Alaska, Masa Lalu Rusia yang Menjadi Tempat Pertemuan Trump-Putin

Alaska pernah memiliki kedekatan sejarah dengan Rusia. Pemilihan Alaska sebagai lokasi pertemuan mengandung sejumlah makna bagi Trump dan Putin.

12 Agt 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

Pada Jumat (15/8/2025) mendatang Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan mengadakan pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Menurut rencana, pertemuan yang membahas perang Ukraina itu akan berlangsung di wilayah paling terpencil AS, tepatnya di Alaska.

Berlokasi di tepi barat laut Amerika Utara, Negara Bagian Alaska memiliki kedekatan dengan Rusia. Wilayah itu pernah menjadi bagian wilayah Rusia.

Kehadiran Rusia di Alaska berakhir setelah Kekaisaran Rusia menjual wilayah tersebut ke Washington. Tsar Alexander II menjual Alaska kepada Amerika Serikat seharga 7,2 juta dollar AS pada tahun 1867.

Pembelian wilayah yang luasnya lebih dari dua kali lipat Texas itu menuai kritik luas di AS pada saat itu. Para kritikus menyebut pembelian itu sebagai ”kebodohan Seward”.

Sebutan itu merujuk pada nama dalang dari kesepakatan pembelian tersebut, yaitu Menteri Luar Negeri AS William Seward.

Meski sudah dibeli AS, pengaruh Rusia masih terasa di beberapa bagian Alaska yang terbentang hanya beberapa mil dari daratan Rusia dan dipisahkan Selat Bering itu. Salah satunya berupa Gereja Ortodoks Rusia.

Gereja tersebut berdiri di Alaska setelah berdirinya Perusahaan Rusia-Amerika. Menurut sebuah organisasi yang didedikasikan untuk melestarikan bangunan-bangunan Gereja Ortodoks, terdapat lebih dari 35 gereja dengan beberapa di antaranya memiliki kubah berbentuk bawang yang khas tersebar di pesisir Alaska.

(FILES) The Saint Sophia Orthodox Church where the Reverend Michael Trefon who is of Yupik Eskimo descent, is the rector and conducts Russian Orthodox church services for his mainly Yupik Eskimo congregation in Bethel, Alaska on April 17, 2019. Presidents Donald Trump and Vladimir Putin will hold a high-stakes meeting about the Ukraine war on August 15, 2025, in Alaska, which the United States bought from Russia more than 150 years ago. Russian influence still endures in parts of the remote state on the northwest edge of the North American continent, which extends just a few miles from Russia. (Photo by Mark RALSTON / AFP)

Keuskupan Ortodoks Alaska mengatakan, keuskupan tersebut adalah yang tertua di Amerika Utara. Bahkan, Keuskupan Ortodoks Alaska memiliki sebuah seminari di Pulau Kodiak. Gereja Ortodoks sampai saat ini merupakan salah satu pengaruh Rusia paling signifikan yang tersisa di Alaska.

Pengaruh Rusia juga terlihat pada dialek lokal. Dialek itu berasal dari bahasa Rusia yang bercampur dengan bahasa-bahasa asli Alaska.

Dialek itu sempat bertahan selama beberapa dekade di berbagai komunitas, terutama komunitas di dekat kota terbesar negara bagian itu, Anchorage. Sayangnya kini dialek itu sudah punah.

Namun, di dekat gletser besar di Semenanjung Kenai selatan, bahasa Rusia masih diajarkan. Sebuah sekolah perdesaan kecil milik komunitas Ortodoks yang dikenal sebagai ”Old Believers” yang didirikan pada 1960-an mengajarkan bahasa Rusia kepada sekitar 100 siswa.

Tentang kedekatan Alaska dan Rusia, Gubernur Negara Bagian Alaska Sarah Palin pada 2008 pernah mengatakan, mereka adalah tetangga sebelah kita. ”Anda benar-benar dapat melihat Rusia dari daratan di sini, di Alaska, dari sebuah pulau di Alaska,” kata Sarah Palin.

Meski tidak mungkin melihat Rusia dari daratan Alaska, namun terdapat dua pulau yang saling berhadapan di Selat Bering. Pulau Diomede Besar, Rusia terletak tepat di sebelah barat Pulau Diomede Kecil, AS yang dihuni puluhan orang. Dua pulau ini dipisahkan perairan sejauh empat kilometer.

Selama bertahun-tahun, militer AS secara teratur mencegat pesawat Rusia yang terbang terlalu dekat dengan wilayah udara AS di wilayah tersebut. Namun, Rusia seolah-olah tidak tertarik untuk merebut kembali wilayah yang pernah dikuasainya itu. Putin, pada 2014, pernah mengatakan, ”Alaska terlalu dingin.”

(FILES) The Reverend Michael Trefon who is of Yupik Eskimo descent, conducts a Russian Orthodox church service before Easter at the Saint Sophia Orthodox Church to his mainly Yupik Eskimo congregation in Bethel, Alaska on April 17, 2019. Presidents Donald Trump and Vladimir Putin will hold a high-stakes meeting about the Ukraine war on August 15, 2025, in Alaska, which the United States bought from Russia more than 150 years ago. Russian influence still endures in parts of the remote state on the northwest edge of the North American continent, which extends just a few miles from Russia. (Photo by Mark RALSTON / AFP)

Kritikan

Pemilihan Alaska sebagai tuan rumah pertemuan Trump-Putin, dalam laporan Times edisi Sabtu (9/8/2025), sempat menuai kritik dari beberapa pejabat. Mereka khawatir dengan kedatangan Putin di AS. Mantan penasihat keamanan nasional Trump, John Bolton mengecam pertemuan itu.

”Ini tidak seburuk Trump mengundang Taliban ke Camp David untuk membahas negosiasi perdamaian di Afghanistan, tetapi ini tentu mengingatkan kita akan hal itu,” ujar Bolton kepada CNN.

”Satu-satunya tempat yang lebih baik bagi Putin adalah jika pertemuan puncak diadakan di Moskwa. Jadi, persiapan awal, menurut saya, merupakan kemenangan besar bagi Putin,” tambah Bolton.

Senator Republik Lisa Murkowski dari Alaska mengatakan, ia melihat pertemuan puncak tersebut sebagai kesempatan untuk menciptakan kesepakatan yang bermakna. Akan tetapi, ia juga mewaspadai Putin dan rezimnya.

”Saya berharap diskusi ini mengarah pada kemajuan yang nyata dan membantu mengakhiri perang dengan cara yang adil,” katanya dalam sebuah unggahan di X.

FILE - The Trans-Alaska Pipeline at Pump Station 1 near Deadhorse, Alaska, on the state's North Slope, on Monday, June 2, 2025. (AP Photo/Jenny Kane, File)

Pilihan logis

Namun, ajudan senior Putin, Yuri Ushakov, dalam laporan The Telegraph pada Minggu (10/8/2025) mengatakan, pemilihan Alaska sebagai lokasi pertemuan Trump-Putin merupakan pilihan logis. ”Rusia dan AS adalah tetangga dekat, berbagi perbatasan yang sama,” kata Ushakov dalam laporan Kantor Berita TASS.

Ushakov menambahkan, ”Tampaknya cukup logis bagi delegasi kami untuk terbang melintasi Selat Bering, pertemuan puncak para pemimpin kedua negara yang penting dan dinantikan ini akan berlangsung tepat di Alaska.”

Adapun Putin pada awalnya menyarankan supaya pertemuan berlangsung di Uni Emirat Arab (UEA). Namun, Trump kemudian menyarankan pertemuan di Alaska.

Keputusan Trump untuk menjadi tuan rumah pertemuan di wilayah AS mungkin mengejutkan. Namun, keputusan untuk menggunakan Alaska merupakan kemenangan bagi kedua pemimpin itu.

Sekilas, sebagai tuan rumah terlihat sebagai unjuk kekuatan bagi Trump. Tepatnya karena Putinlah yang akan mengunjunginya. Namun, di sisi lain ada keuntungan penting bagi Putin.

Dengan menggelar pertemuan di AS, berarti Putin dapat menghindari terbang di atas negara-negara musuh. Saat ini ia tengah menjadi subyek surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Pertemuan di Alaska juga membuka kemungkinan bagi Trump untuk menggelar kunjungan balasan ke Rusia, apalagi Putin telah mengundangnya. Adapun pilihan lokasi ini juga diterima dengan baik oleh para pemimpin politik di Alaska.

Mike Dunleavy, Gubernur Alaska yang berasal dari Partai Republik mengatakan, ia menyambut baik Alaska sebagai tuan rumah pertemuan tersebut. ”Alaska merupakan jembatan antarnegara,” katanya.

Alaska, kata Dunleavy, merupakan lokasi paling strategis di dunia mengingat kedekatannya dengan Rusia. Alaska siap menjadi tuan rumah pertemuan bersejarah ini.

"Rusia dan AS adalah tetangga dekat,” imbuh Dunleavy. Dan Sullivan, satu dari dua senator Republik di Negara Bagian Alaska pun menyuarakan hal yang sama.

(FILES) Hunters return from a trip searching for geese and ducks near the town of Quinhagak on the Yukon Delta in Alaska on April 12, 2019. Presidents Donald Trump and Vladimir Putin will hold a high-stakes meeting about the Ukraine war on August 15, 2025, in Alaska, which the United States bought from Russia more than 150 years ago. Russian influence still endures in parts of the remote state on the northwest edge of the North American continent, which extends just a few miles from Russia. (Photo by Mark RALSTON / AFP)

Akan tetapi, beberapa pakar mengatakan usulan agar Alaska digunakan sebagai lokasi KTT sebetulnya berasal dari Moskwa. Nina Khrushcheva, profesor hubungan internasional di New School di New York mengatakan, kontaknya di Moskwa mengatakan Kirill Dmitriev, utusan Putin, yang mengusulkan Alaska.

”(Pilihan Alaska) ini benar-benar pertunjukan untuk Trump,” kata Khrushcheva. ”Semua orang mengira tempat pertemuan akan berlangsung di negara ketiga, mungkin Arab Saudi atau semacamnya. Jadi pilihan Alaska itu benar-benar mengejutkan. Tetapi ini brilian.”

”Bagi Trump, ini brilian. Maksud saya, ini benar-benar pertunjukan. Dia berada di wilayahnya sendiri, jadi bagi Trump ini hebat,” imbuh Khrushcheva.

Sementara bagi Putin, menurut Khrushcheva, pemilihan Alaska merupakan hal yang luar biasa. Putin tinggal menyeberangi lautan dan sudah sampai di sana, alih-alih harus terbang melintasi negara lain.

Dengan terbang ke AS yang tidak mengakui yurisdiksi ICC, pemimpin Rusia tersebut tidak berisiko ditangkap. Tahun lalu, Putin mengunjungi Mongolia, sebuah negara anggota ICC, dan tidak menghadapi konsekuensi apa pun. ICC menuduh Mongolia gagal bekerja sama.

Salmon strips hang inside Gloria Simeon's smokehouse in Bethel, Alaska, on June 18, 2025. (AP Photo/Mark Thiessen)

Simbolik

John Herbst, mantan Duta Besar AS untuk Ukraina kepada The Telegraph mengatakan, ia merasa Putin ”senang” memberi Trump kemenangan. Hal itu karena Presiden AS memperlakukan mitranya dari Rusia dengan ”lembut”.

Selain itu penyelenggaraan perundingan di Alaska menghadirkan simbol lainnya. Alaska bukan hanya negara bagian AS terdekat dengan Moskwa. Alaskan juga ”Negara Perbatasan Terakhir” yang dahulu merupakan wilayah Rusia.

Namun, aneksasi wilayah Rusia oleh AS juga bisa menjadi amunisi bagi Putin jika ia ingin menyerang Trump secara terbuka. ”Jika negosiasi tidak berjalan sesuai keinginan Putin, ia mungkin akan sedikit mengolok-olok Trump,” kata Herbst.

Sementara Khrushcheva berpendapat bahwa Alaska berfungsi sebagai ”simbol” hubungan dagang yang menguntungkan yang ingin dijalin Kremlin dengan Washington. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase