Ia memakai baju dan jaket. Dia berbicara dengan lembut dan berusaha meyakinkan bahwa kelompoknya tidak menjadi ancaman bagi dunia Barat. Ia juga menyebut sanksi yang dijatuhkan kepada Suriah adalah tidak adil.
”Betul bahwa kami mengkritisi kebijakan Barat. Namun, bahwa kami memerangi Amerika Serikat dan Barat dari Suriah adalah tidak benar. Kami tidak pernah mengatakan mau berperang melawan Barat. Kami juga hanya beroperasi di dalam Suriah,” kata Golani ketika itu.
Pada Rabu (4/12/2024), empat hari sebelum pasukannya menguasai ibu kota Damaskus, Golani dengan berbaju dan bercelana khaki berkunjung ke benteng Aleppo. Dari atas kendaraan warna putih, ia melambaikan tangan dan bergerak menyibak kerumunan warga.
Jumat (6/12/2024), Golani memberikan wawancara eksklusif kepada CNN. Ia, antara lain, menegaskan tujuan serangan HTS adalah untuk menggulingkan Assad.
Sejak menyatakan putus hubungan dengan Al Qaeda pada 2016, Golani berupaya menampilkan citra diri dan faksi yang dipimpinnya, Hayat Tahrin al-Sham (HTS), sebagai sosok dan kelompok yang lebih moderat. Ia juga berusaha meyakinkan publik Suriah bahwa HTS menerima keberagaman serta toleransi di masyarakat Suriah yang beragam.
Suriah adalah negeri multietnis dan multiagama yang sering dibuat bertikai satu sama lain oleh rezim keluarga Assad. Keterbelahan Suriah semakin parah dengan keberadaan faksi-faksi yang didukung Rusia, Iran, Amerika Serikat, Turki, dan bahkan juga Israel selama perang saudara.
Joshua Landis, ahli Suriah pada Pusat Timur Tengah Universitas Oklahoma, AS, mengatakan, Golani lebih cerdas daripada Assad. ”Dia merakyat, mampu mengubah citra diri, membuka hubungan baru dan meraih simpati kelompok minoritas,” kata Landis.
Aron Lund, pakar di lembaga kajian Century International, mengatakan, Golani dan HTS berusaha mengubah citra diri. Ia menyebut ada aspek pencitraan. Meski sudah berubah, kata Lund, masih ada sisi-sisi cara pandang garis keras pada Golani dan HTS.
”Ini bagian dari kehumasan, tetapi fakta bahwa mereka terlibat dalam semua upaya ini memperlihatkan mereka tidak sekaku sebelumnya. Gaya lama, seperti Al Qaeda dan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), tidak akan bisa melakukan hal seperti itu,” kata Lund.
Seperti dilansir Al Jazeera, Golani lahir di Riyadh, Arab Saudi, tahun 1982 dengan nama Ahmed Hussein al-Sharaa. Ia menggunakan nama perang (nom de guerre) Abu Mohammed al-Golani. Kata ”Golani” merujuk pada wilayah Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel sejak Perang Arab-Israel 1967.
Ayahnya seorang insinyur perminyakan. Keluarga Golani kembali ke Suriah pada 1989, bertempat tinggal di dekat Damaskus.
Tak banyak diketahui dari kehidupan Golani di Damaskus sebelum ia pindah ke Irak tahun 2003. Di Irak, ia bergabung dengan Al Qaeda di Irak (AQI), yang dipimpin Abu Musab al-Zarqawi, sebagai bagian dari perlawanan terhadap invasi AS di negara itu pada tahun yang sama.
Bersama Front al-Nusra, nama Golani mulai dikenal. Dia mengembangkan Front al-Nusra dari beranggotakan hanya enam orang menjadi 5.000 orang dalam setahun.
Pada 2006, Golani ditangkap pasukan AS di Irak dan ditahan selama lima tahun. Setelah bebas, ia diberi tugas mendirikan cabang Al Qaeda di Suriah, yang kemudian diberi nama Front al-Nusra. Ini terjadi pada Maret 2011 saat revolusi pecah di Suriah untuk melawan Assad, bersamaan gelombang Musim Semi Arab yang melanda Timur Tengah.
Bersama Front al-Nusra, nama Golani mulai dikenal. Dia menuturkan mengembangkan Front al-Nusra dari beranggotakan hanya enam orang menjadi 5.000 orang dalam setahun.
Front al-Nusra terlibat dalam rangkaian serangan bom bunuh diri dan sejumlah tindak kekerasan sehingga dikategorikan oleh sejumlah negara sebagai kelompok teroris.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/09/170e78f5625655dddc49cba6fbdb475b-FILES_SYRIA_CONFLICT_HTS_JOLANI_126027357.jpg)
Pada awal kiprah kembalinya di Suriah, Golani berkoordinasi dengan Abu Bakr al-Baghdadi, pemimpin kelompok ”Negara Islam di Irak”, yang masih di bawah Al Qaeda. Milisi pimpinan Baghdadi kemudian berubah menjadi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS).
Pada April 2013, Baghdadi mengumumkan putus hubungan dengan Al Qaeda dan menyatakan memperluas wilayah operasional ke Suriah. Baghdadi menahbiskan diri sebagai emir atau khalifah. Golani menolak berbaiat kepada Baghdadi dan memilih tetap setia kepada pemimpin Al Qaeda, Ayman al-Zawahiri.
Tak hanya memisahkan diri dari Baghdadi, Golani bersama Front al-Nusra bertempur melawan milisi NIIS dan milisi-milisi oposisi lainnya. Golani ditetapkan sebagai teroris oleh Amerika Serikat, demikian pula Hayat Tahrir al-Sham (HTS).
Hingga kini AS belum mencabut keputusan itu dan masih menyediakan hadiah 10 juta dollar AS bagi penangkapan Golani hidup atau mati.
Selama bartahun-tahun Golani mengonsolidasikan kekuasaan di Provinsi Idlib, Suriah barat laut Suriah yang berbatasan dengan Turki. Ia bermanuver di antara kelompok-kelompok oposisi ekstrem dan mengalahkan mereka satu per satu.
Golani juga berusaha memperbaiki citra dengan menjalankan roda pemerintahan de facto, ”Pemerintah Penyelamatan Suriah”. ”Pemerintahan” ini juga memberikan layanan pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan memiliki pengadilan sendiri serta mengelola anggaran dan distribusi bantuan.
Melalui ”Pemerintah Penyelamatan Suriah”, Golani berupaya mendapat kepercayaan internasional dan kelompok-kelompok minoritas di Suriah, seperti Sekte Alawiyyah, Kristen Suriah, dan Druze. Dia juga membangun relasi dengan berbagai suku dan kelompok di negaranya.
Seraya menjalin hubungan dengan beragam kelompok, dia meninggalkan gagasan ekstrem dan membuka komunikasi dengan media massa, serta berbicara soal pembangunan negara Suriah dan desentralisasi Suriah sesuai dengan wujud negerinya yang sangat majemuk.
”Suriah harus memiliki kelembagaan pemerintah yang tidak dikendalikan satu orang saja,” kata Sharaa kepada CNN, Jumat (6/12/2024), ketika ditanya kemungkinan HTS akan menjadi penguasa baru menggantikan Assad. ”Jangan menilai kami dari luarnya saja. Lihatlah tindakan kami kelak.”
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/09/6eb619220955b7a1c349609358c42e77-Syria_126038503.jpg)
Dalam rangkaian perang kilat dua pekan terakhir, HTS dan Golani kembali menyampaikan janji menjaga keberagaman Suriah.
Demi mempersatukan Suriah, HTS terus memperbaiki komunikasi lintas komunitas. Pemerintahan sementara HTS mengeluarkan maklumat untuk kelompok Alawiyyah, Kristiani, dan berbagai kelompok minoritas. Maklumat tersebut mengimbau warga Alawiyyah terlibat dalam masa depan Suriah. Disebutkan pula Suriah tidak mengenal sektarianisme.
Ketika bertemu komunitas Kristiani di selatan kota Aleppo, Golani mengatakan, mereka akan dilindungi nyawa dan harta bendanya. Warga Kristiani diminta tetap berada di rumah dan menghindari perang psikologi yang dilancarkan rezim Suriah. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Iwan Santosa, Muhammad Samsul HadiEditor:
Kris Mada, Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .