Tanpa kehadiran Alisson Becker dan Wojciech Szczesny, Liverpool dan Barcelona barangkali sudah menjadi bulan-bulanan. Tangan ajaib mereka menjadi pengubah nasib.
06 Mar 2025 10:58 WIB · Olahraga
PARIS, KAMIS — Fase 16 besar Liga Champions Eropa menjadi meriah berkat kisah kepahlawanan dua kiper kawakan, Alisson Becker dan Wojciech Szczesny. Berkat sentuhan tangan ajaib mereka, Liverpool dan Barcelona bisa menghindari nasib buruk. Momen berseminya Alisson dan Szczesny cukup langka mengingat nasib kiper yang kerap menjadi kambing hitam kegagalan tim.
Berbeda dengan penyerang, kiper sangat sering menjadi sasaran kekecewaan pendukung. Berapa pun banyaknya penyelamatan mereka lakukan, itu akan terlupakan jika ada satu gol yang bersarang. Hal sebaliknya dialami penyerang. Mereka akan tetap dipuja saat mencetak gol meski sebelumnya membuang-buang banyak peluang emas.
Nasib para kiper yang kerap dijadikan alasan kegagalan tim dilukiskan dengan elegan oleh pengarang Urugay, Eduardo Galeano. Ke mana pun mereka melangkah, rumput tak pernah tumbuh.
Momen seorang kiper mendapatkan sorotan sedemikian besar dalam satu pertandingan tergolong jarang terjadi. Dari sedikit kesempatan itu, Alisson dan Szczesny menjadi dua di antaranya. Mereka mengantarkan tim masing-masing mencetak kemenangan pada pertemuan pertama babak 16 besar Liga Champions Eropa, Kamis (6/3/2025) dini hari WIB.
Berkat sederet penyelamatan gemilang Alisson, Liverpool bisa bertahan dan berbalik menang. Dalam laga lainnya, Szczesny menahan gempuran Benfica setelah Barcelona hanya bermain dengan 10 orang. Kedua tangan kiper tersebut menghadirkan keajaiban yang mengubah nasib akhir laga.
Datang ke Stadion Parc des Princes, Paris, sebagai pemuncak klasemen Liga Inggris, Liverpool tidak berdaya menghadapi gempuran demi gempuran dari Paris Saint-Germain. Sejak laga dimulai, tim besutan Pelatih Luis Enrique itu mengincar gol cepat dan menang dengan selisih gol besar sebagai modal bertandang ke markas Liverpool pada pertemuan kedua.
Sepanjang laga, PSG melepaskan 27 tendangan dengan 10 di antaranya mengarah tepat ke gawang. Namun, dari semua percobaan tembakan itu, tidak ada satu pun yang bersarang di gawang Liverpool. Itu semua berkat tangan ajaib Alisson, kiper pertama timnas Brasil.
Banyaknya gempuran menyiratkan laga sepertinya akan berakhir untuk kemenangan PSG. Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Liverpool keluar sebagai pemenang berkat gol semata wayang Harvey Elliott, tiga menit menjelang waktu normal berakhir.
”Penghargaan penuh untuk tim. Paris sedikit lelah menjelang akhir pertandingan karena kerja keras kami. Mereka menciptakan peluang, tetapi kami berhasil mencatatkan nirbobol berkat (Alisson) dan pertahanan. Itu adalah pertandingan yang sangat solid dalam hal pertahanan,” kata Elliott.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/06/ff9ae3d06f4fa4e2e8d9f069be487ab7-wires_photo_2025_03_06T105135.186.jpg)
Wajar jika Alisson mendapatkan pujian setinggi langit dari rekan-rekannya. Selain melakukan sembilan penyelamatan krusial, gol kemenangan Liverpool pun diawali dari visi Alisson. Ia menyadari ada ruang besar tersisa di antara kiper dan bek PSG. Liverpool yang terus tertekan sepanjang laga mau tidak mau harus bermain langsung (direct).
Dalam situasi transisi, Alisson mengirimkan umpan lambung terukur kepada Darwin Nunez yang kemudian mengoper bola kepada Elliott yang mengonversinya menjadi gol. Melihat peran Alisson dalam menahan gempuran dan membangun serangan dari belakang membuka kesadaran publik bahwa peran kiper dalam sepak bola modern sudah sedemikian vital.
Selain dituntut untuk mengamankan gawang, kiper juga dibebani tugas untuk membantu serangan. Alisson mengemban tugas itu dengan sangat baik sehingga tidak hanya menghindarkan Liverpool dari kekalahan, bahkan hingga meraih kemenangan penting.
Meski begitu, Alisson tidak mau besar kepala. Menurut dia, kemenangan Liverpool diraih berkat kerja keras seluruh tim. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah. Selain tangan ajaib Alisson, para pemain PSG juga relatif jarang mendapatkan peluang berbahaya.
Hal itu disebabkan para pemain Liverpool menjaga agar area kotak penalti tidak diinvasi PSG. Dengan begitu, para pemain PSG akan terpaksa melepaskan tembakan jarak jauh yang dengan mudah dimentahkan Alisson.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/06/69c7215f0587868b5467bad27f64695e-wires_photo_2025_03_06T104452.671.jpg)
Tercatat hanya beberapa peluang dari Ousmane Dembele, Bradley Barcola, dan Khvicha Kvaratskhelia yang berhadapan langsung dengan Alisson. Semua peluang itu nyatanya masih mampu digagalkan dari jarak dekat.
Ini juga yang menjadi alasan meski mencatatkan 10 tembakan tepat sasaran, nilai xG PSG cukup kecil, yaitu hanya 1,82. Dari 10 tembakan tepat sasaran itu, hanya tiga yang nilai xG-nya cukup besar karena berhadapan langsung dengan Alisson di dalam kotak penalti.
”Semua upaya yang dilakukan tim membuat pekerjaan saya lebih mudah,” ucap Alisson.
Kisah kepahlawanan serupa ditorehkan Szczesny yang membantu Barca menang 1-0 atas tuan rumah Benfica di Estadio da Luz, Lisabon. Sebagaimana Liverpool dan PSG, laga antara Barca dan Benfica juga berat sebelah setelah Pau Cubarsi terkena kartu merah pada menit ke-22. Bermain dengan 10 orang, Barca menjadi sasaran empuk serangan Benfica.
Jika tanpa tangan ajaib Szczesny, Barca sudah pasti pulang dengan tangan hampa. Benfica melepaskan 26 tendangan dengan delapan di antaranya tepat sasaran. Namun, tidak ada yang berbuah gol. Sebaliknya, Barca mampu unggul berkat gol semata wayang dari Raphinha pada menit ke-61.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/06/6374acff07714ec9b2fd71d558fe6002-wires_photo_2025_03_06T104541.195.jpg)
”Jelas bahwa Szczesny berbeda. Setiap pertandingan dia lebih percaya diri, dan kami bertahan dengan lebih baik. Saya tahu dia bisa bermain di level ini karena saya melihatnya setiap hari dalam latihan,” kata Pelatih Barca Hansi Flick.
Szczesny memutuskan kembali bermain setelah sempat gantung sepatu ketika sepakat memutus kontrak dengan Juventus. Ia kembali ke lapangan hijau musim ini karena mendapat kesempatan membela Barca yang kehilangan kiper utama Marc-André ter Stegen karena cedera.
Liverpool dan Barca amat beruntung memiliki kiper kelas dunia seperti Alisson dan Szczesny. Berkat mereka, hasil akhir yang semestinya kemenangan jadi milik lawan bisa diputarbalikkan. Untuk kali ini, ke mana pun kiper melangkah, rumput ternyata terus bertumbuh. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji