Gen Z Guncang Filipina dengan Gerakan Satu Triliun Peso

Gen Z Filipina muak dengan korupsi para politisi. Dana negara habis, proyeknya tak jelas.  Koruptornya sering pamer kemewahan.

22 Sep 2025 13:00 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

MANILA, SENIN — Giliran Filipina dan Peru diguncang protes generasi Z. Filipina diguncang Gerakan Satu Triliun Peso. Di Peru, ada kemarahan soal kebijakan uang pensiun.

Direktur Operasi Kepolisian Nasional Filipina (PNP) Kolonel Crisaleo Tolentino mengatakan, polisi harus menanggapi kelompok pengacau di sejumlah lokasi. Dampaknya, peringatan pada Minggu (21/9/2025) menyebabkan 205 orang cedera di Manila saja. ”Meski mayoritas unjuk rasa damai, ada kelompok pengacau di Jembatan Ayala dan kawasan Mendiola,” ujarnya, Senin (22/9/2025), di Manila, sebagaimana dikutip The Inquirer.

Media lain di Filipina, Philstar, melaporkan sejumlah selebritas mendukung Gerakan Satu Triliun Peso itu. ”Jangan diam sampai korupsi berakhir,” kata salah satu selebritas Filipina, Anne Curtis.

Peserta unjuk rasa sebenarnya bukan cuma gen Z Filipina. Ada banyak orang berusia di atas 27 tahun, usia tertua gen Z, ikut gerakan itu.

Unjuk rasa bertepatan dengan 53 tahun pemberlakuan darurat militer oleh diktator Filipina, Ferdinand Marcos. Kini, Filipina dipimpin anak diktator itu, Ferdinand ”Bong-bong” Marcos Jr.

Ketua DPR yang juga sepupu Bong-bong, Martin Romualdez, telah mengundurkan diri. Ia salah satu politisi yang diduga terlibat korupsi proyek pengendalian banjir.

Berbagai lokasi di Filipina terendam banjir lebih dari sebulan. Padahal, Filipina mengucurkan anggaran setara miliaran dollar AS untuk aneka proyek pengendalian banjir.

Departemen Keuangan memperkirakan Filipina harus menanggung kerugian hingga 2 miliar dollar AS akibat korupsi proyek banjir. Namun, Greenpeace memperkirakan kerugian yang tercatat akibat korupsi itu jauh lebih besar, mendekati angka 18 miliar dollar AS.

Protesters take part in a rally as they demonstrate against corruption following the revelations over bogus flood control projects, one of the country's biggest corruption scandals in decades, at the People Power Monument in Quezon City, Metro Manila on September 21, 2025. Thousands of Filipinos marched in Manila on September 21 to vent their anger over a ballooning scandal involving bogus flood-control projects believed to have cost taxpayers billions of dollars. (Photo by Jam STA ROSA / AFP)

Kejengkelan warga bukan cuma karena anggaran hilang dan proyek tak jelas. Orang-orang yang terkait proyek tidak segan memamerkan kemewahan lewat koleksi mobil hingga jalan-jalan ke luar negeri.

Pengunjuk rasa menuntut pertanggungjawaban pejabat DPR serta pihak swasta yang mengambil dana publik sebesar triliunan peso dana untuk proyek pengendalian banjir dan infrastruktur lainnya. Pertanggungjawaban meliputi hukuman penjara, bahkan hukuman mati. Selain itu, mereka mendesak reformasi sistemik untuk memberantas budaya korupsi.

Presiden aliansi Bagong Alyansang Makabayan, Renato Reyes, mengatakan, kemarahan publik lebih besar pada tahun ini. Rakyat sudah muak dengan kelakukan para pejabat.

”Jika orang-orang menuntut pengunduran diri presiden, kami tidak bisa menghentikan mereka. Yang ingin kami hindari adalah ini digunakan untuk kepentingan politik. Ini bukan soal pro-Duterte atau pro-Marcos, siapa pun yang terlibat korupsi, apa pun afiliasinya, harus dikritik,” ujar Reyes kepada Philstar Global edisi Senin (22/9/2025).

Para pengunjuk rasa berpartisipasi dalam unjuk rasa untuk menentang korupsi menyusul terungkapnya proyek-proyek pengendalian banjir palsu sebagai salah satu skandal korupsi terbesar di negara itu dalam beberapa dekade di Monumen Kekuatan Rakyat, Kota Quezon, Metro Manila, Filipina, Minggu (21/9/2025).

Presiden Marcos Jr mengakui skandal proyek banjir dalam Pidato Kenegaraan, Juli 2025. Pengakuan itu terjadi setelah banjir bandang yang mematikan berlangsung selama berminggu-minggu karena tidak ada tanggul banjir yang berfungsi.

Kehebohan publik kemudian berkembang karena Wali Kota Pasig Vico Sotto menyoroti ulah lawan politiknya yang suka pamer harta. Media sosial di Filipina akhirnya mulai menyebarkan hidup mewah anak-anak pejabat parlemen dan kontraktor yang terlibat proyek-proyek hantu tersebut.

Para pengamat mengatakan, kehadiran ribuan peserta aksi tidak hanya mencerminkan kemarahan atas skandal pengendalian banjir. Mereka adalah refleksi kekecewaan yang lebih mendalam terhadap korupsi pemerintah selama puluhan tahun tanpa hukuman.

Aksi pemuda

Menurut Inquirer.net, protes itu terinspirasi oleh gerakan penggulingan ayah Bong-bong. Kekuasaan Marcos Jr diwarnai korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia. Istri Marcos Jr, Imelda, dikenal karena koleksi pakaian dan barang mewah. Hampir seluruhnya disita karena dibeli dari hasil korupsi.

Kini, Gerakan Satu Triliun Peso diikuti oleh masyarakat sipil, anak muda, gereja, aktivis lingkungan, kelompok perempuan, dan kelompok lainnya. ”Seperti bagaimana rakyat menuntut pertanggungjawaban di Epifanio de los Santos Avenue (EDSA), Manila, yang bersejarah, kami akan bangkit kembali pada 21 September,” kata Khylla Meneses, Sekretaris Jenderal Pemuda Akbayan dan Ketua Koordinator Youth Against Kurakot.

Youth Against Kurakot adalah beberapa kelompok anak muda yang menggerakkan protes itu. ”Kami ingin menyalurkan semangat yang sama guna mengalahkan korupsi di momen-momen kritis sejarah kita,” tutur Meneses.

Jasper Lota (16), pelajar dari Provinsi Bulacan yang terdampak banjir, datang ke EDSA untuk ikut protes. Dia mempertanyakan penyelesaian kasus korupsi yang berjalan lama, sedangkan negara bergerak cepat untuk memenjarakan orang yang mencuri sekantong beras.

”Kalian melihat banyak orang Filipina menderita dan itulah yang akan mereka lakukan terhadap uang negara?” ujar Lota kepada Time.

Protesters carry signs as they gather at the EDSA People Power Monument to rally against government corruption, in suburban Mandaluyong, east of Manila, Philippines, Sunday Sept. 21, 2025. (AP Photo/Basilio Sepe)

Presiden Caritas Filipina dan Uskup Kidapawan, Jose Colin Bagaforo, mengingatkan kaum muda akan misi khusus mereka selama protes. Menurut dia, pemuda memiliki  kekuatan yang tak pernah dimiliki generasi sebelumnya, yakni ruang digital.

”Gunakanlah dengan bijak dan berani untuk mendokumentasikan kebenaran, mengungkap kesalahan, dan membangun komunitas yang berlandaskan hati nurani. Namun, ingatlah kekuatan kalian bukan amarah, melainkan harapan yang teguh; bukan kekerasan, melainkan kebenaran dan solidaritas,” kata Bagaforo dalam sebuah pernyataan.

Selain Gerakan Satu Triliun Peso, anak muda juga menggelar protes lain yang terkait, yakni Baha sa Luneta: Aksyon na Laban sa Korapsyon, di Manila. Artinya, Banjir di Luneta: Aksi Melawan Korupsi. Protes ini diinisiasi kelompok anak muda, termasuk Taft Avenue, Panatang Luntian Coalition, dan Taumbayan Ayaw sa Magnanakaw at Abusado Network Alliance (Tama Na).

Sayangnya, kekacauan dan kekerasan tetap terjadi. Beberapa kilometer dari kediaman resmi dan kantor Presiden Filipina, protes yang dipimpin anak muda ricuh. Sebuah truk terbakar. Polisi menembakkan meriam air untuk membubarkan massa.

Protes Peru

Seiring protes di Filipina, generasi Z Peru juga memimpin demonstrasi di Lima sejak Sabtu (20/9/2025). Mereka menentang korupsi dan reformasi pensiun yang diusulkan Presiden Dina Boluarte.

Parlemen telah meloloskan undang-undang yang mengharuskan anak muda bergabung dengan dana pensiun swasta meski lingkungan kerja mereka tidak aman.

Protes ricuh sehingga 18 orang, termasuk polisi dan jurnalis, terluka. Asosiasi Jurnalis Nasional Peru (ANP) melaporkan, enam jurnalis terkena peluru karet yang ditembakkan polisi saat meliput protes tersebut. Ada pula korban dua jurnalis dari stasiun radio Exitosa Noticias.

”Polisi mulai menembakkan peluru karet langsung ke tubuh orang-orang. Saat itulah saya merasakan benturan di kaki dan pinggul saya,” tutur Cesar Zamalloa, jurnalis foto dari surat kabar mingguan Hildebrandt En Sus Trece

Baik serikat pekerja maupun Koordinator Nasional Hak Asasi Manusia di Peru mengecam tindakan represif polisi selama demonstrasi. Adapun tingkat penerimaan terhadap Presiden Boluarte anjlok di tengah meningkatnya kasus pemerasan dan kejahatan terorganisasi. Boluarte akan mengakhiri masa jabatan pada tahun depan.

Seorang pengunjuk rasa melemparkan tabung gas air mata saat bentrok dengan polisi antihuru-hara selama demonstrasi antipemerintah di Lima, Peru, Sabtu (20/9/2025)

Protes di Filipina menjadi gerakan terbaru yang menjadi bagian dari Kebangkitan Asia (Asian Spring). Sejak 2020-an, beberapa unjuk rasa, yang kebanyakan dipimpin anak muda, terjadi di beberapa negara guna menyerukan reformasi negara. Tahun ini, protes serupa telah terjadi di Indonesia, Nepal, dan Timor Leste.

Di Indonesia, unjuk rasa terjadi setelah rakyat kesal atas tunjangan berlebihan kepada anggota DPR beserta kinerja lambat DPR. Protes serupa juga berlangsung di Timor Leste.

Sementara itu, Nepal mencatat perubahan yang lebih besar. Anak muda yang sudah lama kesal berhasil menggulingkan kepala pemerintah inkompeten menyusul aksi pamer anak pejabat dan larangan media sosial. (AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan