Cukup dengan dua laga final, Jakarta Pertamina Enduro sukses mempertahankan gelar Proliga. Performa dominan Megawati Hangestri dan kawan-kawan datang di waktu tepat.
25 Apr 2026 20:40 WIB · Olahraga
PBVSI/BW
YOGYAKARTA, SABTU — Tanpa perlu berlanjut ke pertandingan ketiga untuk menentukan tim juara, Jakarta Pertamina Enduro berhasil mempertahankan gelar Proliga pada musim 2026. Ambisi bersama para pemainnya, termasuk Megawati Hangestri, yang kembali ke ”rumah” pertama, untuk jadi juara terwujud paripurna lewat performa dominan yang datang di waktu tepat.
Hanya butuh dua pertandingan untuk Megawati Hangestri bersama Jakarta Pertamina Enduro (JPE) menyabet gelar juara Proliga 2026. JPE memastikan kesuksesan itu lewat kemenangan 3-0 (25-19, 25-23, 25-20) atas Gresik Phonska Plus Pupuk Indonesia pada pertandingan final kedua di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Sabtu (25/4/2026).
Kemenangan tersebut membuat JPE tidak perlu melanjutkan ke pertandingan ketiga melawan Gresik Phonska. Sebab, pada laga final perdana, Jumat, JPE juga menang atas Gresik Phonska dengan skor 3-1 (19-25, 25-19, 25-19, 25-21). Dengan demikian, JPE berhak juara lewat dua kemenangan yang menjadi syarat dalam sistem best of three.
Dengan best of three yang diterapkan pada partai final, tim juara adalah tim yang mampu memenangi dua pertandingan. Pertarungan akan dilanjutkan hingga laga ketiga yang jadi penentu jika hasil berimbang pada dua pertandingan awal.
”Seperti saya sampaikan, kami selalu bermain sabar, dan hasilnya kita tahu semua, kami mampu juara hari ini,” kata Pelatih JPE, Bullent Karsioglu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/25/c551baa38a3eb36472adfe6424dd73eb-WhatsApp_Image_2026_04_25_at_18.13.27.jpeg)
Kesabaran yang disampaikan Karsioglu terlihat sejak set pertama ketika JPE digempur terus-menerus oleh Gresik Phonska. Sebelum mulai menyerang, JPE fokus lebih dahulu merapatkan pertahanan. Gempuran-gempuran lawan pun pada akhirnya mampu terpatahkan.
Ketika situasi itu tiba dan lawan lengah, JPE membalikkan arah serangan. Tim yang sudah berlaga di Proliga sejak musim 2012 dengan nama Jakarta Pertamina Energi ini mengandalkan trio serangan mereka, Irina Voronkova, Megawati Hangestri Pertiwi, dan Wilma Salas. Ketiga pemain ini penyumbang poin terbanyak dengan masing-masing mencetak 23, 13, dan 9.
Pada set ketiga, JPE berada di atas angin untuk menang dan menjadi juara. Sempat unggul jauh 23-17 di fase akhir, JPE tak memberikan ruang bagi lawan untuk bangkit. Pertandingan akhirnya ditutup dengan pukulan keras Vorokonva yang gagal diantisipasi pertahanan Gresik Phonska.
Kemenangan ini mewujudkan ambisi JPE yang sudah didengungkan sejak awal musim. Chef de Mission (Ketua Kontingen) JPE Werry Prayogi mengatakan, timnya selalu membawa ekspektasi tinggi di setiap musim, tidak terkecuali musim ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/25/947e035a0e40838a017c27a234d8fc7d-WhatsApp_Image_2026_04_25_at_18.13.25.jpeg)
JPE bertekad mempertahankan gelar juara yang diraih setelah tujuh tahun menanti. Mereka tidak mau menanti lama lagi untuk bisa naik podium. Alhasil, beragam upaya pun dilakukan, termasuk mendatangkan salah satu pebola voli putri terbaik Indonesia, Megawati Hangestri Pertiwi.
Megawati mengibaratkan bergabung dengan JPE sebagai kembali ke rumah setelah lama merantau. Pada 2015, Megawati yang baru berusia 16 tahun debut di Proliga bersama JPE, yang saat itu memakai nama Jakarta Pertamina Energi. Ia bergabung juga pada musim 2016, 2017, 2019, 2022, dan 2023.
Pemain asal Jember, Jawa Timur, ini datang sebagai pemain yang lebih dewasa dengan pengalaman yang lebih matang. Ia datang setelah dua musim berkarier di Liga Korea bersama Red Sparks, lalu bermain di Proliga bersama Jakarta BIN dan Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia.
Maka, tak heran ketika JPE punya target mempertahankan gelar juara, Megawati pun tanpa ragu siap untuk mewujudkannya. Terlebih, meski berkali-kali bermain bersama JPE, pengalamannya kurang lengkap karena tidak pernah meraih trofi bersama.
”Tahun terakhir saya bersama Pertamina sempat finis di posisi runner-up. Tahun ini saya ingin mencetak sejarah dan menjadi juara bersama Pertamina,” ujar Megawati pada awal musim. Ambisi Megawati dan JPE yang bersenyawa itu pun terwujud paripurna.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/21/cfaa5d82-1c5c-45d8-80b4-5d23317cffb6_jpg.jpg)
Selepas pertandingan final kedua, Megawati mengaku bersyukur atas kemenangan tersebut. Bukan hanya karena kemenangan itu mengantarkan ke podium juara, melainkan juga karena kemenangan diraih melalui penampilan apik.
JPE menunjukkan performa dominan pada waktu yang tepat. Alih-alih terus tancap gas sejak awal musim, lalu kehabisan bensin pada final four dan final, JPE mengatur penampilan mereka agar mencapai puncaknya pada fase krusial.
Di Proliga, fase krusial pertama adalah final four yang menjadi penentu tiket ke final. Selanjutnya, tahapan krusial itu adalah final yang tahun ini menerapkan sistem baru.
Selama babak reguler, JPE selalu kalah saing dari Gresik Phonska. Dua kali bertemu Gresik Phonska pada fase reguler, dua kali pula JPE menelan kekalahan. Hasil negatif itu juga yang membuat JPE hanya bisa berada di bawah bayang-bayang Gresik Phonska sebagai juara putaran pertama dan kedua fase reguler dengan total 10 kemenangan dari 12 laga.
Namun, mulai final four, JPE sudah bisa merebut kemenangan atas Gresik Phonska. Tim yang juara Proliga untuk pertama kali pada 2014 ini membalas kekalahan dari Gresik Phonska pada fase reguler. Alhasil, sebelum final, rekor pertemuan mereka pun imbang 2-2.
Bagi Gresik Phonska, kekalahan dari JPE memperpanjang penantian mereka akan gelar juara pertama di Proliga. Sebagai tim langganan Proliga yang hanya absen satu musim dari total 24 musim perhelatan kompetisi tersebut, Gresik Phonska belum pernah sekali pun naik di podium tertinggi.
Pencapaian terbaik mereka hanyalah peringkat kedua yang diraih lima kali. Proliga 2026 pun dianggap sebagai kesempatan terbaik untuk Gresik Phonska mengakhiri paceklik juara. Akan tetapi, kesempatan itu gagal dimanfaatkan dengan sempurna.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Retma Wati