Warga terdampak erupsi Semeru berharap timbunan material vulkanik di Besuk Kobokan dekat tempat tinggal mereka disudet agar banjir lahar hujan tidak melimpas.
21 Nov 2025 19:08 WIB · Lingkungan
Kompas/Bahana Patria Gupta
LUMAJANG, KOMPAS —Hujan deras memicu terjadinya erupsi sekunder di lereng Semeru, Jumat (21/11/2025) siang hingga sore. Banjir lahar hujan pun melanda sepanjang Besuk Kobokan di Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
Erupsi sekunder dimungkinkan terjadi saat material hasil awan panas guguran yang terendap di sungai berkontak dengan air sehingga terjadi perubahan fasa air menjadi fasa uap yang bertekanan cukup tinggi di sepanjang aliran lahar. Adapun banjir lahar terjadi akibat erupsi sekunder yang disertai hujan deras.
Di Besuk Kobokan, tempat jalur lahar Semeru, air hujan yang turun bereaksi dengan endapan material awan panas guguran yang masih bersuhu tinggi. Hal ini menyebabkan terbentuknya asap pekat abu-abu kehitaman bertekanan. Suara gemuruh dan hujan abu tebal mengiringi gerakan asap di sekitar lokasi itu.
Akibatnya, badan jembatan Gladak Perak yang membentang di atas Besuk Kobokan seperti tertutup asap dengan jarak pandang yang sangat pendek. Hal ini membuat lalu lintas dari Malang ke Lumajang dan sebaliknya sempat terhambat. Kendaraan menunggu di sisi kiri dan kanan jembatan hingga jarak pandang normal kembali pada petang hari.
”Akses kendaraan sempat ditutup dua arah. Sejak pukul 13.00 dan sekarang bertambah gelap kondisinya. Bahaya kalau memaksakan diri, jarak pandang bisa terganggu,” ujar Ajun Inspektur Satu Sultoni, anggota Satuan Lalu Lintas Polres Lumajang yang tengah berjaga di lokasi.
Petugas pun meminta warga yang masih sibuk membenahi atau memungut sisa-sisa kerusakan di Dusun Sumbersari dan Gumukmas di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, segera meninggalkan lokasi menuju tempat yang lebih aman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/21/384eede6d02f585ab800f74a81229797-20251121BAH36.jpg)
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur Satrio Nurseno membenarkan terjadinya lahar hujan itu. Getaran pada alat pemantau mencapai akselerasi maksimum 43 milimeter.
Sementara itu, warga terdampak erupsi berharap tumpukan material yang masif, di Besuk Kobokan, di dekat permukiman mereka, segera disodet. Warga khawatir tumpukan material itu akan menganggu jalur air saat banjir lahar hujan terjadi.
Salah Satu warga Gumukmas, Usman (33), mengatakan, dia dan keluarga tidak berani tinggal di rumah meski rumahnya tidak mengalami kerusakan. Rumah Usman hanya tertimbun pasir sebatas lantai. Dia pun memilih mengungsi ke rumah ibunya di daerah Piket Nol, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro.
Dia dan keluarganya memilih mengungsi selama tumpukan material itu belum disodet. ”Kalau di sana (Besuk Kobokan) tidak disodet maka airnya akan ke sini (rumah) jika ada banjir,” ujarnya, Jumat (21/11/2025).
Pascaerupsi besar 2021, menurut dia, banjir lahar dari Besuk Kobokan tidak sampai ke permukiman warga di Gumukmas lantaran batas permukaan tanggul dengan dasar sungai masih dalam. Adapun saat ini dasar sungai sudah penuh tumpukan material.
Bahkan, awan panas guguran yang menerjang sebagian Dusun Sumbersari, Rabu (19/11/2025), kemarin tak hanya membawa pasir dalam jumlah besar ke daerah itu, tetapi juga bebatuan berukuran besar ke pekarangan warga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/21/38f7a65f69fec7125e078d50067f9e20-20251121BAH26.jpg)
Hal senada dikatakan Titin (30), warga Gumukmas lainnya. Titin yang mengungsi di SDN 04 Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, mengatakan, dirinya bersama dua anak dan suaminya, memilih mengungsi karena khawatir. Rumahnya yang berada di dekat Besuk Kobokan.
Rumah Titin baru saja selesai direnovasi dan kondisinya tidak mengalami kerusakan. ”Namun, lokasinya berada di ujung, di pinggir Besuk Kobokan. Dalam situasi seperti saat ini, bahaya bisa mengancam sewaktu-waktu, khususnya banjir lahar hujan,” ujarnya.
Hingga hari kedua pascaerupsi proses pembersihan material masih terus dilakukan, baik yang ada di rumah-rumah warga terdampak maupun di akses jalan menggunakan alat berat.
Kesibukan perbaikan jaringan listrik yang putus tengah terlihat di beberapa sudut Dusun Sumbersari dan Gumukmas. Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, saat meninjau lokasi terdampak, mengatakan, ada sekitar 28 tiang listrik yang terdampak, termasuk transformator (trafo). Saat ini perwakilan PLN tengah melakukan pembenahan.
Khofifah juga menyebut bahwa pihaknya telah mendengar aspirasi warga terkait permohonan penyodetan material di Besuk Kobokan yang dimaksud. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait soal ini sehingga nantinya luberan material banjir lahar tidak berisiko ke permukiman sekitarnya.
”Masyarakat ingin dibukakan sodetan, kita juga sudah mengoordinasikan dengan tim Pekerjaan Umum dan Bina Marga Pusat, Badan Jalan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Sama-sama kita integrasikan apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan masyarakat,” katanya. Menurut Khofifah antisipasi dan mitigasi dilakukan seiring dengan kewaspadaan masyarakat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/21/6aeaccab8c6da79dc0a34b174568b303-20251121BAH16.jpg)
Sementara itu, status Semeru saat ini masih Awas (level 4). Mengutip laman magma.esdm.go.id pada 21 November terpantau terjadi 45 kali gempa letusan/erupsi, 6 kali gempa guguran, 8 kali gempa embusan, dan 5 kali gempa tektonik jauh.
Secara visual, tubuh Semeru terlihat jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah tidak teramati. Cuaca mendung hingga hujan, angin lembah ke arah tenggara. Terekam gempa letusan, tetapi secara visual tinggi letusan dan warna abu tidak teramati. Juga soal guguran, jarak dan arahnya tidak teramati.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi masih merekomendasikan agar warga tidak beraktivitas di sektor tenggara, di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 20 kilometer (km) dari puncak.
Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari sempadan sungai, di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar. Warga juga diimbau tidak beraktivitas dalam radius 8 km dari kawah Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).
Mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru, terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
Penulis:
Defri WerdionoEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase