Ada Asa dari Atlet Muda di Arena Bulu Tangkis

Tahun 2025 bukan tahun yang begitu baik bagi bulu tangkis Indonesia. Meski demikian, ada pemain muda yang menanti diasah agar potensi mereka tak sekadar menjadi asa.

24 Des 2025 09:28 WIB · Olahraga

Humas PP PBSI

Oleh Yulia Sapthiani

Hasil berbeda didapat atlet-atlet bulu tangkis Indonesia pada dua ajang di pengujung tahun, SEA Games Thailand 2025 dan Final BWF World Tour di Hangzhou, China. Ada asa dari pemain muda untuk meneruskan jejak para senior meski masih butuh waktu untuk menempuh jalur terjal.

Dari ajang multicabang SEA Games—bulu tangkis dipertandingkan pada 7-14 Desember—Indonesia mendapatkan tiga emas, tiga perak, dan empat perunggu. Meskipun hanya menjadi persaingan di antara negara-negara Asia Tenggara, hasil tersebut bisa menjadi investasi bagi generasi muda atlet-atlet pelatnas Cipayung, Jakarta. Mereka mendapat pengalaman sebagai tulang punggung dalam kompetisi multicabang.

Emas didapat Alwi Farhan dari kategori perorangan tunggal putra. Atlet berusia 20 tahun ranking ke-17 dunia ini berstatus tunggal putra nomor satu pelatnas.

Alwi juga menjadi bagian dari tim yang meraih emas beregu putra. Di dalam tim ini, ada pula atlet berusia 18 tahun, Mohammad Zaki Ubaidillah, yang meraih perak tunggal putra. Adapun satu emas lainnya diperoleh ganda putra senior, Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani, yang berlatih di luar pelatnas.

Pebulu tangkis Indonesia Alwi Farhan berpelukan dengan rekan senegaranya Mohammad Zaki Ubaidillah usai partai final nomor tungal putra SEA Games Thailand 2025 di Gymnasium 4 Universitas Thammasat, Rangsit, Thailand, Minggu (14/12/2025). Alwi Farhan meraih medali emas usai mengalahkan Zaki dalam tiga gim 13-21, 21-8, 21-12. 

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
14-12-2025

Alwi, Zaki, dan Sabar/Reza menjadi bagian dari tim Indonesia yang sebagian besar berusia 18-22 tahun. Selain Alwi dan Zaki, peraih medali yang berada dalam rentang usia tersebut di antaranya Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu (perunggu ganda campuran), Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum (perunggu ganda putri), dan Meilysa Trias Puspitasari yang berpasangan dengan seniornya, Febriana Dwipuji Kusuma, sebagai peraih perak ganda putri.

Sisi positif dari perjalanan Alwi dan rekan-rekan mudanya di SEA Games yaitu bahwa mereka terlibat dalam persaingan yang tidak bisa dibilang mudah. Malaysia dan Thailand menurunkan pemain-pemain terbaik dengan pengalaman menjuarai turnamen BWF level tinggi, seperti Kejuaraan Dunia. Singapura juga memiliki juara dunia 2021, Loh Kean Yew, yang dikalahkan Zaki di perempat final.

Namun, tak bisa dimungkiri bahwa Jafar/Felisha dan Rachel/Febi masih kalah bersaing dengan atlet Malaysia dan Thailand yang lebih matang dalam turnamen level tinggi. Mereka kalah di semifinal.

Jafar/Felisha disingkirkan Dechapol Puavaranukroh/Supissara Paewsampran, pasangan Thailand dengan lima gelar juara BWF World Tour pada 2025. Rachel/Febi kalah dari finalis Kejuaraan Dunia, Pearly Tan/Thinaah Muralitharan (Malaysia), yang juga mengalahkan Febriana/Meilysa di final.

Jafar Hidayatullah mengembalikan serangan lawan saat melawan Goh Soon Huat/Lei Shevon Jemie (Malaysia). Jafar/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu memenangi pertandingan terakhir mereka dalam penyisihan Grup B ganda campuran turnamen Final BWF di Hangzhou, China, Jumat (19/12/2025).

Dalam Final BWF di Hangzhou, China, 17-21 Desember, rentang antara atlet-atlet Indonesia dan pemain terbaik dunia semakin terlihat. Jafar/Felisha, Sabar/Reza, dan Putri Kusuma Wardani langsung menuju Hangzhou begitu selesai mendapat medali. Mereka bergabung dengan Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri yang berangkat dari Indonesia.

Pada turnamen yang hanya diikuti delapan peserta terbaik sepanjang tahun dalam setiap nomor itu, hasil terbaik Indonesia adalah semifinal yang dicapai Sabar/Reza. Empat wakil lain tersisih pada penyisihan grup yang menggunakan format round robin.

Jonatan dan Fajar/Fikri bahkan selalu kalah dalam tiga pertandingan di grup. Padahal, Jonatan meraih tiga gelar dari lima turnamen terakhir sebelum tampil di Hangzhou. Fajar/Fikri pun lima kali mencapai final dari delapan turnamen sejak debut di turnamen BWF pada Juli.

Tak hanya dari SEA Games dan Final BWF, gambaran kekuatan Indonesia dibandingkan negara lain juga terlihat dari turnamen BWF sepanjang tahun, terutama dari level BWF World Tour yang terdiri atas Super 300, 500, 750, dan 1000. Indonesia hanya mendapat sepuluh gelar juara, berada di bawah China, Korea Selatan, Thailand, Jepang, dan Malaysia.

Infografik-Gelar Juara Turnamen BWF 2025

Melihat para juara dari Indonesia pada level tersebut, Alwi, Jafar/Felisha, dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin bisa menjadi pembawa harapan di masa depan. Putri Kusuma Wardani juga bisa diandalkan meski tak meraih gelar juara pada tahun ini.

Di pundak mereka, ada harapan dan tanggung jawab untuk meneruskan perjalanan para senior seperti Jonatan, Anthony Sinisuka Ginting, Gregoria Mariska Tunjung, dan Fajar/Muhammad Rian Ardianto yang berganti pasangan sejak Juli. Pada tahun ini, Anthony didera cedera bahu, sementara Gregoria berulang kali mengalami gangguan vertigo sehingga tak bisa tampil maksimal.

Di ganda campuran, Jafar/Felisha sudah ada di atas para senior seperti Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil dan Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah. Setelah berkenalan dengan atmosfer BWF World Tour pada semua level di tahun ini, saatnya Jafar/Felisha memperkuat semua aspek kemampuan untuk menembus kekuatan pasangan elite dunia.

Infografik-Juara Bulutangkis dari Indonesia

Faktor tersebut menjadi kesulitan mereka sepanjang 2025. Jafar/Felisha belum bisa mengalahkan empat pasangan terbaik dunia asal China, Thailand, dan Malaysia karena belum bisa tampil konsisten selama pertandingan. Dikatakan Felisha, saat melawan para pemain top, dia dan Jafar baru bisa mengimbangi permainan hingga interval gim, setelah itu, selalu tertinggal.

Pekerjaan serupa dimiliki Putri, terutama saat melawan An Se-young dan Akane Yamaguchi, dua atlet sebagai patokan kekuatan terbaik tunggal putri. Putri baru bisa memaksa mereka bermain tiga gim seperti yang terakhir kali dilakukan pada penyisihan grup Final BWF.

Sektor ganda putri punya Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti sebagai penerus Greysia Polii/Apriyani, tetapi performa mereka turun ketika belum mencapai puncak. Usai tersingkir pada penyisihan grup Olimpiade Paris 2024, performa Apriyani/Fadia turun hingga dilakukanlah beberapa kali perombakan pasangan di ganda putri. Apalagi, penampilan ganda lain yang sudah lama berpasangan, salah satunya Febriana/Amalia Cahaya Pratiwi, juga stagnan.

Duet Fadia/Lanny Tria Mayasari membuka harapan ketika menjuarai Thailand Masters Super 300 pada Januari, tetapi mereka dipisahkan. Fadia bahkan berulang kali berganti pasangan. Dia bermain bersama Lanny pada empat turnamen di Januari, lalu berduet dengan Apriyani dalam dua turnamen di Eropa (Maret).

Ganda putri Rachel Alessya Rose (kanan)/Febi Setianingrum berpose di podium setelah menjuarai Australia Terbuka di Sydney, Australia, Minggu (23/11/2025).

Setelah itu, Fadia kembali berpasangan bersama Lanny pada rentang April-Agustus dan dikembalikan bersama Apriyani sejak September hingga November. Apriyani/Fadia bahkan harus kembali ke turnamen level rendah, Super 100, dengan mengikuti Indonesia Masters di Medan, Sumatera Utara, 21-26 Oktober.

Pada September pula, tepatnya setelah Kejuaraan Dunia di Perancis, 25-31 Agustus, sektor ganda putri memiliki pasangan-pasangan baru, yaitu Febriana/Meilysa, Rachel/Febi, dan Amalia/Lanny. Di antara mereka, hasil terbaik didapat Rachel/Febi yang menjuarai Australia Terbuka Super 500 dengan mengalahkan Febriana/Meilysa di final.

Semula, pelatih ganda putri Karel Mainaky berencana ”mempatenkan” pasangan-pasangan tersebut dengan target menghadapi kualifikasi Olimpiade Los Angeles 2028. Namun, perubahan formasi kembali dibuat, terutama pada dua pasangan yang tertinggal dari Rachel/Febi dan Febriana/Meilysa, yaitu Apriyani/Fadia dan Lanny/Amalia. Duet baru dibentuk, yaitu Fadia/Amalia dan Apriyani/Lanny yang akan menjalani debut pada Indonesia Masters Super 500 di Jakarta, 20-25 Januari 2026.

Celah ganda putra

Bagi ganda putra, nomor yang selalu menjadi andalan Indonesia, 2025 bukanlah tahun yang baik. Hanya ada dua gelar juara dari BWF World Tour dari ganda putra, yaitu dari Fajar/Fikri dari China Terbuka Super 1000 dan Raymond/Nikolaus di Australia Terbuka Super 500. Jumlah ini turun dari lima gelar yang didapat pada 2024, empat gelar (2023), dan enam gelar (2022).

Munculnya Raymond/Nikolaus menjadi angin segar, apalagi, mereka mengalahkan  ganda putra top dunia untuk menuju podium juara Australia Terbuka, yaitu Man Wei Chong/Tee Kai Wun dan Goh Sze Fei/Nur Izuddin (Malaysia) serta senior di pelatnas, Fajar/Fikri, pada perempat final hingga final.

Raymond Indra/Nikolaus Joaquin meluapkan emosi ketika menjuarai ganda putra turnamen Australia Terbuka. Dalam final di Sydney, Minggu (23/11/2025), Raymond/Nikolaus mengalahkan senior mereka di pelatnas, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.

Hasil tersebut menjadi bagian dari perkembangan Raymond/Nikolaus pada 2025 yang mendapat enam gelar dari delapan final secara berjenjang, yaitu pada level International Challenge, Super 100, Super 300, hingga Super 500.

Meski demikian, perjalanan mereka untuk menjadi bagian dari ganda putra level top masih terjal. Pasangan berusia 21 dan 20 tahun itu baru sekali menghadapi tantangan beruntun dari ganda putra terbaik dunia dalam satu turnamen, yaitu di Australia Terbuka. Masih sangat banyak tantangan bagi mereka untuk menembus level tinggi dan konsisten.

Namun, di antara Fajar/Fikri, yang lima kali mencapai final dari sembilan turnamen, dan Raymond/Nikolaus terdapat celah prestasi di ganda putra pelatnas.

Pelatnas utama sebenarnya memiliki Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana yang berpasangan sejak Agustus 2024. Semula, bersama duet Fikri/Daniel Marthin, mereka menjadi andalan untuk meneruskan jejak Fajar/Rian.

Namun, Daniel cedera lutut kiri, kondisi yang selalu menjadi risiko semua atlet. Dia absen dari turnamen sejak Juni dan belum dipastikan kapan akan kembali bertanding.

Indonesia's Muhammad Shohibul Fikri (R) and Fajar Alfian (L) react after a point against Malaysia's Goh Sze Fei and Nur Izzuddin during their men's doubles quarter-final match at the China Masters in Shenzhen, southern China's Guangdong province on September 19, 2025. (Photo by AFP) / China OUT

Leo/Bagas sebenarnya bergerak lebih cepat dengan menjuarai Korea Terbuka, turnamen kedua setelah berpasangan. Pada Maret 2025, mereka pun mencapai final All England.

Namun, setelah itu, hasil terbaik Leo/Bagas hanya semifinal Kejuaraan Asia dan perempat final China Masters 750 dari 13 turnamen. Itu artinya, pasangan ranking ke-19 dunia tersebut lebih sering tersingkir pada babak pertama atau kedua.

Melalui melalui media sosial saat momen SEA Games Thailand 2025, penggemar bulu tangkis Indonesia melihat ada yang salah dengan Leo/Bagas ketika tampil pada kategori perorangan. Mereka seperti tak punya daya juang dan tak bisa mengimbangi Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia) di semifinal hingga kalah.

Ganda putra lain di pelatnas utama, Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan, memilih keluar pelatnas setelah tak juga berkembang saat berpasangan bersama Rahmat Hidayat. Mereka hanya  bisa menjuarai turnamen Super 100.

Sabar Karyaman Gutama melancarkan smes pada semifinal turnamen Final BWF World Tour di Hangzhou, China, Sabtu (20/12/2025). Sabar/Mohammad Reza pahlevi Isfahani kalah dari Kim Won-ho/Seo Seung-jae.

”Percobaan” duet Yeremia/Rian juga tak memberi hasil baik karena tersingkir pada babak pertama China Masters dan Korea Terbuka. Rian pun diduetkan dengan Rahmat sejak pekan ketiga Oktober dan menjalani empat turnamen dari level International Challenge hingga Super 750. Pada fase awal berpasangan, target utama mereka adalah membentuk ikatan kuat dan mengumpulkan poin sebanyak mungkin untuk menaikkan ranking.

Rian/Rahmat naik dari posisi ke-104 menjadi ke-83 berkat gelar juara Astana International Challenge, 17-21 Desember, tetapi posisi tersebut belum cukup untuk menempatkan mereka sebagai peserta turnamen BWF World Tour, apalagi untuk level Super 750 dan 1000.

Semua kondisi tersebut menjadi catatan penting karena ganda putra adalah nomor yang diwarnai persaingan paling merata, di luar fakta bahwa ada dominasi dari Seo Seung-jae/Kim won-ho (Korea Selatan). Pada 2025, mereka meraih 11 gelar juara, diantaranya tiga gelar dari Super 1000, Kejuaraan Dunia, dan Final BWF.

Dengan rekam jejak sepanjang 2025, hanya Fajar/Fikri dan Sabar/Reza yang bisa diandalkan untuk memasuki persaingan level tinggi tahun berikutnya. Mereka pun, terutama Fajar dan Sabar, harus bisa mendobrak batasan ”usia emas” atlet bulu tangkis karena telah dan akan berusia 30 tahun.

Pebulu tangkis Indonesia Putri Kusuma Wardani berhadapan dengan pebulu tangkis Thailand Pornpawee Chochuwong
di laga final nomor beregu putri SEA Games Thailand 2025 di Gymnasium 4 Universitas Thammasat, Rangsit, pada Senin (8/12/2025). Putri KW menang 2-1 atas Pornpawee Chochuwong dengan skor 21-8, 13-21, dan 21-16.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
10-12-2025

Catatan dari setiap nomor ini sangat mendesak untuk segera diperbaiki dengan baik mengingat jeda satu tahun sebagai periode awal setelah Paris 2024 dan menuju Los Angeles 2028 telah terlewati. Ada barisan pemain muda yang kemampuannya harus dipertajam melalui program yang tepat dalam latihan dan turnamen agar potensi mereka tak menguap.

Sebaliknya, atlet tak cukup sekadar punya tekad, tetapi harus berkomitmen menjalankannya. Apalagi, pada 2026, setiap negara akan semakin mematangkan setiap pemain yang disiapkan untuk bersaing menuju LA 2028, apalagi kualifikasi Olimpiade akan berlangsung mulai 2027.

Agenda itu belum termasuk agenda penting rutin, seperti kejuaraan beregu Piala Thomas dan Uber serta Asia Games yang akan berlangsung di Aichi-Nagoya, Jepang, pada 2026.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan