Banjir lahar Semeru terjadi lagi. Kali ini, alirannya mencapai Jembatan Gladak Perak, 13 kilometer dari puncak.
22 Nov 2025 15:44 WIB · Lingkungan
Kompas/Bahana Patria Gupta
Banjir lahar hujan kembali terjadi di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur, Sabtu (22/11/2025). Kerap disebut bahaya sekunder, dampaknya tetap saja berbahaya.
Dari video yang direkam dan dikirimkan Badan Geologi, banjir lahar hujan sudah mengalir di Kali Lanang dan Besuk Kobokan. Kejadian itu terekam sekitar pukul 10.50 WIB.
Besuk Kobokan melintas Jembatan Gladak Perak yang tiga hari sebelumnya terpapar awan panas. Adapun jarak pusat letusan dengan Jembatan Gladak Perak sekitar 13 kilometer.
Kejadian ini yang kedua dalam dua hari terakhir. Sebelumnya, banjir lahar juga terjadi di Besuk Kobokan di Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jumat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/21/326b3c744362e2fa23aca5c77031d600-20251121BAH30.jpg)
Hal ini menyebabkan terbentuknya asap pekat abu-abu kehitaman bertekanan. Suara gemuruh dan hujan abu tebal mengiringi gerakan asap di sekitar lokasi itu (Kompas, 22/11/2025).
Akibatnya, badan Jembatan Gladak Perak yang membentang di atas Besuk Kobokan seperti tertutup asap dengan jarak pandang yang sangat pendek.
Hal ini membuat lalu lintas dari Malang ke Lumajang dan sebaliknya terhambat. Kendaraan menunggu di sisi kiri dan kanan jembatan hingga jarak pandang normal kembali pada petang hari.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim Satrio Nurseno membenarkan terjadinya lahar hujan itu. Getaran pada alat pemantau mencapai akselerasi maksimum 43 milimeter.
Sabtu siang, visual Gunung Semeru dilaporkan kembali tertutup. Di sekitar Semeru juga sedang turun hujan dengan intensitas sedang-tinggi. Hujan rawan memicu banjir lahar hingga awan panas.
Terkait itu, Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi agar warga di daerah aliran sungai dan sekitarnya berhati-hati dan meningkatkan kewaspadaan.
Hal ini selaras dengan rekomendasi yang sebelumnya dikeluarkan Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid di tengah meningkatnya aktivitas Semeru. Setelah erupsi, banjir lahar hujan rawan terjadi, terutama di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/06/bde56d51-b453-4b4d-a060-c11e2853d43f.jpg)
”Potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan juga harus diwaspadai,” kata Wafid.
Selain itu, masyarakat diminta tidak beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai sepanjang Besuk Kobokan. Daerah itu berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 13 km dari puncak.
Mengutip laman Kementerian Energi Sumber Daya Alam, lahar hujan terjadi apabila endapan material lepas hasil erupsi gunung api yang diendapkan pada puncak dan lereng terangkut hujan atau air permukaan.
Lahar ini berupa aliran lumpur yang sangat pekat sehingga dapat mengangkut material berbagai ukuran. Bongkahan batu besar berdiameter lebih dari 5 meter dapat mengapung pada aliran lumpur ini. Lahar juga dapat mengubah topografi sungai yang dilaluinya dan merusak infrastruktur.
Menurut ahli vulkanologi Surono, setidaknya ada dua pemicu banjir lahar, yaitu material vulkanik halus (abu, kerikil halus, dan pasir) serta endapan awan panas. Keduanya rawan luruh saat hujan deras.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/11/89207895-cd09-438a-9178-8b7552e2c79d.jpg)
Material halus vulkanik dalam jumlah banyak bisa memicu banjir lahar apabila masuk aliran sungai dan bercampur air.
Begitu masuk ke sungai, material halus akan bercampur dengan air sehingga berat jenis air sungai meningkat dan lebih bertenaga.
Tidak heran, material sungai, seperti batuan besar, amat mudah terangkat dan hanyut. Hal ini juga terlihat di Besuk Kobokan pada Sabtu.
Kekuatan mengangkat batu besar juga dipengaruhi tingginya sifat gelincir air yang bercampur abu vulkanik. Kontur curam bisa menyebabkan laju lahar lebih deras dan berdaya rusak besar.
Penyebab kedua adalah endapan vulkanik dari aktivitas awan panas. Secara visual, material vulkanik terlihat mengeras di luar, tetapi sesungguhnya bagian dalam masih panas. Suhunya bisa lebih dari 400 derajat celsius.
Indikasinya, ada bau belerang dan letusan kecil akibat endapan awan panas bertemu dengan air sungai yang dingin. Hal ini terlihat dalam rekaman video di Kali Lanang.
Hujan bahkan bisa memicu erupsi seperti yang terjadi pada tahun 2021. Saat itu hujan mengguyur kubah air dan memicu retakan.
Selanjutnya, kubah terbuka mengeluarkan gas, material halus dan kasar, kerikil, hingga bongkahan batu yang meluncur mengikuti lereng menjadi awan panas guguran.
Kondisi ini bisa lebih berbahaya. Sebab, awan panas yang tak muncul dari aktivitas vulkanik itu rentan tidak terekam peralatan pemantauan gunung api.
Ke depan, mitigasi menjadi tanggung jawab bersama. Potensi bahaya yang timbul akibat peningkatan aktivitas Semeru tidak hanya terjadi sekali saat erupsi. Dampak lain juga mesti diwaspadai sejak dini.
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti