Hari yang tak disangka rakyat Suriah akhirnya tiba. Kekuasaan keluarga Assad yang bercokol sejak 1971 diruntuhkan oleh oposisi bersenjata.
08 Des 2024 17:33 WIB · Internasional
DAMASKUS, MINGGU — Setelah lebih dari 50 tahun bertakhta, akhirnya kekuasaan keluarga Assad di Suriah runtuh. Pasukan oposisi bersenjata telah mengambil alih ibu kota Damaskus. Sementara Presiden Bashar al-Assad yang telah memerintah selama 24 tahun pun lari meninggalkan negara itu bersama keluarganya.
Berakhirnya rezim keluarga Assad yang dimulai oleh Hafez al-Assad pada 1970 dan dilanjutkan oleh putranya, Bashar, diakui oleh Perdana Menteri Suriah Mohammed Ghazi al-Jalali. Ia mengatakannya melalui siaran video yang dikutip oleh kantor berita nasional Iran, IRNA. Iran selama ini adalah sekutu Assad.
”Saya berada di rumah dan tidak akan meninggalkan negara ini. Saya akan menjaga negara sampai terjadi peralihan kekuasaan secara damai dan siap bekerja sama dengan kepemimpinan yang dipilih oleh rakyat Suriah," kata Al-Jalali, Minggu (8/12/2024).
Ia mengimbau agar semua pihak bersikap tenang dan berpikir rasional. Menurut Al-Jalali, tidak perlu lagi pecah konflik karena rakyat sudah cukup mengalaminya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/08/1206c1cf86d1f75f9f724090620e3047-SYRIA_CONFLICT_126027759.jpg)
Ucapan serupa dikemukakan Kepala Koalisi Nasional Suriah Hadi al-Bahra. Koalisi ini merupakan kumpulan diaspora Suriah di luar negeri yang menentang Assad. ”Keadaan aman. Tidak perlu ada balas dendam ataupun kekerasan," ujarnya saat diwawancara oleh Al-Arabiyya.
Menurut Al-Bahra, lembaga-lembaga pemerintahan di Suriah akan kembali bekerja dalam dua hari. Perwakilan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan datang dan membantu proses pengalihan kekuasaan.
Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Geir Pedersen, yang menghadiri acara Forum Doha di Qatar, menekankan agar semua pihak menghormati hukum internasional dan mencegah pertumpahan darah. Ia juga mengadakan diskusi mengenai keadaan di Suriah dengan perwakilan dari Iran, Turki, Rusia, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, dan Uni Eropa.
Presiden AS Joe Biden melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa Washington mengamati situasi dari jauh dan tidak akan ikut campur. Demikian juga dengan keterangan presiden terpilih Donald Trump melalui pelantar Truth Social.
”Saya tidak melihat perlunya AS turun tangan, apalagi secara militer di Suriah,” cuit Trump.
Angkat kakinya Bashar al-Assad sekeluarga pertama kali diberitakan oleh Reuters melalui bocoran yang mereka dapat. PM Al-Jalani ataupun Pemerintah Suriah belum ada yang menanggapi kabar tersebut.
Assad dikatakan meninggalkan Suriah dengan menggunakan pesawat terbang. Akan tetapi, tidak diketahui tempat tujuan ia melarikan diri.
Sekutu-sekutu Assad sedang sibuk dengan perang masing-masing. Rusia berkontra dengan Ukraina. Adapun Iran dan Hizbullah di Lebanon sibuk berhadapan dengan Israel.
Radio Sham FM yang propemerintah menyiarkan laporan bahwa semua penerbangan di bandara Damaskus dihentikan. Bandara kemudian ditutup. Pada saat yang sama, milisi oposisi mengumumkan mereka mendobrak penjara militer Saydnaya dan membebaskan semua narapidana.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2018/03/28/20436cc9-4f3b-466f-b285-13d7a3206b3a_jpg.jpg)
Hafez al-Assad menjabat sebagai Perdana Menteri Suriah periode 1970-1971. Setelah melakukan kudeta terhadap Salah Jadid, pada 1971, ia menunjuk dirinya sebagai presiden Suriah dan memerintah dengan otoriter. Awalnya, Hafez menunjuk adiknya, Rifaat, untuk menjadi penerus.
Akan tetapi, Rifaat berusaha melakukan kudeta pada tahun 1984 saat Hafez sakit. Upaya itu digagalkan Hafez dan pengikutnya. Rifaat pun diusir dari Suriah dan tinggal di Perancis. Ia baru pulang ke Suriah pada 2021 ketika Paris menggugatnya melakukan pencucian uang. Semua asetnya di Perancis dan Inggris disita.
Hafez lalu menunjuk Bassel, putra sulungnya, sebagai penerus. Bassel tewas akibat kecelakaan mobil pada 1994. Pilihan terakhir Hafez adalah putra bungsunya, Bashar. Ketika itu, Bashar bekerja sebagai dokter dan belum terlibat politik. Bashar menggantikan ayahnya yang meninggal pada tahun 2000.
Dari segi cara memerintah, Bashar juga bertangan besi. Pada 2011, perang saudara pecah di Suriah. Kelompok-kelompok oposisi berusaha menjatuhkan rezim keluarga Assad. Ketika itu, mereka terdiri dari Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang berhubungan erat dengan Al-Qaeda serta dari kelompok Kurdi yang didukung oleh AS.
Belakangan, HTS menyatakan, mereka sudah berpisah dari Al-Qaeda dan fokus kepada penggulingan Assad.
Bashar al-Assad memenangi perang saudara berkat bantuan Rusia, Iran, dan milisi-milisi pro-Iran, terutama Hizbullah. Pesawat-pesawat tempur Rusia yang menjadi penentu kemenangan ketika itu.
Sebanyak 500.000 orang tewas dan 6 juta orang mengungsi, menciptakan krisis pengungsi terburuk dalam sejarah manusia. Sekarang, bantuan yang sama tidak diterima oleh Assad.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/08/b72d3567028e0ccb17a0834e69c460ea-Syria_126027780.jpg)
Pasukan HTS dalam dua pekan belakangan bergerak cepat merebut kota-kota besar Aleppo, Hama, dan Homs. Bahkan, tidak ada perlawanan saat kota-kota itu jatuh ke tangan oposisi. Pemimpin HTS Ahmed al-Sharaa alias Mohammed al-Jolani mengumumkan, semua kendali kementerian/lembaga pemerintah tetap di bawah perdana menteri.
”Rasanya lega sekali. Tidak ada seorang pun di Suriah ataupun diaspora Suriah di luar negeri yang tidur tadi malam karena memantau perkembangan. Setelah serasa tenggelam di air selama 13 tahun, kini saya bisa bernapas lega,” kata Rania Kataf, pengasuh laman Humans of Damascus, kepada BBC.
Kini, Assad jatuh. Suriah memasuki masa baru. Pertanyaan yang muncul ialah pemerintahan seperti apa yang muncul? Salah satu kekhawatiran masyarakat lokal dan internasional ialah pengaruh HTS. Kelompok ini lahir dari Al-Qaeda cabang Suriah.
Pekan lalu, Al-Sharaa alias Al-Jolani menekankan bahwa HTS sudah tidak berhubungan dengan Al-Qaeda sejak 2016. Akan tetapi, publik masih menyangsikan pernyataan tersebut karena HTS oleh negara-negara Barat dicap sebagai teroris.
”Al-Jolani ini radikal, tetapi pragmatis. Puncak keradikalannya di tahun 2014 ketika masih berlomba dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Retorikanya semakin moderat setelah itu,” kata Thomas Pierret, pengamat Islam dan politik di Timur Tengah.
(AP/AFP/Reuters)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/08/d25a034d15621b117dc5a2b73c2ac27e-000_36PP94R.jpg)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Muhammad Samsul Hadi