Pembukaan akses jalan yang terputus akibat bencana di Agam berlangsung lambat karena jumlah alat berat tidak memadai. Pemkab Agam berupaya mencari pinjaman.
02 Des 2025 20:46 WIB · Lingkungan
KOMPAS/YOLA SASTRA
AGAM, KOMPAS — Pemerintah Kabupaten Agam, Sumatera Barat, masih kekurangan alat berat untuk membuka akses jalan yang terputus akibat banjir bandang dan longsor. Sejumlah nagari terisolasi karena akses jalan dari berbagai arah belum terbuka.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Agam Rahmad Lasmono, Selasa (2/12/2025), mengatakan, saat ini, setidaknya ada empat kecamatan yang aksesnya terputus akibat banjir bandang dan longsor, yaitu Palembayan, Malalak, Matur, dan Tanjung Raya. ”Kecamatan itu terisolasi semua,” katanya.
Menurut Rahmad, saat ini, pemkab masih kekurangan alat berat untuk membuka dan memperbaiki akses jalan. Sedikitnya, ada 20 alat berat yang dibutuhkan, terutama untuk kebutuhan di empat kecamatan itu.
”Yang tersedia, baru 12 alat berat. Jumlah itu belum dapat memenuhi (kebutuhan) seluruhnya untuk percepatan pembukaan akses,” ujar Rahmad.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/efaaddaf52112a07ba43cab44b150a4d-DSC05445.JPG)
Rahmad menyebut, pemkab berupaya meminta bantuan alat berat dari kabupaten/kota tetangga untuk memenuhi kebutuhan. Selain itu, pemkab juga berupaya meminjam ataupun menyewa alat berat kepada pihak swasta.
Pantauan di Palembayan, Selasa (2/12/2025), akses jalan dari arah Lubuk Basung ke Bukittinggi masih terputus di Jorong Silungkang, Nagari Tigo Koto Silungkang. Dua alat berat dari Polda Riau bekerja membersihkan material longsor di badan jalan dari arah Lubuk Basung.
Hingga Selasa siang, ada sebelas titik longsor dapat dilewati kendaraan dari hingga Jorong Silungkang. Namun, kondisinya berlumpur dan licin dan dapat menyebabkan pengendara sepeda motor tergelincir.
”Dari awal Tigo Koto Silungkang, sudah sebelas titik yang terbuka. Ada 17 titik longsor dan jalan putus lagi di Tigo Koto Silungkang yang belum dapat dilewati. Masih ada dua jorong terisolasi, yaitu Silungkang dan Tantaman,” kata Nasril (51), Ketua Kelompok Siaga Bencana (KSB) Nagari Tigo Koto Silungkang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/93fc09dfc130f07d7fc091d375fbc31c-DSC05469_1.JPG)
Adapun akses menuju Nagari Tigo Koto Silungkang dari arah Bukittinggi, kata Nasril, juga banyak jalan yang terputus akibat tertutup material longsor ataupun terban. Begitu pula jalan dari arah Palupuh.
Selain jalan di Nagari Tigo Koto Silungkang, jalan di dua nagari terparah banjir bandang, yaitu Salareh Aia dan Salareh Aia Timur, juga belum ideal. Jalan dapat dilewati, tetapi riskan dan sering macet.
Di Jorong Kayu Pasak, Salareh Aia, misalnya, badan jalan masih berlumpur basah. Saat hujan, lumpur tebal dari kedua sisi jalan mengalir ke badan jalan. Kendaraan masyarakat ramai keluar-masuk mengantarkan langsung bantuan ke lokasi masyarakat terdampak.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/a9b71afd91642067cf6e8321cbfc6a63-DSC05525_1.JPG)
Jalan di lokasi ini juga sempit sehingga ketika berselisih, beberapa mobil terperosok ke lumpur di pinggir jalan. Jalan sempit, mobil terperosok, dan hanya terbuka satu arah dari arah Lubuk Basung kerap memicu kemacetan.
Secara terpisah, Kepala Polres Agam Ajun Komisaris Besar Muari mengatakan, ada empat nagari yang masih terisolasi di Kecamatan Palembayan, yaitu Baringin, Sungai Puar, Ampek Koto, dan Sipinang. Akses dari arah Lubuk Basung, Bukittinggi, dan lainnya terputus.
Menurut Muari, pihaknya berkoordinasi dengan Pemkab Agam agar akses jalan yang longsor dan terban ini dapat segera dibuka dan diperbaiki. Terputusnya akses menghambat distribusi bantuan dan mobilisasi masyarakat. ”Kami akan berkomunikasi dengan bupati atau sekda untuk meminta tambahan alat berat,” katanya.
Penulis:
Yola SastraEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul