Sebagian warga Jakarta Barat disebut tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk akses air bersih. Namun, mereka butuh konsistensi.
26 Mar 2025 17:07 WIB · Metro
Siapa bilang kesulitan mendapatkan air bersih hanya terjadi di pedalaman yang jauh dari pusat kota. Di jantung Kota Jakarta, air bersih masih jadi barang langka bagi sebagian warga. Kini, reservoir komunal diandalkan Pemerintah Provinsi Jakarta sebagai salah satu solusinya.
Rabu (26/3/2025), keriuhan muncul di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Tambora di Jakarta Barat. Warga bingung. Tidak merasa mengundang, sejumlah orang tidak dikenal datang. Mengaku dari PAM Jaya, para tamu itu berseragam biru. Di kepalanya ada helm proyek putih.
Kasak-kusuk warga pun menemukan jawabannya. Kedatangan orang-orang berdandan rapi itu memang bagian dari PAM Jaya. Mereka hendak menghadiri peresmian reservoir komunal di dekat menara dan blok rusunawa. Bukan infrastruktur sembarangan karena penampungan ini bakal memasok 690 meter kubik air atau 2 x 28 liter per detik untuk warga di sana.
Bagi mereka yang selama kesulitan mendapat air bersih, kabar itu seharusnya menggembirakan. Namun, tidak semua menanggapinya antusias.
Juna (31), misalnya, masih ragu dengan cita-cita menyalurkan air bersih ke rumah warga itu. Alasannya, dia belum pernah mendapat penyuluhan terkait hal ini.
Namun, bila sudah terbukti aman dikonsumsi, ia jelas bersyukur. Juna bisa menghemat pengeluaran membeli air galon atau isi ulang.
”Penyuluhan dulu. Kalau sudah aman, baru oke,” ujarnya.
Sejauh ini, Juna menyebut, air PAM Jaya memang mengalir di Rusunawa Tambora. Airnya bersih juga tanpa berbau. Namun, ia memilih tidak langsung mengonsumsinya. Dia masih ragu tentang kelayakan air itu.
”Saya beli air galon untuk minum, harganya Rp 21.000. Kalau masak, pakai isi ulang Rp 8.000. Belinya setiap dua hari sekali,” kata Juna.
Bila Juna belum yakin, Awang (68) dan keluarganya, penghuni Rusunawa Tambora lainnya, nekat mengonsumsi air PAM Jaya. Beralasan tidak berbau, Awang menggunakannya untuk minum setelah dimasak.
”Untuk memasak, kami juga pakai air keran," kata Awang yang menyebut aliran airnya juga terbilang deras.
Hanya saja, kata Bahri (15), putra Awang, kadang-kadang alirannya memang tidak lancar. Bila sudah begitu, kesabarannya lantas dilipatgandakan.
”Ketimbang beli galon atau isi ulang, saya tunggu menyala lagi,” ujar Bahri. Hal tersebut dilakukan untuk menghemat pengeluaran keluarga.
Keluhan air yang mati hidup juga dikeluhkan Darini (59), warga RT 010 RW 003 Tambora. Tidak tanggung-tanggung, air bahkan bisa mati hingga dua hari. Bila itu terjadi, dia tanpa pilihan sehingga mesti membeli air galon dan isi ulang.
”Kami berenam. Dua hari enggak mandi kan susah,” tutur Darini.
Tidak hanya itu, meski masih kerap mati hidup, biaya pemakaian air per bulan justru naik. Bila sebelumnya paling banyak Rp 250.000, kini dia harus membayar Rp 475.000 per bulan.
”Padahal, pemakaian air masih sama seperti dulu,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/26/3626d8b2-4756-3057-80cb-935761863a8a_jpg.jpg)
Keluhan dari Tambora bisa jadi bagian dari 3.185 keluhan yang diterima PAM Jaya sepanjang Januari 2025. Keluhan paling banyak terkait air keruh, bau, dan distribusi tidak lancar.
Terkait itu, Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin menyebut, reservoir komunal berpotensi menjadi solusinya. Manfaatnya bisa dirasakan untuk daerah yang jauh dari instalasi pengolahan air (IPA) seperti Tambora.
”IPA yang jauh dan usia pipa yang sudah tua membuat aliran air tidak maksimal. Reservoir juga bisa jadi kantong air saat musim kemarau,” kata Arief.
Selain reservoir Rusunawa Tambora, PAM Jaya juga merampungkan reservoir Gandaria Utara di Jakarta Selatan. Kapasitasnya lebih kecil ketimbang Gandaria, yang memasok 300 meter kubik air atau 2 x 24 liter per detik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/26/d7c72771-6a32-386b-b15a-7351c624b518_jpg.jpg)
Arief menambahkan, keinginan menghadirkan air bersih ke rumah warga, program itu selaras dengan quick wins 100 hari pertama Pramono Anung-Rano Karno. Hal itu seperti pembagian toren air untuk penampungan, penyedotan tangki septik secara gratis, hingga peresmian IPA Buaran III di Jakarta Timur yang berkapasitas 3.000 liter per detik.
”Upaya ini untuk menyelesaikan area yang kesulitan air, terutama di timur dan utara Jakarta,” ujar Arief.
Sebagai informasi, cakupan layanan perpipaan PAM Jaya di 2025 tercatat sebesar 70,29 persen. Layanan ini menjangkau 958.000 pelanggan dengan panjang pipa 12.202 kilometer.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Jakarta Pramono Anung secara simbolis membagikan Kartu Air Sehat bagi rumah tangga kategori sederhana dan sangat sederhana. Dengan kartu ini, selama satu tahun, warga akan dikenai tarif khusus dengan evaluasi secara berkala.
Tarif yang dimaksud ialah flat sebesar Rp 1.000 per meter kubik untuk seluruh pemakaian air setiap bulan bagi rumah tangga sangat sederhana. Sementara rumah tangga sederhana sebesar Rp 3.550 per meter kubik untuk pemakaian air hingga 20 meter kubik pertama setiap bulannya.
”Apa yang dilakukan hari ini bagian dari quick wins 100 hari pertama. Air bersih di Jakarta ini mudah-mudahan selesai 2030. Kalau bisa lebih cepat tahun 2029 dengan kerja sama dan kerja keras,” ujar Pramono.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/26/5f2328a4-be35-304a-b781-73bbef3e434b_jpg.jpg)
Di samping itu, politisi PDI-P ini juga sudah bertemu Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo untuk membahas pasokan air bersih. Pasokannya dari Waduk Jatiluhur di Jawa Barat dan Waduk Karian di Banten.
Pasokan air bersih tersebut adalah bagian dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jatiluhur dan SPAM Karian Serpong. Keduanya merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN).
Pada SPAM Jatiluhur tahap 1, PAM Jaya telah menerima pendaftaran sambungan baru hingga 20.231 berkas. Adapun untuk SPAM Karian Serpong masih berproses di kementerian.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Cornelius Helmy Herlambang