Mengapa Pasukan Pemerintah Suriah Cepat Ambruk?

Setidaknya ada tujuh faktor yang bisa menjelaskan penyebab pasukan Pemerintah Suriah begitu cepat ambruk menghadapi serangan pasukan Hayat Tahrir al-Sham.

06 Des 2024 12:44 WIB · Opini

Oleh Musthafa Abd Rahman

Pasukan oposisi bersenjata Suriah yang dipimpin Hayat Tahrir al- Sham (HTS) sejak 27 November 2024 secara mengejutkan melancarkan serangan besar, cepat, dan mendadak atas posisi pasukan Pemerintah Suriah di wilayah Suriah utara, khususnya kota Aleppo dan sekitarnya.

Pertahanan pasukan Pemerintah Suriah segera ambruk tak berdaya menghadapi serangan besar pasukan oposisi pimpinan HTS. Maka, kota Aleppo yang sangat strategis dan kota terbesar kedua di Suriah setelah Damaskus pun segera jatuh pula ke tangan pasukan oposisi.

Tak hanya Aleppo, sejak Kamis (5/12/2024), mereka juga menguasai kota Hama, ibu kota Provinsi Hama, wilayah selatan Idlib dan Allepo yang menjadi jalur utama menuju ibu kota Damaskus.

Pasukan oposisi pernah menguasai sebagian besar kota Aleppo hingga tahun 2016. Pada akhir tahun itu, pasukan Pemerintah Suriah yang didukung Rusia dan Iran mengusir pasukan oposisi dari kota Aleppo.

Wilayah lain di Provinsi Aleppo dan Provinsi Idlib bagian timur, yang dikontrol pasukan Pemerintah Suriah, segera jatuh pula ke tangan pasukan oposisi pimpinan HTS. Dari Idlib dan Aleppo, pasukan oposisi pimpinan HTS bergerak ke arah selatan menuju Provinsi Hama.

Warga turun ke jalan menyambut pasukan oposisi yang menguasai kota Hama, Provinsi Hama, Kamis (5/12/2024).

Wilayah utara Provinsi Hama juga ikut jatuh ke tangan pasukan oposisi. Diberitakan, setelah pada Rabu (4/12/2024) pasukan oposisi pimpinan HTS berada dalam posisi hanya sekitar 6 kilometer dari pusat kota Hama, pada hari Kamis kota itu jatuh ke tangan HTS. Kota Hama hanya berjarak sekitar 215 kilometer utara kota Damaskus.

Keberhasilan pasukan oposisi Suriah menguasai kembali kota Aleppo dan wilayah lain di Suriah utara itu mengubah lagi peta konflik Suriah. Padahal, sejak pasukan Pemerintah Suriah yang didukung Rusia dan Iran merebut lagi kota Aleppo tahun 2016, diasumsikan saat itu bahwa pasukan oposisi Suriah telah ambruk dan tamat riwayatnya.

Namun, perkembangan Suriah dalam sepekan ini mengejutkan semua pengamat. Pasukan oposisi bersenjata Suriah ternyata bangkit.

Quote

Sejak pasukan Pemerintah Suriah yang didukung Rusia dan Iran merebut lagi kota Aleppo tahun 2016, diasumsikan saat itu bahwa pasukan oposisi Suriah telah ambruk dan tamat riwayatnya. Namun, perkembangan Suriah dalam sepekan ini mengejutkan semua pengamat.

Mengapa pasukan Pemerintah Suriah loyalis Presiden Bashar al-Assad begitu cepat ambruk menghadapi serangan pasukan oposisi pimpinan HTS? Ada setidaknya tujuh faktor yang bisa menjelaskan hal itu.

Pertama, tiadanya dukungan pesawat tempur Rusia atas pasukan Pemerintah Suriah di darat. Hal ini membuat pasukan Pemerintah Suriah menghadapi pasukan oposisi tanpa sandaran payung udara dari pesawat tempur Rusia. Keunggulan pasukan Pemerintah Suriah dalam menghadapi pasukan oposisi selama ini karena mendapat dukungan udara dari Rusia.

Kedua, pasukan Pemerintah Suriah di darat juga tidak mendapat dukungan dari milisi Iran dan Hizbullah. Milisi Hizbullah dalam satu tahun terakhir ini lebih banyak fokus menghadapi Israel sebagai solidaritas terhadap Hamas dalam perang di Jalur Gaza.

Gerakan milisi Iran di Suriah juga semakin terbatas. Mereka sering menjadi sasaran serangan udara Israel. Maka, pasukan Pemerintah Suriah saat ini hanya sendirian dalam menghadapi pasukan oposisi pimpinan HTS. Kekuatan pasukan Pemerintah Suriah menjadi sangat menurun tanpa dukungan Hizbullah dan milisi Iran.

Ketiga, pasukan oposisi mendapat dukungan logistik perang yang ditinggal pasukan Pemerintah Suriah yang lari dari medan pertempuran. Logistik perang tersebut, seperti gudang peluru, roket antitank, pesawat drone buatan Iran, tank, dan kendaraan lapis baja. Peralatan perang itu kemudian digunakan pasukan oposisi untuk menyerang pasukan pemerintah.

Keempat, pasukan oposisi pimpinan HTS begitu cepat menguasai wilayah yang luas di Provinsi Aleppo, Provinsi Idlib bagian timur, dan Provinsi Hama bagian utara, sehingga pasukan Pemerintah Suriah kesulitan melakukan koordinasi barisan dan melancarkan serangan balik secara cepat pula.

Kelima, sebelum melancarkan serangan besar pada 27 November 2024, pasukan oposisi melakukan penyusupan intelijen ke wilayah yang dikontrol pasukan pemerintah. Dari gerakan intelijen itu, pasukan oposisi mendapat informasi akurat terkait posisi pasukan pemerintah yang sangat lemah karena tiadanya dukungan milisi Iran dan Hizbullah di lapangan.

(FILES) A file handout picture released by the Syrian Arab News Agency (SANA) shows (L-R) then Iranian President Mahmoud Ahmadinejad, his Syrian counterpart Bashar al-Assad (C) and Lebanon's Hezbollah chief Hassan Nasrallah (R) upon their arrival for an official dinner in Damascus on February 25, 2010. In a televised address, the Iran-backed group's deputy chief Naim Qassem said on September 30, 2024 a new leader to replace Hassan Nasrallah, who enjoyed cult status among his supporters, would be selected "at the earliest opportunity", following his killing in an Israeli airstrike last week. (Photo by SANA / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO /SANA " - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS

Keenam, kecerdikan pimpinan oposisi Suriah membaca situasi politik regional dan internasional yang membawa dampak lemahnya posisi politik Presiden Bashar al-Assad dan pasukannya di lapangan. Dalam konteks regional, Iran sebagai pendukung utama rezim Assad dalam posisi sulit di Suriah, menyusul serangan gencar Israel atas banyak pimpinan Garda Revolusi Iran di Suriah.

Serangan mematikan Israel adalah serangan atas konsulat Iran di Damaskus pada 1 April 2024 yang menewaskan 16 orang, termasuk Komandan Divisi Al-Quds dari Garda Revolusi Iran Mohammad Reza Zahedi. Iran pun membatasi gerakannya di Suriah untuk mencegah menjadi sasaran serangan Israel.

Dalam konteks internasional, Rusia semakin disibukkan dengan perang Ukraina. Inilah situasi yang dibaca pimpinan oposisi Suriah dan dijadikan peluang untuk menyerang pasukan Pemerintah Suriah serta merebut kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya dikontrol pasukan Damaskus.

Bacaan pimpinan oposisi Suriah itu ternyata sangat benar. Rezim Assad dan pasukannya sedang tidak mendapat payung dukungan militer yang kuat dari mitranya, Rusia dan Iran.

Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu (kiri) dan Presiden Suriah Bashar al-Assad tersenyum dalam pertemuan mereka di Damaskus, Suriah, 15 Februari 2022. In this photo taken from video provided by the Russian Defense Ministry Press Service on Tuesday, Feb. 15, 2022, Russian Defense Minister Sergei Shoigu, left, and Syrian President Bashar Assad, right, smile during their meeting in Damascus, Syria. Shoigu arrived in Syria to oversee the drills that mark the biggest Russian naval deployment to the Mediterranean since the Cold War. The Defense Ministry said the exercises involve 15 warships and about 30 aircraft and are part of a series of sweeping naval drills that started last month. (Russian Defense Ministry Press Service via AP)

Ketujuh, pasukan oposisi Suriah mampu mengembangkan dan menguasai teknologi militer, seperti bisa membuat pesawat nirawak (drone) dan memiliki teknologi penglihatan malam sehingga bisa bertempur pada malam hari.

Pesawat drone milik pasukan oposisi Suriah itu sangat membantu dan menentukan keberhasilan pasukan oposisi Suriah menguasai kembali kota Aleppo. Dubes Rusia untuk PBB Vasily Nebenzya hari Selasa, 3 November 2024, menuduh Ukraina memasok pesawat drone kepada pasukan oposisi Suriah.

Itulah sejumlah faktor yang mengubah lagi peta konflik Suriah. Bagaimana kelanjutan memanasnya kembali api konflik di Suriah, penting untuk terus dicermati.

Musthafa Abd Rahman, wartawan Kompas 1991-2022

Musthafa Abd Rahman (MUS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Musthafa Abd Rahman
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi