Pertumpahan darah di Latakia dan Tartous menjadi ujian serius bagi pemerintahan sementara Ahmed al-Sharaa dan alarm berbahaya bagi kelanjutan Suriah pasca-Assad.
10 Mar 2025 08:10 WIB · Opini
Pertumpahan darah di Suriah beberapa hari ini sungguh mencemaskan. Jika salah menangani, Suriah bisa kembali terseret dalam perang saudara berkepanjangan.
Di tengah ketidakpastian soal kelanjutan gencatan senjata antara Hamas dan Israel di Jalur Gaza, dari wilayah lain Timur Tengah muncul kabar mengagetkan. Seperti diberitakan, sejak Kamis (6/3/2025), pasukan keamanan Suriah terlibat pertempuran dengan pasukan loyalis mantan Presiden Bashar al-Assad di Provinsi Latakia dan Tartous, Suriah barat.
Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR), organisasi di London, Inggris, yang mengandalkan informasi jaringan narasumbernya di Suriah, Minggu (9/3/2024), menyebut korban pertumpahan darah tiga hari sejak Kamis telah melampaui 1.000 orang.
Rami Abdulrahman, Kepala SOHR, menyebut jumlah korban itu salah satu yang tertinggi sejak serangan senjata kimia oleh pasukan Assad di pinggiran Damaskus tahun 2013 yang menewaskan sekitar 1.400 orang (Reuters, 9/3/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/f53a1bce2da6022a9f490d4602a17a34-Syria_Clashes_128071147.jpg)
Dilaporkan SOHR, 745 warga sipil terbunuh, sebagian besar ditembak dari jarak dekat. Selain mereka, 125 aparat pemerintah dan 148 anggota milisi pendukung Assad tewas. Akibat pertempuran itu, layanan listrik dan air minum terputus dari Latakia (Kompas.id, 9/3/2025).
Korban jiwa sipil terbesar berasal dari kelompok minoritas Alawi. Banyak anggota komunitas ini tinggal di Latakia. Mereka selama puluhan tahun menjadi pendukung utama dinasti Assad. Bagaimana pertumpahan darah itu bermula, pasukan pemerintah baru Suriah dan pasukan loyalis Assad saling tuding.
Melihat jumlah korban terbesar dari warga minoritas Alawi, muncul penilaian bahwa ini adalah pembantaian sektarian dengan tujuan mengusir populasi Alawi dari kampung halaman mereka. Jika benar penilaian itu, ini menjadi tugas dan tanggung jawab pemimpin sementara Suriah, Ahmed al-Sharaa, untuk segera menangani masalah ini dengan sungguh-sungguh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/09/179edf682814b727692ca0a69a246034-SYRIA_CONFLICT_POLITICS_DIALOGUE_127766397.jpg)
Kita masih ingat dan mencatat janji Sharaa setelah menumbangkan rezim Assad, awal Desember 2024, untuk mewujudkan Suriah yang inklusif, toleran pada kelompok-kelompok minoritas, dan menghormati keberagaman. Insiden sejak Kamis lalu menjadi ujian serius bagi pemerintahan Sharaa dan alarm berbahaya bagi kelanjutan Suriah pasca-Assad.
Seperti telah diperingatkan banyak pihak, Suriah diharapkan tidak mengulang nasib Irak setelah tumbangnya Saddam Hussein atau Libya pasca-Moammar Khadafy. Konflik sektarian berkepanjangan di Irak menjadi lahan subur terorisme. Kekacauan dan instabilitas masih terus merajam Libya.
Nasib Suriah tergantung pada kemampuan Sharaa, mantan komandan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang pernah menjadi bagian Al Qaeda: apakah janjinya menciptakan Suriah yang inklusif dan toleran bisa diwujudkan melalui tindakan nyata. Jika gagal, pertaruhannya adalah tampilnya kembali teater perang proksi dan konflik berdarah di negara itu.
Penulis:
REDAKSIEditor:
Muhammad Samsul Hadi, Marcellus HernowoPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti