Juara tunggal putri Wimbledon 2016-2024 selalu berganti. Tanpa petenis yang bisa tampil dominan di lapangan rumput, juara baru nomor ini bisa bertambah.
29 Jun 2025 15:20 WIB · Olahraga
Wimbledon 2025, sebagai puncak persaingan petenis profesional di lapangan rumput, akan berlangsung di All England Club, London, Inggris, pada 30 Juni-13 Juli. Atmosfer berbeda akan terjadi pada persaingan tunggal putra dan putri.
Seperti dua Grand Slam yang telah berlangsung tahun ini, Australia Terbuka (lapangan keras) dan Perancis Terbuka (lapangan tanah liat), favorit juara tunggal putra mengerucut pada dua nama, yaitu Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz.
Mereka adalah dua nama yang selalu mengisi daftar juara Grand Slam sejak 2024. Sinner menguasai turnamen lapangan keras (Australia dan Amerika Serikat Terbuka), sedangkan Alcaraz menjuarai persaingan di lapangan tanah liat (Perancis Terbuka) dan lapangan rumput (Wimbledon).
Persaingan terbaru mereka terjadi pada final Perancis Terbuka, 9 Juni, dalam laga epik hampir enam jam. Alcaraz menang setelah menggagalkan tiga match point Sinner.
Penampilan mereka dalam laga itu mendapat pujian dari Novak Djokovic yang dikalahkan Sinner di semifinal. Seperti Perancis Terbuka, pertemuan Sinner dan Alcaraz di Wimbledon hanya bisa terjadi di final. Sementara Djokovic bisa bertemu kembali Sinner di semifinal.
Alcaraz, dengan usia 22 tahun, sudah memiliki lima gelar juara dari tiga Grand Slam. Daftar prestasinya bisa bertambah jika menjuarai Wimbledon seperti pada 2023 dan 2024.
Untuk mendapat dua gelar Wimbledon secara beruntun, petenis Spanyol itu melakukan hal yang sulit dilakukan petenis lain, yaitu mengalahkan Djokovic di final. Tak hanya sekali, tetapi dua kali secara berturut-turut.
Sebelum tiba di All England Club tahun ini, Alcaraz membawa bekal gelar juara dari turnamen lapangan rumput ATP 500 London, salah satu ajang pemanasan menjelang Wimbledon. Ditambah dengan gelar juara dari ATP Masters 1000 Roma, sebelum Perancis Terbuka, Alcaraz mencatatkan 18 kemenangan beruntun. Jika merujuk pada hasil sejak awal persaingan di lapangan tanah liat, pada April, dia hanya sekali kalah dari 28 pertandingan.
Maka, ketika Alcaraz bertemu Aryna Sabalenka pada sesi latihan di All England Club, dia mendapat pertanyaan dari tunggal putri nomor satu dunia itu.
”Apakah kamu tahu caranya kalah?” Alcaraz tertawa untuk menjawabnya.
Lalu, kalaulah ada nama lain yang bisa disebut mempunyai peluang lebih besar untuk juara dibandingkan petenis lain, ia adalah Djokovic. Meskipun kalah dalam final 2023 dan 2024, Djokovic selalu mencapai final dalam enam Wimbledon terakhir sejak 2018. Final beruntunnya terhenti pada 2020 ketika turnamen tak diselenggarakan karena pandemi Covid-19.
Dengan tujuh gelar juara (2011, 2014, 2015, 2018, 2019, 2021, 2022), Djokovic bisa menyamai Roger Federer jika menjuarai Wimbledon 2025. Federer adalah tunggal putra yang paling sering menjuarai turnamen tenis tertua di dunia itu, yaitu delapan kali.
Meskipun telah berusia 38 tahun dan dengan performa yang telah disalip Alcaraz dan Sinner, Djokovic tak dapat dipandang sebelah mata berkat motivasinya yang belum juga padam. Dia mewujudkan target mendapat gelar juara ke-100 dalam kariernya dengan menjuarai ATP 250 Geneva, Mei. Dia hanya tertinggal dari Federer (103) dan Jimmy Connors (109) dalam perolehan gelar juara di era Terbuka (sejak 1968).
Hal lain yang menguntungkan pemilik 24 gelar juara Grand Slam itu adalah pengalaman bermain di All England Club. Dia akan tampil untuk ke-20 kali di Wimbledon sejak debut pada 2005. Lapangan rumput berwarna hijau muda bak karpet sudah seperti halaman rumahnya.
Petenis lain bisa saja membuat kejutan dengan mengalahkan unggulan. Namun, tak banyak yang bisa memenangi tujuh pertandingan secara beruntun, dalam format best of five sets, selama dua pekan di All England Club.
Selain salah satu dari big four (Federer, Rafael Nadal, Andy Murray, Djokovic) yang menjuarai Wimbledon 2003-2022, baru muncul Alcaraz yang bisa menaklukkan jenis lapangan paling rumit pada level Grand Slam.
Lapangan rumput memantulkan bola dengan sangat cepat dan rendah. Arah pantulan terkadang sulit ditebak karena dengan jenis lapangan alam, permukaannya tak rata seperti lapangan keras. Permukaan tak rata ini dan sifatnya yang licin (tetapi menyulitkan petenis untuk meluncur seperti di tanah liat) menuntut gerak olah kaki yang sempurna agar tak tergelincir.
Maka, meski bermain di lapangan berkarakter sangat cepat, petenis tak cukup dengan hanya memiliki servis dan forehand keras. Big four dan Alcaraz, misalnya, bukanlah termasuk petenis bertipe big server seperti juara Wimbledon 2011, Goran Ivanisevic, dan tujuh kali juara pada era 1990-an, Pete Sampras.
Berbeda dengan tunggal putra, di tunggal putri tak ada petenis yang mempunyai kemampuan menonjol di lapangan rumput. Tanpa kemampuan spesial, seperti Martina Navratilova (sembilan kali juara) dan Serena Williams (tujuh kali), juara tunggal putri Wimbledon lebih sulit diprediksi.
Apalagi, persaingan di lapangan rumput pada setiap musimnya berlangsung sangat singkat. Kompetisi di lapangan ini hanya diselenggarakan Juni-Juli di Eropa, di antara musim kompetisi lapangan tanah liat Eropa dan lapangan keras di Amerika. Petenis pun hanya memiliki jeda tiga pekan untuk beralih ke Wimbledon setelah bertanding di Perancis Terbuka.
Maka, sejak 2016, ketika Serena terakhir kalinya menjuarai Wimbledon, juara tunggal putri berganti setiap tahun. Dalam delapan penyelenggaraan pada 2016-2024, delapan juara berbeda lahir. Sejak Serena juara pada 2015-2016, tak ada tunggal putri yang bisa mempertahankan gelar atau juara lebih dari satu kali di Wimbledon.
Kemampuan petenis yang setara dan pendeknya masa persaingan di lapangan rumput memunculkan fenomena lain, yaitu lahirnya juara kejutan. Sejak 2016 hingga 2024, hanya Serena (2016) dan Ashleigh Barty (2021) yang menjadi juara dengan status unggulan teratas dan memang difavoritkan untuk menjadi yang terbaik.
Garbine Muguruza juara pada 2017 meski hanya menjadi unggulan ke-14. Tiga unggulan teratas saat itu adalah Angelique Kerber, Simona Halep, dan Karolina Pliskova.
Marketa Vondrousova menjadi juara pada 2023 dengan status petenis non-unggulan. Adapun Barbora Krejcikova menjuarai Wimbledon 2024 sebagai unggulan ke-31.
Juara dalam dua edisi terakhir ini kesulitan bersaing di level atas setelah menjadi juara. Mereka lebih sering tersingkir pada tiga babak awal Grand Slam seusai menjadi juara di Wimbledon.
Rangkaian rekam jejak tersebut ditambah dengan hasil enam turnamen dalam tiga pekan setelah Perancis Terbuka membuat persaingan tunggal putri Wimbledon sulit diprediksi.
Mereka yang menjuarai enam turnamen pemanasan Wimbledon adalah Tatjana Maria (WTA 500 London), Elise Mertens (WTA 250 Rosmalen), Vondrousova (WTA 500 Berlin), McCartney Kessler (WTA 250 Nottingham), Jessica Pegula (WTA 500 Bad Homburg), dan Maya Joint (WTA 250 Eastbourne). Di antara turnamen-turnamen tersebut, petenis-petenis top dunia hanya tampil di Berlin dan Bad Homburg.
Sembilan dari 10 petenis ranking teratas dunia bermain di Berlin, tetapi hanya Sabalenka yang bisa mencapai perempat final dan akhirnya kalah. Langkah Sabalenka dihentikan Vondrousova yang akhirnya menjadi juara.
Di Bad Homburg, Pegula bermain lebih baik dibandingkan empat petenis peringkat 10 besar lainnya, termasuk ketika melawan Iga Swiatek di final, Sabtu (28/6/2025). Pegula menang atas Swiatek 6-4, 7-5 yang menyia-nyiakan banyak peluang karena membuat lebih banyak unforced error. Swiatek membuat 39 unforced error, sedangkan Pegula hanya 16.
Hasil itu membuat Swiatek harus menanti lebih lama untuk meraih gelar setelah terakhir kali mendapatkannya di Perancis Terbuka 2024. Performa yang menurun pada 2025 membuat dia tak dapat mempertahankan lima gelar juara. Untuk pertama kalinya sejak April 2022, Swiatek pun terlempar dari peringkat dua besar dunia.
Meski demikian, masih ada sisi positif dari hasil yang didapatnya di kota bagian tengah Jerman tersebut. Itu menjadi final pertama Swiatek sejak juara Perancis Terbuka dan final pertama di lapangan rumput. Peringkat petenis Polandia ini naik dari kedelapan menjadi keempat.
Untuk bisa menambah lima gelar dari ajang Grand Slam, Swiatek akan menjalani tantangan sangat besar. Apalagi, rekam jejak sejak debut pada 2019 di Wimbledon menjadi yang terburuk dibandingkan tiga Grand Slam lain. Persentase kemenangannya hanya 69 persen dengan langkah terjauhnya adalah perempat final pada 2023.
Hasil undian akan memperberat langkahnya. Jika bisa melewati tiga babak, petenis berusia 24 tahun itu memiliki peluang bertemu juara Wimbledon 2022, Elena Rybakina, lalu Cori ”Coco” Gauff di perempat final.
Coco akan bersaing dengan status juara Perancis Terbuka, tetapi, dia tak pernah melangkah lebih jauh dari babak keempat di Wimbledon yang dicapai pada 2019, 2021, dan 2024. Dalam turnamen pemanasan di Berlin, Coco tersingkir pada babak kedua setelah kalah dari petenis kualifikasi, Wang Xin Yu.
Meskipun Wimbledon menjadi ajang yang mengangkat namanya, yaitu ketika mencapai babak keempat dalam debut di babak utama Grand Slam, perjalanan Coco untuk juara masih panjang. Persentase kemenangan di lapangan rumput sepanjang kariernya baru mencapai 66 persen.
Pegula juga membawa hasil baik, yaitu gelar juara WTA Bad Homburg sebagai gelar kedua dari turnamen lapangan rumput. Akan tetapi, petenis AS ini baru bisa mencapai perempat final di Wimbledon yang diraih pada 2023.
Sabalenka menjadi petenis yang paling konsisten dalam enam bulan pertama 2025 dengan 42 kemenangan dari 50 pertandingan (84 persen). Dia menjuarai dua turnamen WTA 1000 dan selalu mencapai final Grand Slam, Australia dan Perancis Terbuka.
Namun, seperti petenis lain, Wimbledon menjadi tantangan terberat baginya. Dia menjadi semifinalis pada 2021 dan 2023, tetapi absen pada 2024 karena cedera. Maka, cukup sulit untuk menilai perkembangan pemilik tiga gelar Grand Slam ini di lapangan rumput meski dia memiliki modal berupa servis dan forehand keras yang konsisten.
Dengan rekam jejak yang beragam di lapangan rumput, peluang juara akan lebih merata di tunggal putri seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Bukan tak mungkin, juara baru Wimbledon akan lahir kembali.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase