Pelaku dan korban ”Aib Gijon” akan bertemu di Kansas City. Saat aroma dendam mengelilingi laga Aljazair versus Austria, ada celah untuk berkompromi bagi kedua tim.
27 Jun 2026 16:27 WIB · Olahraga
AP Photo/Eugene Hoshiko
KANSAS CITY, SABTU - 44 tahun setelah “Aib Gijon”, Aljazair berkesempatan membalas dendam kepada pelaku perilaku tidak sportif di Piala Dunia 1982, yaitu Austria. Bersamaan dengan motivasi dari masa lalu itu, Aljazair dikhawatirkan membuat aib lain karena terbentur realitas saat ini.
Aljazair dan Austria akan berjumpa dalam laga pamungkas Grup J di Stadion Arrowhead, Kansas City, Missouri, AS, Minggu (28/6/2026) pukul 09.00 WIB. Mereka bisa menentukan takdir peraih dua tiket tersisa ke fase gugur karena baru berlaga seusai seluruh jadwal di grup lain rampung.
Kedua tim itu sudah mengoleksi tiga poin. Austria berada di peringkat kedua mengungguli Aljazair karena menang selisih gol. Terlepas dari itu, mereka bisa lolos bersamaan dengan hasil imbang. Tambahan satu poin cukup untuk mengantar Aljazair lolos dengan status tim peringkat ketiga terbaik.
Kami harus melakukan yang terbaik untuk mewujudkan ambisi kami, dan mencoba menang. Jika dan apa yang terjadi jika, itu ungkapan yang tidak nyata.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/23/28fb0a88c8cf6b59d769319877b6cfbf-Algeria_Jordan_WCup_Soccer_139303351.jpg)
Menariknya, Aljazair dan Austria sangat berpotensi tidak ingin menang. Mereka dinanti tim unggulan juara Spanyol di babak 32 besar jika finis sebagai runner-up Grup J. Austria bisa tetap lolos dan terhindar dari Spanyol jika kalah tipis, sementara Aljazair cukup bermain imbang.
Jika skenario menghindari kemenangan terjadi, itu akan menjadi ironi terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Seperti diketahui, Aljazair merupakan korban dari laga “main mata” antara Jerman Barat versus Austria di Gijon. Mereka tidak lolos ke babak kedua edisi Spanyol 1982 karena kontroversi itu.
Ketika itu, Aljazair hampir pasti lolos dengan bermodal kemenangan atas Jerman Barat di laga pertama. Namun, “Si Prajurit Gurun” justru tersingkir walaupun kembali menang di laga pamungkas atas Chile. Mereka pada akhirnya kalah selisih gol dari Jerman dan Austria.
Semua itu akibat skandal Jerman Barat dan Austria. Setelah Jerman Barat unggul 1-0, kedua tim sadar mereka bisa lolos bersama ke babak selanjutnya. Jerman tidak membutuhkan gol lagi, sementara Austria takut kalah besar. Kedua tim itu pun seolah berjabat tangan untuk mempertahankan hasil. Aljazair tidak berkutik karena sudah menyelesaikan laga di hari sebelumnya.
Pelatih Aljazair Vladimir Petkovic dengan tegas menepis kemungkinan terulangnya skenario murahan itu. “Kami harus melakukan yang terbaik untuk mewujudkan ambisi kami, dan mencoba menang. Jika dan apa yang terjadi jika, itu ungkapan yang tidak nyata,” ujarnya.
Pembalasan dendam tentu akan terasa sangat manis bagi Riyad Mahrez dan rekan-rekan. Mereka belum lahir saat peristiwa di Gijon, tetapi tumbuh besar dengan kisah miris tersebut. Aljazair bisa mengirim pulang Austria seandainya bisa menang lebih dari satu gol.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/17/e7925882b5c6b1f6db9024217f0fa1e8-wires_photo.jpg)
Terlebih lagi, Austria dipimpin oleh pelatih Ralf Rangnick yang lahir di Backnang, Jerman Barat. Aljazair bisa melampaui dua pulau dalam sekali dayungan. Adapun Aljazair pernah bertemu dengan Jerman di 16 besar Piala Dunia 2014, tetapi kalah setelah babak tambahan.
Rangnick berkata, skenario untuk menghindari Spanyol di 32 besar terlalu berisiko bagi mereka. Sebab, skenario itu baru mungkin diwujudkan ketika semua laga grup lain selesai. Adapun laga Grup L dan K akan dimainkan pada hari yang sama dengan pertandingan Aljazair versus Austria.
Rangnick ingin para pemainnya datang ke pertandingan dengan kesiapan untuk menang. “Tidak ada satu pun dari kita, bahkan sehari sebelumnya, bisa mengetahui situasi yang akan terjadi. Kami baru mengetahui itu ketika laga dimulai, tetapi itu tidak akan memengaruhi rencana kami,” tuturnya.
Austria sepatutnya menyadari, tidak ada lawan yang mudah di babak gugur. Walaupun terhindari dari Spanyol, mereka masih berpotensi menghadapi Belgia, Inggris, atau Swiss jika finis sebagai peringkat ketiga. Adapun kemenangan di laga terakhir grup bisa menjadi modal besar bagi mereka.
Gelandang Austria Konrad Laimer mempertegas ambisi mereka. “Pada akhirnya kami ingin fokus pada diri kami sendiri, kami ingin memenangi pertandingan, kami ingin lolos dari babak penyisihan grup, dan setelah itu tidak masalah bagi saya siapa lawan kami,” ucap pemain Bayern Munchen itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/27/9370c763bc5e81ed1606bb0a0cd1bd6a-FBL_WC_2026_PRESSER_AUT_139417593.jpg)
Di laga lain, Argentina akan menghadapi tim juru kunci Yordania. Argentina sudah mengunci posisi juara grup dengan koleksi enam poin serta keunggulan head-to-head atas Austria dan Aljazair. Pelatih Argentina Lionel Scaloni pun berencana merotasi skuad utama pada laga terakhir grup.
Scaloni mengonfirmasi, megabintang tim “Tango” Lionel Messi akan memulai laga dari bangku cadangan. Messi yang sudah mencetak lima gol dalam dua laga awal, kemungkinan baru diturunakan pada babak kedua. Pemulihan kondisi sangat krusial bagi pemain yang berulang tahun ke-39 itu. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase