Air Mata Haru Iringi Pertukaran Tahanan Palestina-Sandera Israel

Para istri dan ibu warga Palestina mengenakan gaun bordir terbaik mereka saat menyambut para pejuang Palestina yang dibebaskan dari penjara Israel.

26 Jan 2025 11:03 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Pertukaran sandera warga Israel dan tahanan Palestina antara Hamas dan Israel mendapat sambutan haru dari keluarga dan warga setiap pihak. Di Kota Rafah, Gaza selatan, rasa haru menyelimuti ratusan warga yang menanti kedatangan para tahanan Palestina, Sabtu (25/1/2025).

Para istri dan ibu warga Palestina mengenakan gaun bordir terbaik mereka yang kontras dengan kondisi Gaza yang hancur. Warga Palestina juga berkumpul di Ramallah, pusat pemerintahan Otoritas Palestina di Tepi Barat. Mereka meluapkan kegembiraan saat puluhan sandera tiba dengan bus dari penjara.

Di Tel Aviv, Israel, air mata, tepuk tangan, dan sorak-sorai memenuhi alun-alun kota itu. Warga Israel menonton pembebasan empat perempuan tentara Israel oleh Hamas dari sebuah layar televisi di Hostage Square. Bendera Israel berkibar.

Tampak Karina Ariev (20), Daniela Gilboa (20), Naama Levy (20), dan Liri Albag (19) tersenyum sambil melambaikan tangan dan mengacungkan jempol dari atas panggung di Kota Gaza. Mereka adalah tentara yang bertugas sebagai pengintai di pangkalan di perbatasan Gaza yang diculik Hamas pada 7 Oktober 2023. Sudah 15 bulan mereka berpisah dengan keluarga.

TOPSHOT - Four Israeli hostages, (L-R) Naama Levy, Liri Albag, Daniella Gilboa and Karina Ariev, wave on a stage before Hamas fighters hand them over to a team from the Red Cross in Gaza City on January 25, 2025. Hamas militants handed over four Israeli women hostages to the Red Cross in a January 25 swap after parading them on a stage at a square in Gaza, an AFP journalist reported. (Photo by Omar AL-QATTAA / AFP)

Keempat perempuan tentara itu kemudian diserahkan kepada Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Dengan helikopter militer, mereka diterbangkan ke Rabin Medical Centre, Petah Tikva, yang tak jauh dari Tel Aviv.

Wakil Direktur Rabin Medical Centre, Lena Feldman Koren, mengatakan, keempatnya berada dalam kondisi stabil meski ”penahanan yang lama dalam kondisi yang keras terlihat jelas”. Rekaman yang dirilis oleh militer menunjukkan, Albag dan orangtuanya berteriak kegirangan, tertawa, dan berpelukan.

Perayaan tidak kalah semangat terjadi di Tepi Barat, Sabtu (25/1/2025). Warga Palestina akhirnya bisa bertemu kembali dengan keluarga terkasih setelah Israel membebaskan 200 sandera Palestina sebagai gantinya.

Di Kota Rafah, Gaza selatan, rasa haru menyelimuti ratusan warga. Sebuah bus mini berwarna krem datang membawa 14 tahanan Palestina. Mereka masih mengenakan baju olahraga dari penjara yang berwarna abu-abu. Tiga dari mereka langsung keluar dari pintu samping bus untuk bergabung dalam nyanyian bersama kerumunan.

Palestinians watch as freed prisoners arrive by International Committee of the Red Cross bus to the Gaza Strip, after being released from an Israeli prison following a ceasefire agreement between Hamas and Israel, Saturday, Jan. 25, 2025. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

Salah satu warga, Majda Balousha, turut menanti kedatangan suaminya, Abd al-Rahman, dengan gaun putih cerah dan sulaman merah khas Palestina. Tangannya memegang seikat mawar merah.

”Kami bermimpi bahwa pada hari ini dia akan keluar dan Gaza akan makmur dan tidak hancur, tetapi alhamdulillah, puji bagi Allah yang membebaskannya,” tutur Majda.

Saat sang suami tiba, Majda menerobos kerumunan untuk memeluk suaminya. Perempuan lainnya di sekitar mereka turut bersorak dan mereka momen membahagiakan itu. Sembari memeluk istrinya, Abd al-Rahman turut berkomentar.

”Saya tidak bisa mengungkapkan perasaan ini sama sekali. Alhamdulillah, kami bertemu keluarga kami dan kami bahagia bersama mereka,” kata Abd al-Rahman.

Warga juga berkumpul di Ramallah, pusat pemerintahan Palestina di Tepi Barat. Mereka meluapkan kegembiraan saat puluhan sandera tiba dengan bus dari penjara.

One of the Palestinian prisoners released by Israel reacts while being carried on people's shoulders after disembarking off one of the buses of the International Committee of the Red Cross (ICRC) upon arrival in Ramallah in the occupied West Bank on January 25, 2025. Palestinian militants and Israel carried out a hostage-prisoner swap on January 25 under a Gaza ceasefire deal, but a last-minute dispute blocked the expected return of hundreds of thousands of Palestinians to devastated northern Gaza. (Photo by Zain JAAFAR / AFP)

Salah satu dari sandera, Azzam al-Shallalta, digendong oleh kerumunan yang berlinang air mata. Dia lalu berlutut dan menangis di kaki ibunya.

”Situasi yang saya hadapi sangat menyedihkan, benar-benar menyedihkan. Kami berdoa kepada Tuhan agar membebaskan semua saudara kami yang kami tinggalkan,” kata Shallalta yang masih mengenakan baju tahanan abu-abu.

Pertukaran sandera dari kedua belah pihak itu merupakan pertukaran fase kedua untuk gencatan senjata tahap pertama. Hamas dan Israel sepakat untuk gencatan senjata per 19 Januari 2025. Dalam kesepakatan mereka, gencatan senjata berlaku dalam tiga tahap.

Gencatan senjata tahap pertama mencakup periode 42 hari. Selama jangka waktu ini, Hamas-Israel, antara lain, berhenti saling menyerang, melepaskan sandera, dan mengizinkan bantuan masuk ke Gaza. Pertukaran sandera fase pertama telah berlangsung pada hari pertama gencatan senjata. Hamas membebaskan tiga sandera dan Israel membebaskan 90 sandera.

Mohammed Samir al-Rajabi (59, kanan), mantan tahanan yang dibebaskan oleh Israel, mencium tangan ibunya Samira (tengah) setelah tiba di kota Hebron, Tepi Barat, pada tanggal 25 Januari 2025. Militan Palestina dan Israel melakukan pertukaran sandera-tahanan pada tanggal 25 Januari 2025 berdasarkan kesepakatan gencatan senjata Gaza

Dari 200 sandera Palestina yang dibebaskan Israel, sebanyak 120 orang di antaranya menjalani hukuman seumur hidup. Usia mereka berkisar 16 tahun hingga 67 tahun. Dari kesaksian mereka, kondisi penahanan keras dan pemukulan sering terjadi di penjara Israel.

Pembebasan para ”tahanan” ini sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata. Beberapa sandera dikirim ke Tepi Barat, tetapi sandera dengan pelanggaran yang dianggap serius dipindah ke Mesir tanpa sambutan hangat. 

Perasaan yang tak terlukiskan 

Azmi Nafaa menangis haru saat akhirnya bisa bertemu kembali dengan keluarga. Dia dituduh mencoba menabrakkan kendaraan ke tentara Israel di sebuah pos pemeriksaan pada 2015. Nafaa mendapat hukuman 20 tahun penjara. Ia bebas setelah 9 tahun mendekam di sel.

”Itu tidak dapat dijelaskan. Berada di antara ibu dan ayah, itu adalah perasaan yang tak terlukiskan,” tutur Nafaa.

Selain Nafaa, ada beberapa tahanan terkenal yang juga bebas sebagai bagian dari kesepakatan. Salah satunya adalah aktivis kelompok Jihad Islam, Aradeh. Ia mendapat hukuman seumur hidup atas berbagai pelanggaran setelah Intifada Kedua pada awal tahun 2000-an, termasuk menanam alat peledak dan mencoba melakukan pembunuhan.

Israel Palestinians

Nama Aradeh semakin terkenal setelah berhasil kabur dari penjara Israel pada 2021. Dia bersama lima tahanan lain menggunakan sendok untuk membuat terowongan. Mereka bebas selama berhari-hari, tetapi tertangkap kembali.

Saat tiba di Ramallah, Sabtu (25/1/2025), Aradeh mendapat sambutan hangat bak pahlawan dari keluarga, teman, dan penggemar. ”Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Tuhan,” kata Aradeh.

Menuju pengasingan

Media Mesir yang berafiliasi dengan pemerintah menyatakan, 70 tahanan Palestina lainnya, yang dibebaskan lalu dideportasi Israel, telah tiba di Mesir dengan bus. Mereka akan melanjutkan perjalanan ke pengasingan di negara ketiga, seperti Algeria, Tunisia, dan Turki. Mereka sebelumnya rata-rata dijatuhi hukuman seumur hidup di penjara-penjara Israel.

Tiga bersaudara dari keluarga Abu Hamid yang terkemuka termasuk yang dideportasi ke Mesir. Keluarga Abu Hamid mempunyai sejarah panjang dalam perjuangan Palestina. Mereka adalah Nasser (51), Mohammad (44), dan Sharif (48). Mereka telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas serangan mematikan terhadap warga Israel pada 2002.

Ketiga bersaudara Nasser Abu Hamid lainnya telah meninggal dunia pada 2022 di penjara Israel. Nasser Abu Hamid adalah pendiri bersama Brigade Syuhada Al-Aqsa. Ini adalah milisi bersenjata yang berafiliasi dengan Fatah, partai politik sekuler yang mengendalikan Otoritas Palestina.

Dengan demikian, sekarang keluarga Abu Hamid mempunyai tiga anak yang diasingkan, satu orang meninggal di penjara, satu orang dibunuh tentara Israel, dan satu orang lainnya masih dipenjara. 

Al-Tous adalah tahanan lain yang dideportasi ke Mesir. Ia merupakan tahanan terlama di penjara Israel dengan total hukuman 39 tahun. Aktivis Partai Fatah ini ditangkap saat melawan pasukan Israel di sepanjang perbatasan Jordania pada 1985.

Saudara-saudara Mohamed Eissa, salah satu dari 70 tahanan Palestina yang dideportasi melalui Mesir, memandang telepon pintar yang menayangkan pertukaran sandera Israel dan tahanan Palestina di Desa Salem, sebelah timur Nablus, wilayah pendudukan Tepi Barat, Sabtu (25/1/2025).

Unjuk kekuatan

The New York Times melaporkan, penyerahan oleh Hamas pada fase kedua menjadi aksi yang lebih performatif daripada pembebasan sandera fase pertama, pekan lalu. Hamas menggunakan sejumlah atribut untuk menunjukkan kekuatan sebagai pemimpin di Jalur Gaza.

Pada Sabtu (25/1/2025), Hamas mendirikan panggung di Lapangan Palestina, Kota Gaza, yang sudah luluh lantak akibat serangan Israel. Di panggung di lokasi itu, terbentang spanduk bertuliskan pesan dalam bahasa Ibrani: ”Zionisme tidak akan menang”. Bendera kecil Palestina terlihat di atas meja depan atas panggung.

Empat tentara perempuan itu tiba di alun-alun dalam sebuah konvoi kendaraan. Mereka memakai seragam militer berwarna hijau tanpa atribut, seolah untuk menegaskan bahwa para sandera adalah tentara, bukan warga sipil. Setelah itu, mereka berjalan ke panggung sambil didampingi pejuang Hamas yang bertopeng. Ratusan warga sipil berkumpul di sekitar mereka.

Juru Bicara Militer Israel, Laksamana Muda Daniel Hagari, mengatakan, acara seremonial pada Sabtu kemarin adalah upacara yang sinis.

Daniella Gilboa, perempuan tentara Israel yang dibebaskan Hamas, memperlihatkan isyarat jempol saat akan turun dari helikopter militer di Rumah Sakit Beilinson di Petah Tikva, Sabtu (25/1/2025).

Beberapa pejabat Israel telah mengatakan, Hamas memaksa sandera tersenyum dan melambaikan tangan sebagai bagian dari propaganda bahwa kelompok itu memperlakukan tawanan dengan baik. Padahal, menurut sejumlah mantan tawanan, mereka mendapat siksaan dan pelecehan seksual.

Akun X (Twitter) media Suppressed News mengunggah video berisi ucapan terima kasih dari empat tentara Israel dalam bahasa Arab dari dalam sebuah mobil untuk Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas. Mereka mengaku mendapat perlakuan bagus, memperoleh makanan, minuman, dan pakaian, serta menerima perlindungan saat Israel menyerang.

Dalam sebuah wawancara, Yves Daccord, mantan Direktur Jenderal Palang Merah, mengatakan, penyerahan sandera harus dilakukan di tempat yang tenang dan jauh dari publik. ”Secara umum, yang ideal adalah tanpa kerumunan. Membebaskan sandera di tempat umum yang ramai sarat dengan risiko dan ketidakpastian,” tuturnya. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi