Trofi Piala Italia, asa terakhir pelipur lara Milan, justru jadi kolam air mata. ”Rossoneri” melepaskan kesempatan tampil di Eropa lewat jalur trofi juara.
15 Mei 2025 05:58 WIB · Olahraga
ROMA, KAMIS — AC Milan harus mengakui keunggulan Bologna, 0-1, pada final Piala Italia di Stadion Olimpico, Roma, Kamis (15/5/2025) dini hari WIB. Seusai menjalani musim yang buruk, trofi Piala Italia jadi satu-satunya asa pelipur lara Milan. Dengan kekalahan ini, Milan tidak hanya gagal melipatgandakan trofi, tetapi juga hampir dipastikan tidak mendapatkan jatah tampil di kompetisi antarklub Eropa musim depan.
Mengawali musim dengan memenangi Piala Super Italia, tidak ada yang menyangka Milan akan berakhir seironis sekarang. Di Liga Italia, tim besutan Pelatih Sergio Conceicao itu tercecer di peringkat kedelapan. Ini berarti Milan tidak punya pilihan selain menang atas Bologna demi meraih gelar Piala Italia sekaligus menyegel tiket Liga Europa musim depan.
Secercah harapan sempat muncul pekan lalu saat Milan bertemu Bologna dalam lanjutan Liga Italia. Pada laga itu, Milan menjungkalkan Bologna, 3-1. Laga tersebut bisa dikatakan sebagai ajang pemanasan bagi kedua tim sebelum bertemu di final. Optimisme tinggi menaungi para pemain Milan setelah kemenangan itu.
Akan tetapi, Bologna ternyata menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik. Dari kekalahan pekan lalu, mereka merumuskan strategi apa yang cocok untuk membalas Milan. Selain itu, kehadiran kembali pemain sayap kiri Dan Ndoye mampu meningkatkan ketajaman lini serang Bologna. Ndoye juga yang menjadi pahlawan kemenangan Bologna lewat golnya pada menit ke-53.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/15/d806a667a68a24f2d419cfdbdfecd830-wires_photo.jpg)
”Setelah beberapa kekecewaan, saya rasa kami pantas menang, terutama karena kami bermain bagus malam ini. Itu penampilan yang luar biasa. Kami tahu sekali lagi apa yang akan dilakukan Milan di babak kedua, jadi kami meresponsnya,” kata Pelatih Bologna Vincenzo Italiano, dikutip dari Football Italia.
Kiper Bologna, Lukasz Skorupski, turut berperan mengantarkan timnya menjadi juara. Kiper asal Polandia itu melakukan tiga penyelamatan gemilang yang membuat para pemain Milan sempat frustrasi. Milan mendominasi jalannya laga dengan mencatatkan 54 persen penguasaan bola, tetapi Italiano menumpuk pemain di sepertiga akhir pertahanan Bologna.
Strategi itu membatasi ruang gerak pemain Milan dalam bermanuver. Milan sempat menciptakan peluang berbahaya saat Rafael Leao mampu mengacaukan pertahanan Bologna. Leao kemudian mengirim umpan kepada Alex Jimenez yang gagal mengonversinya menjadi gol.
Sepanjang laga, Milan hanya mampu melepaskan dua tembakan tepat sasaran. Jumlah itu jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Bologna yang mampu tampil lebih efisien. Meski tidak unggul dalam penguasaan bola, Bologna mampu menciptakan lima tembakan tepat sasaran yang salah satunya berbuah gol.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/15/1180fe82ee3271afc6edb47ea8ed92c9-Italy_Soccer_Italian_Cup.jpeg)
Kegagalan Milan turut dipengaruhi ketidakmampuan para pemainnya dalam mempertahankan bola. Selain itu, para pemain Milan tidak bermain lebih sabar setelah tertinggal serta sering melepaskan umpan-umpan yang ambisius sehingga mudah dipatahkan barisan pertahanan Bologna.
Kemenangan atas Milan menjadi semacam oase setelah ditinggal banyak pemain kunci, termasuk Pelatih Thiago Motta, yang hengkang musim ini. Bek tengah modern Ricardo Calafiori tidak kuasa menahan bujuk rayu Arsenal.
Sementara penyerang Joshua Zirkzee menerima pinangan dari Manchester United. Motta yang menjadi otak kesuksesan Bologna finis di peringkat lima besar musim lalu berlabuh ke Juventus.
Akan tetapi, kehilangan nama-nama penting seperti itu justru tidak terlalu memengaruhi performa Bologna. Performa Bologna tidak sampai merosot drastis meski sejumlah pemain kuncinya memilih pergi.
Di samping itu, kemenangan atas Milan ini terasa sangat luar biasa untuk Italiano. Ia sebelumnya punya rekor buruk di laga final saat menangani Fiorentina. Italiano memang sukses membawa Fiorentina mencapai tiga final dalam dua musim. Dua final di ajang Liga Europa dan satu di Piala Italia. Ketiga laga itu berakhir dengan tangan hampa.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/15/a7eaa633c98bceed9ca32c1d29bec3f3-wires_photo_4.jpg)
Keberhasilan Italiano menyingkirkan masa lalunya itu turut menghadirkan trofi yang didambakan Bologna selama 51 tahun. Piala Italia juga menjadi trofi terakhir yang dimenangi Bologna pada 1974.
Tidak disangka, ”Rossoblu” mampu mengakhiri dahaga trofi selama lebih dari setengah abad di arena yang sama, Piala Italia.
”Tahun yang luar biasa ini dimahkotai dengan trofi ini, yang merupakan sesuatu yang pantas diterima oleh para penggemar kami,” ujar Italiano.
Catatan redaksi:
Berita ini diperbarui terkait peluang AC Milan tampil di kompetisi antarklub Eropa musim depan.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .