Anak Muda AS Juga Kecewa Soal Perekrutan PNS

Ratusan ribu pekerja usia muda diberhentikan. Ratusan ribu impian kandas. Padahal, mereka penerima beasiswa presiden yang digadang-gadang jadi pemimpin masa depan.

11 Mar 2025 06:00 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

Impian Sydney Smith (28) untuk bisa bekerja sebagai pegawai negeri sipil di kantor pemerintah federal kandas. Beasiswa dari program Presidential Management Fellows yang diterimanya dihentikan oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Lembaga-lembaga yang menerima karyawan masa percobaan diminta memberhentikan mereka dan jumlahnya bisa mencapai ratusan ribu pekerja. Itu termasuk kelas-kelas terbaru dari program penerima beasiswa presiden yang menjalani masa percobaan selama dua tahun, seperti Smith.

Padahal, para penerima beasiswa itu berhasil melewati proses seleksi ketat dengan beragam tes dan wawancara tatap muka. Laman lembaga Presidential Management Fellows menyebut, biasanya hanya 10 persen pelamar yang diterima dan baru-baru ini hanya 3 persen.

WASHINGTON, DC - MARCH 04: Union leaders and workers rally outside the Office of Personnel Management (OPM) headquarters on March 04, 2025 in Washington, DC. Workers gathered to protest recent cuts made to the department by Elon Musk's Department of Government Efficiency (DOGE).   Tasos Katopodis/Getty Images/AFP (Photo by TASOS KATOPODIS / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)

Selama puluhan tahun, program yang dimulai sejak tahun 1978 itu dianggap sebagai fondasi bagi siapa saja yang ingin menjadi pemimpin di pemerintah federal suatu hari nanti. Program ini dibuat untuk menarik pekerja berkualifikasi tinggi dengan gelar lanjutan.

Kini, masa depan Smith tak pasti. Ratusan penerima beasiswa telah diberhentikan atau diminta cuti. Smith ingin jadi PNS karena punya gagasan-gagasan untuk membuat pemerintahan lebih efisien.

Quote

Sungguh gila menerima surat pemberitahuan dipecat, padahal semua orang mengatakan kinerja kita luar biasa.

Smith mempelajari kimia di Universitas Willamette di Oregon, lalu ia melanjutkan studi akuntansi di Universitas George Washington. Setelah menjadi finalis penerima beasiswa presiden itu pada tahun 2023, Smith mulai menjadi akuntan untuk Dinas Kehutanan Amerika Serikat.

Setelah beasiswa diberhentikan, kini Smith fokus menyiapkan diri untuk ikut tes Ujian Profesi Akuntan Publik yang diselenggarakan oleh Institut Akuntan Publik. Tujuannya agar ia lebih memenuhi syarat untuk bisa bekerja sebagai PNS pemerintah federal.

”Saya harap bisa kerja di pemerintahan di masa depan. Saya tidak tahu kapan dan bagaimana, tetapi saya berharap masih ada kesempatan itu untuk saya,” ujarnya.

Sama seperti Smith, McKenzie Hartman (26) juga sejak SMA bermimpi bekerja sebagai PNS. Namun, impian ekonom untuk divisi penelitian di Internal Revenue Service (IRS), lembaga pemerintah federal AS yang mengumpulkan pajak dan menetapkan hukum pendapatan dalam negeri, di Ogden, Utah, jadi buyar.

Hartman menerima surat elektronik pada 19 Februari 2025 yang menyatakan bahwa dia diberhentikan. Ia bahkan tak bisa mengakses lagi perangkat lunak konferensi video kantornya.

Ia juga tidak bisa ikut acara perpisahan di kantor bersama dengan teman-temannya. Surat pemberhentian resminya baru diterimanya satu pekan kemudian.

”Rasanya tidak nyata. Sungguh gila menerima surat pemberitahuan dipecat, padahal semua orang mengatakan kinerja kami luar biasa,” ujarnya.

Setelah diberhentikan, Hartman melamar pekerjaan lain. Ia sebenarnya masih ingin bekerja di kantor pemerintah. Namun, setelah ditolak, hilang sudah semangatnya.

Charles Conyers yang pernah bekerja di Kantor Manajemen Personalia sedih dan bingung dengan pemerintah yang menghapuskan program yang menghasilkan para pemikir paling cemerlang di AS ke dalam pemerintahan. Keputusan Trump menghentikan program beasiswa tersebut dinilainya tragis karena program itu sebenarnya menarik dan mempersiapkan pemimpin masa depan AS.

Smith, Hartman, dan Conyers mengaku mencintai pekerjaan mereka dan menganggap layanan sipil federal sebagai cara untuk mengabdi kepada negara. Jika diberi kesempatan untuk kembali bekerja dan menggunakan keahlian mereka, pasti orang akan mau.

Pemerintah Trump disesalkan karena dengan mudahnya menghancurkan impian orang-orang yang berbakat. Akan sulit untuk membangun kembali, baik semangat maupun kepercayaan kepada pemerintah. ”Saya khawatir orang-orang yang sangat berbakat akan pergi ke tempat lain dan terjadi brain drain luar biasa. AS akan sangat rugi,” kata Conyers.

Rumah impian

Baru saja hendak membeli rumah pertama, Bianca Nelson (31) dan pasangannya terpaksa mengubur impian punya apartemen impian mereka. Nelson bekerja di Departemen Perumahan dan Pembangunan Perkotaan.

Pada 14 Februari 2025, ia mendapat e-mail yang menyatakan bahwa ia diberhentikan dan berlaku segera. Kini, mereka harus bergantung sepenuhnya pada tabungan untuk bertahan hidup. Kenyataan ini dirasa Nelson sangat menyakitkan.

Beberapa hari kemudian, ia mengambil semua barangnya di meja kantornya, termasuk bel yang diberikan kepadanya pada upacara peletakan batu pertama Badan Perumahan Kota New York. Ini kenang-kenangan yang mewakili kecintaannya pada pekerjaannya.

Elon Musk, ketua bersama Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE), CEO Tesla , dan miliarder, bersama putranya , X Musk, mendampinngi Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) selama penandatanganan perintah eksekutif di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington DC, Selasa (11/2/2025). Trump akan menandatangani perintah eksekutif yang menerapkan inisiatif pengoptimalan tenaga kerja dari DOGE. (Foto oleh AFP/GETTY IMAGES NORTH AMERICA/Andrew Harnik)

Sejak diberhentikan, ia menghabiskan hari-harinya untuk mengurus dokumen demi mendapatkan tunjangan pengangguran dan asuransi. Ia menyibukkan diri dengan menjadi sukarelawan di serikat pekerja.

Serikat, antara lain, mengadakan pameran tenaga kerja untuk pekerja federal lain yang dipecat di daerahnya. Nelson juga menjadi sukarelawan di organisasi advokasi perumahan. Bagi Nelson, menutup program beasiswa presiden itu sama saja dengan menutup jalur menuju pemimpin masa depan.

Madeleine Parker (32) mendapat beasiswa itu pada September 2023, satu bulan setelah menyelesaikan gelar doktornya dalam bidang perencanaan kota dan regional di University of California, Berkeley.

Parker memilih bekerja di bidang perumahan karena pentingnya memberikan stabilitas bagi keluarga. Ia berharap dapat terus bekerja untuk pemerintah federal, tetapi tak bisa. Kini, ia sedang berusaha menyusun strategi apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Juliane Alfen (25) juga meninggalkan tempat kerjanya di Badan Pembangunan Internasional AS sambil menangis. Ia keluar dari tempat kerjanya dengan diiringi sorak-sorai dari pada pendukung yang memprotes pemberhentian tiba-tiba itu.

Alfen menerima beasiswa dari program itu pada tahun 2023 dan selama ini hanya fokus membangun kehidupan dan kariernya khusus untuk layanan federal. Alfen mengetahui informasi beasiswa itu dari program pascasarjananya di bidang Hubungan Internasional di University of California, San Diego, AS.

Pada hari ketika ia mengetahui bahwa ia berhasil menjadi finalis, ia berkata, ”Saya benar-benar berteriak dan menelepon ibu saya.”

Ada lebih dari 10.000 pelamar dan ia berhasil mengalahkan mereka semua. Sekarang, ketika ia melihat akun LinkedIn-nya, semua orang sedang mencari pekerjaan.

Alfen mengatakan, ia akan senang sekali mendapat kesempatan untuk bisa kembali bekerja di USAID. Namun, ia menyadari prospeknya tidak pasti mengingat pemerintahan Trump telah memangkas lembaga tersebut melalui Departemen Efisiensi Pemerintahan milik penasihatnya, Elon Musk, dan menghentikan pekerjaan kemanusiaannya.

”Padahal, dengan bekerja di USAID itu, saya merasa kami bisa membuat perbedaan,” kata Alfen. (AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .