You’ll Never Walk Alone bergemuruh di Anfield, semalam. Seakan menjadi bukti sepak bola dan musik dari kota pelabuhan ini selalu memiliki ikatan erat tanpa putus.
28 Apr 2025 17:12 WIB · Olahraga
Walk on through the wind/Walk on through the rain/Though your dreams be tossed and blown//
Walk on/walk on/With hope in your heart/And you'll never walk alone/You'll never walk alone//
Stadion Anfield yang memerah berubah syahdu ketika lagu ini bergema dari para pemain dan suporter. Lagu yang rutin dinyanyikan sebelum pertandingan, kini dilantunkan lagi dengan nuansa syukur selepas gim kemenangan atas trofi Liga Inggris 2024-2025.
Setelah dominasi Manchester City pada empat musim sebelumnya, Liverpool mematahkan runtutan kejayaan itu di kandang sendiri seusai menundukkan Tottenham Hotspur 5-1, Minggu (27/4/2025). Untuk pertama kali, Liverpool merayakan gelar juara liga secara meriah di tengah ”Kopites”, julukan pendukung Liverpool, mengingat kemenangan pada musim 2019/2020 terisolasi sepi karena pandemi.
Getaran lagu ”You’ll Never Walk Alone” ini memang tiada mati. Lagu yang ditulis pada tahun 1945 oleh dua komposer Amerika, yaitu Richard Rodgers dan Oscar Hammerstein II, untuk musikal Carousel ini dinyanyikan ulang oleh kelompok musik asal Liverpool, Gerry & The Pacemakers, pada 1960-an.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/28/b74f8621cacd3bb63032e3fd31749041-Britain_Soccer_Premier_League_11_.jpeg)
Ketika memuncaki tangga lagu di Inggris pada 1963, lagu ini dibawakan oleh para suporter sebelum pertandingan melawan Leicester City. Rupanya, kala itu, akhir musim 1963-1964, bertepatan juga dengan Liverpool meraih trofi Liga Inggris kembali pasca paceklik juara selama 17 tahun.
Keberadaan lagu ini di tengah para pencinta Liverpool saat itu tak pernah terencana. Lagu itu dinyanyikan karena saat itu 10 besar tangga lagu teratas di Inggris memang sengaja diputar di stadion untuk menanti laga dimulai. Walakin, ketika lagu yang sepenggal liriknya digubah oleh Gerry Marsden, vokalis Gerry & The Pacemakers, ini tergeser dari tangga lagu, para suporter serempak bersorak ”Di mana lagu kita?”.
Sejak saat itu, lagu ”You’ll Never Walk Alone” selalu bergaung dan menjadi lagu kebangsaan Liverpool. Bahkan, kalimat ini juga ditampilkan di Shankly Gates dan merupakan satu-satunya judul lagu yang muncul di lambang klub dalam sepak bola Inggris.
Sepak bola dan musik bagi kota Liverpool yang merupakan bagian dari Merseyside ini memang tak terpisahkan. Olahraga kelompok yang lahir di Inggris ini menjadi favorit di masa itu karena siapa saja bisa memainkannya meski dominasinya pada rakyat bawah.
Kota Liverpool menjadi tempat subur perkembangan sepak bola pada akhir era 1890-an dengan adanya klub Everton dan pecahannya, yaitu klub Liverpool. Di sisi lain, kota ini juga menyemai bibit musik pada masa itu dan menuainya seusai Perang Dunia II sejalan dengan bangkitnya lagi popularitas sepak bola.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/01/23/BeatlesStill09-1280x720_1579715712.jpg)
Apabila berbincang mengenai musik dan kota Liverpool, tentu kelompok musik bersejarah ini tak terlewat, yaitu The Beatles. Empat sekawan, yaitu John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr, yang akrab dijuluki ”The Fab Four” ini juga merupakan simbol kota Liverpool bagi dunia, layaknya klub sepak bola Liverpool.
Berawal dari grup The Quarrymen, Lennon, McCartney, dan Harrison mengembangkan sayap musiknya keluar Liverpool pada 1959. Sempat mencicip sejumlah gigs di Hamburg, Jerman, mereka kembali ke Liverpool dan rutin bermain di Cavern Club seiring menanjaknya gerakan Merseybeat di kota kelahiran mereka.
Dari klub musik independen ini, mereka berjumpa dengan produser dan manajer yang membawa karier musik mereka melintas batas benua. Saat itu pula, takdir mereka disatukan dengan Starr sebagai pemain drum. Kesuksesan The Beatles mengguncang musik dunia makin memantik perkembangan Merseybeat.
Gerry & The Pacemakers merupakan salah satu yang bertumbuh di era Merseybeat ini. Meski geliatnya mulai surut memasuki era 1970-an, pengaruh Merseybeat ini tetap menjadi inspirasi berbagai musisi yang lahir dan besar di Liverpool.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/28/fbe0ec8ab0e8886e5ad0d95ac725e763-IMG_0169.jpeg)
Jika akrab dengan lagu ”There She Goes” yang banyak dinyanyikan ulang hingga kini, perlu diketahui bahwa lagu tersebut merupakan milik band The La’s asal Liverpool. Ada juga lagu hits ”You To Me Are Everything” yang merupakan rilisan band The Real Thing asal Liverpool.
Kini, kota Liverpool masih mencetak talenta musiknya di jalur indie. Antara lain ada The Zutons, The Wombats, hingga yang tengah tenar, yaitu The Sway yang juga merupakan penggemar klub sepak bola Liverpool. Mereka juga jebolan dari Cavern Club setelah dibuka kembali pada 1991 hingga kini.
Cavern Club yang berlokasi di Liverpool ini merupakan tempat yang diincar berbagai musisi untuk mempertajam karier mereka. Beberapa nama besar, seperti Elton John, The Rolling Stones, The Kinks, Queen, Black Sabbath, dan The Who, mencicipi juga panggung di Cavern Club.
Liverpool memang punya cara untuk terus diingat.
Penulis:
Riana A IbrahimEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto