Sebanyak 36 pengunjuk rasa kembali tewas di Iran.
07 Jan 2026 13:24 WIB · Internasional
AP / Alex Brandon
Foto yang diambil pada 6 Januari 2026 dari sebuah video menunjukkan ratusan orang berkumpul di bazar Teheran. Mereka dimotori oleh para pedagang yang mengeluhkan turunnya daya beli masyarakat karena meningkatnya biaya hidup di Iran.
Unjuk rasa serupa sebelumnya terjadi pada 28 Desember 2025. Tak lama, aksi ini membesar dan menyebar di banyak kota di Iran, terutama di daerah yang mayoritas penduduknya kelompok minoritas Kurdi dan Lor.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/07/b5581b77-22e4-45a5-8044-edd56e52b2ce.jpg)
Aksi ini menjadi aksi protes terbesar dalam tiga tahun terakhir sejak kematian Mahsa Jina Amini yang tewas dalam tahanan polisi. Ia ditangkap oleh polisi moral karena tidak mengenakan jilbab dengan benar. Kepala Bank Sentral Mohamad Reza Farzin mengundurkan diri karena mata uang negara itu anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah terhadap dolar AS.
Ribuan warga segera bergabung dengan pedagang dan menyuarakan kritik terhadap pemerintah dan otoritas ulama. Sedikitnya 12 orang tewas, termasuk anggota pasukan keamanan dalam kejadian ini. Ratusan lainnya telah ditahan dan diancam dengan hukuman yang berat. Aksi mendukung unjuk rasa juga terjadi di Paris dan London.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan mengancam Iran jika lebih banyak demonstran meninggal. Ini dikatakan Trump di atas pesawat Air Force One sehari setelah operasi AS untuk menangkap sekutu Iran, Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
”Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan mendapat balasan yang sangat keras dari Amerika Serikat,” kata Trump kepada wartawan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/07/6eded157-fde9-46f5-bc11-8b58209e8362.jpg)
Memasuki tahun 2026, gelombang unjuk rasa terus terjadi dan makin membesar. Para pengunjuk rasa yang marah atas perekonomian Iran yang terus terpuruk melakukan aksi duduk pada Selasa (6/1/2026) di Grand Bazaar Teheran. Pasukan keamanan akhirnya menembakkan gas air mata dan membubarkan ribuan demonstran.
Grand Bazaar telah lama menjadi jantung ekonomi dan politik Iran selama berabad-abad. Sedikitnya 36 orang tewas dan polisi menahan 2.000 orang. Presiden Iran Masoud Pezeshkian memerintahkan penyelidikan atas insiden ini.
Pezeshkian menugaskan kementerian dalam negeri untuk membentuk tim khusus guna melakukan ”investigasi menyeluruh” atas apa yang telah terjadi di Provinsi Ilam. Banyak pengunjuk rasa di Kabupaten Malekshahi di Provinsi Ilam, sekitar 515 kilometer barat daya ibu kota Teheran, tewas. Rekaman video yang diduga pasukan keamanan sedang menembaki warga sipil beredar di media sosial.
Meningkatnya jumlah korban jiwa membawa serta kemungkinan intervensi Amerika. Pada Jumat, Presiden Trump memperingatkan jika Teheran membunuh demonstran damai secara brutal, Amerika Serikat akan datang untuk menyelamatkan mereka.
Akankah Trump membuktikan ancamannya kepada Iran? (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Iwan SetiyawanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji