Allegri, Conte, dan Dinamika Pergantian Pelatih di Serie A Italia

Klub-klub papan atas Italia, yaitu AC Milan, Napoli, Atalanta, Roma, dan Juventus, kompak bergeliat terkait posisi pelatih. Sikap Conte menciptakan efek domino.

30 Mei 2025 15:13 WIB · Olahraga

Oleh yulvianus harjono

Dinamika kabar pergantian pelatih di jajaran klub top Liga Serie A Italia kian memanas. Klub-klub papan atas di Italia kasak-kusuk terkait nakhoda mereka. AC Milan dikabarkan segera memulangkan Massimiliano Allegri sebagai pelatih baru. Adapun Napoli, juara bertahan, mampu meyakinkan pelatih Antonio Conte untuk bertahan.

Dalam 24 jam terakhir, setidaknya dua kabar besar datang dari Italia. Seperti diberitakan sejumlah media Italia maupun Eropa, Jumat (30/5/2025) dini hari WIB, Milan telah memecat pelatihnya saat ini, Sergio Conceicao, setelah bertugas enam bulan.

Milan dikabarkan kecewa dengan kinerja sang pelatih asal Portugal, apalagi seusai kekalahan dari Bologna, 0-1, pada final Piala Italia, Kamis (15/5/2025) lalu. Gelar Piala Super Italia yang dipersembahkan Conceicao dianggap tidak cukup karena Milan hanya bisa finis ke-8 di Liga Italia dan gagal meraih tiket Liga Champions Eropa untuk musim depan.

Sebagai penggantinya, Milan mendekati Allegri. Diberitakan Football-Italia, mantan pelatih Juventus itu dikabarkan telah sepakat menangani ”I Rossoneri” dengan kontrak selama dua musim dan opsi perpanjangan semusim. Kesepakatan itu akan segera diumumkan resmi.

Dengan demikian, jika resmi dikontrak, Allegri akan kembali ke Milan setelah 11 tahun meninggalkan klub itu. Pelatih yang mengoleksi enam trofi juara Serie A itu pernah menjadi pelatih Milan pada 2010-2014.

Pelatih Juventus Massimiliano Allegri mengangkat piala setelah timnya mengalahkan Atalanta pada laga final Piala Italia di Stadion Olimpico, Roma, Kamis (16/5/2024) dini hari WIB. Juventus menang dengan skor 1-0.

Ia bahkan membawa Milan meraih scudetto (gelar juara Serie A) pada musim debutnya di klub itu pada 2010-2011. Gelar itu sekaligus menjadi scudetto pertama Allegri. Ia dipecat dari klub itu pada Januari 2014, yaitu setelah dikalahkan Sassuolo, 3-4 di Serie A.

Allegri digantikan Clarence Seedorf karena performa Milan dianggap merosot saat itu. Milan, pada akhirnya, tetap terlempar dari peringkat keempat. Mereka finis kedelapan. Merosotnya prestasi Milan saat itu tidak terlepas dari masalah finansial. Klub Italia paling sukses di Eropa dengan tujuh gelar juara Liga Champions itu telah kehilangan sejumlah pemain kunci, seperti Thiago Silva dan Zlatan Ibrahimovic.

Quote

Ada gairah besar untuk melanjutkan fondasi yang solid untuk Napoli dalam arah yang sama. Antonio Conte

Pada periode pertamanya melatih Milan, Allegri mengemas 91 kemenangan, 49 imbang, dan 38 kalah dari total 178 laga. Meskipun pernah membawa Milan juara Serie A dan Piala Super Italia, Allegri kurang populer di mata suporter. Hal itu tak terlepas pendekatan taktiknya yang pragmatis dan mengutamakan pertahanan sehingga permainan timnya dianggap pasif dan monoton.

Allegri menjadi pilihan utama pelatih baru Milan setelah incarannya, Vincenzo Italiano, menolak pindah dari Bologna. Italiano, yang menorehkan sejarah dengan membawa Bologna juara Piala Italia untuk kali pertama dalam setengah abad, memilih melanjutkan masa depan di Bologna.

Selain Allegri, Milan juga sempat mengincar Cesc Fabregas, Pelatih Como 1907. Fabregas, sebagai pelatih muda, dianggap sukses membawa klub promosi yang dimiliki Grup Djarum itu bertahan di Serie A. Ia juga mengedepankan sepak bola ofensif yang menarik. Namun, belakangan, Fabregas menegaskan komitmennya di Como.

Pelatih Como Cesc Fabregas tersenyum usai timnya mengalahkan Atalanta pada laga Liga Italia di Stadion Gewiss, Bergamo, Italia, Rabu (25/9/2024) dini hari WIB. Como menang dengan skor 3-2.

Menurut Susy Campanale, jurnalis pengamat sepak bola Italia, ditunjuknya Allegri sebagai pelatih baru memperlihatkan Milan ingin kembali ke pakem lama, yaitu ”risultatisti” yang artinya kemenangan adalah segalanya. Kehadiran Allegri diharapkan bisa memperbaiki titik lemah terbesar Milan saat ini, yaitu pertahanan. Klub itu kebobolan 43 gol dari 38 laga di Serie A musim 2024-2025.

Komitmen Conte

Menariknya, Allegri juga sempat diincar Napoli untuk mengantisipasi kepindahan pelatih mereka, Antonio Conte. Namun, kabar terbaru, Kamis (30/5), Conte menyatakan komitmen untuk bertahan di klub juara bertahan tersebut.

Hal itu dinyatakan Conte setelah ia dijanjikan akan mendapatkan dukungan finansial klub untuk merekrut pemain top baru selain gelandang Kevin De Bruyne yang didapatkan gratis dari Manchester City. Sebelumnya, ia pernah menyatakan kekecewaan ke manajemen Napoli karena melepas sejumlah pemain bintang, seperti Khvicha Kvaratskhelia, pada musim dingin.

Conte juga dijanjikan Presiden Napoli Aurelio De Laurentiis bahwa akan mendapatkan fasilitas latihan yang lebih baik. Sebelumnya, Conte sempat mengkritik kualitas fasilitas latihan klub itu yang ditengarai menjadi biang kerok banyaknya pemain mereka cedera. Tak hanya itu, Conte juga dijanjikan kenaikan gaji.

”Kami telah mengevaluasi. Saya dan klub ternyata punya visi yang sama karena kami adalah orang-orang yang sangat serius. Ada gairah besar untuk melanjutkan fondasi yang solid untuk Napoli dalam arah yang sama,” ujarnya kemudian.

Pelatih Napoli Antonio Conte mencium trofi juara Liga Italia setelah Napoli menang 2-0 atas Cagliari di Stadion Diego Armando Maradona, Naples, Sabtu (24/5/2025), dini hari WIB.

De Laurentiis menambahkan, bersama Conte, Napoli menatap musim baru dengan ambisi lebih besar. ”Piala Italia, Liga Champions Eropa format baru, Piala Super, dan (gelar juara) Serie A yang ingin kami pertahankan. Conte adalah jaminan (trofi). Saya akan memberikan apa pun yang ia inginkan agar Napoli bertambah kuat,” tuturnya.

Juve gigit jari

Kabar tentang Conte itu lantas menciptakan efek domino. Selain mendorong Milan segera merekrut Allegri, sikap Conte itu membuat Juve gigit jari. Alasannya, Conte adalah buruan utama Juve sebagai pelatih baru. Conte adalah peletak fondasi kebangkitan sekaligus masa keemasan mereka pada 2010-an, yaitu meraih sembilan scudetto beruntun.

Tiga gelar pertama dalam era dominasi Juve itu diraih bersama Conte. Era keemasan itu lantas dilanjutkan Allegri, yaitu dengan lima scudetto, pada 2015-2019. Allegri melanjutkan kejayaan Juve berbekal sistem ataupun pemain kunci yang ditinggalkan Conte.

Maka, setelah gagal memulangkan Conte, Juve pun melakukan manuver, antara lain, ”membajak” pelatih senior, Gian Piero Gasperini. Pelatih berusia 67 tahun itu dikabarkan ingin mencari tantangan baru setelah sembilan tahun melatih Atalanta dan meraih Liga Europa pada musim lalu.

Namun, masalahnya, Gasperini telah lebih dulu didekati AS Roma. Petinggi klub asal ibu kota Italia itu bahkan telah menemui Gasperini, kemarin. Wakil Presiden AS Roma Ryan Friedkin bahkan ikut dalam pertemuan tersebut. Namun, Gasperini belum menyatakan setuju untuk bergabung ke Roma.

Jika Gasperini bergabung dengan Roma, Juventus punya dua kemungkinan terkait pelatih, yaitu mempertahankan Igor Tudor atau menunjuk Roberto Mancini, mantan pelatih timnas Italia. Mancini, yang dipecat dari timnas Arab Saudi, sebetulnya salah satu buruan Juve saat mereka memecat Thiaggo Motta, Maret lalu. Namun, Juve memilih menunjuk Tudor yang lebih mudah direkrut.

Klub besar lainnya, Inter Milan, juga tidak ketinggalan diguncang kabar pergantian pelatih. Simone Inzaghi, pelatih mereka, dikabarkan diminati klub-klub Liga Saudi. Kabar itu bakal memanas setelah final Liga Champions, yaitu Inter versus Paris Saint-Germain, selesai digelar pada akhir pekan ini.


Kerabat Kerja

Penulis:

yulvianus harjono
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase