Analisis Taktik Indonesia Vs Jepang, Musibah di Dua Kotak Penalti

Kaya pengalaman level elite dan inteligensi cemerlang adalah kunci Jepang menaklukkan Indonesia. Meski kalah, ada secercah harapan dari skuad ”Garuda”.

16 Nov 2024 11:37 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Di luar hasil akhir dengan kekalahan telak 0-4 dari Jepang, Jumat (15/11/2024) malam, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, tim nasional Indonesia sejatinya tidak bermain tanpa perlawanan kepada ”Samurai Biru”. Dibandingkan dengan empat gim sebelumnya di Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026, performa menyerang skuad ”Garuda” sudah ada peningkatan.

Hal itu merujuk dari dua kreasi peluang besar (big chance). Statistik peluang besar itu adalah situasi menyerang yang berujung tembakan bernilai probabilitas gol di atas 50 persen atau 0,50 expected goals. Pada empat gim sebelumnya, Indonesia belum pernah catatkan dua peluang besar di satu laga.

Indonesia mendapatkan peluang yang seharusnya berbuah gol pertama pada menit kesembilan. Kegagalan bek tengah Jepang, Ko Itakura, menghalau umpan panjang Thom Haye, membantu Ragnar Oratmangoen mendapatkan kesempatan berhadapan langsung dengan kiper Jepang, Zion Suzuki, pada menit kesembilan.

Namun, pengambilan keputusan Ragnar amat buruk ketika sudah di dalam kotak penalti Jepang. Ia memilih berusaha mengecoh Suzuki dengan terlebih dahulu menggiring bola ke arah dalam dari jangkauan kiper Parma itu.

Pemain Jepang, Wataru Endo (tengah), berusaha keluar dari kepungan dua pemain Indonesia, Rizky Ridho (kiri) dan Yakob Sayuri, pada pertandingan Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (15/11/2024). Indonesia kalah 0-4 dari Jepang.
Pemain Jepang, Kaoru Mitoma, menempel ketat pemain Indonesia, Kevin Diks (kiri), yang sedang menyundul bola pada pertandingan Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (15/11/2024). Indonesis kalah 0-4 dari Jepang.
Pemain Indonesia, Rizky Ridho (kiri) berebut bola dengan pemain Jepang, Kaoru Mitoma pada pertandingan Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (15/11/2024). Indonesis kalah 0-4 dari Jepang.
Pemain Indonesia Sandy Walsh (kanan) berebut bola dengan pemain Jepang, Kaoru Mitoma pada pertandingan Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (15/11/2024). Indonesis kalah 0-4 dari Jepang.
Pemain Indonesia, Yakob Sayuri, berebut bola dengan pemain Jepang, Wataru Endo (atas), pada pertandingan Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (15/11/2024). Indonesis kalah 0-4 dari Jepang.
Quote

Di awal pertandingan kita mendapat peluang yang sempurna yang tidak bisa dimanfaatkan oleh Ragnar. Jadi, itu salah satu penyebab kita kalah.

Andai pemain FCV Dender itu memiliki insting gol kelas wahid, tentu ia akan memilih langsung menendang bola atau berusaha mengecoh Suzuki dengan mengarahkan bola ke sisi kiri tubuh Suzuki atau zona luar dari jangkauan kiper.

Kegagalan Ragnar itu disesali oleh Pelatih Indonesia Shin Tae-yong. Juru taktik asal Korea Selatan itu menyebut, seandainya Ragnar bisa mencetak gol, kans Indonesia untuk meraih poin akan lebih besar. 

”Di awal pertandingan kita mendapat peluang yang sempurna yang tidak bisa dimanfaatkan oleh Ragnar. Jadi, itu salah satu penyebab kita kalah. Mungkin jika kita mencetak gol lebih dulu, hasil laga akan berubah,” kata Shin dalam konferensi pers setelah laga.

Pelatih Jepang Hajime Moriyasu juga menyebut peluang pertama Indonesia itu adalah momen kunci untuk mengubah hasil pertandingan. Ia menuturkan, kemenangan Jepang bukan sekadar disebabkan keberhasilan mereka mencetak gol pertama pada menit ke-35 berkat gol bunuh diri bek Indonesia, Justin Hubner.

Pemain Indonesia, Justin Hubner, terjatuh setelah berebut bola dengan pemain Jepang, Junya Ito, pada pertandingan Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (15/11/2024). Indonesis kalah 0-4 dari Jepang.

”Kami harus mengapresiasi penyelamatan penting kiper kami untuk peluang besar Indonesia di awal pertandingan. Itu adalah momen krusial bagi kami untuk meredam tekanan dari Indonesia,” ujar Moriyasu. 

Setelah kemasukan empat gol, Indonesia kembali mendapatkan peluang besar. Kali ini, pemain pengganti, Pratama Arhan, mendapat kesempatan menembak di kotak penalti Jepang tanpa kawalan pada menit ke-73.

Lagi-lagi, penyelesaian akhir buruk pemain-pemain Indonesia membuat peluang itu mubazir. Tembakan kaki kiri Arham amat lemah dan mengarah ke sisi tengah Suzuki sehingga bola bisa ditangkap dengan mudah oleh kiper Parma itu.

Melawan Jepang, Indonesia juga mencatatkan tembakan di dalam kotak penalti tertinggi di putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026. Total, enam tembakan dihasilkan Ragnar dan kawan-kawan dari dalam kotak 16 meter Samurai Biru. Jumlah itu sudah melewati catatan terbaik sebelumnya kontra China dengan enam tembakan di dalam kotak penalti.

Meningkatnya kreasi peluang dan tembakan Indonesia itu dipengaruhi pula oleh absennya bek andalan Jepang, Shogo Taniguchi. Pemain asal klub Belgia, Sint-Truindese, itu menderita cedera sehingga tidak dibawa ke Jakarta.

Pemain depan Indonesia, Ragnar Oratmangoen (depan) berebut bola dengan pemain Jepang pada pertandingan Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (15/11/2024). Indonesis kalah 0-4 dari Jepang.

Namun, absennya Taniguchi belum mampu dimaksimalkan oleh trio penyerang utama Garuda, yaitu Ragnar, Rafael Struick, dan Yakob Sayuri.

Pembenahan koordinasi dan insting gol itu tentu menjadi pekerjaan rumah Shin untuk menghadapi Arab Saudi, Selasa (19/11/2024) mendatang. Tanpa perbaikan itu, kehadiran penyerang naturalisasi baru, Ole Romeny, yang berpeluang bisa tampil dalam gim pada Maret nanti tidak akan memberikan banyak perbedaan. 

Dihukum blunder

Ketika para pemain depan masih belum mampu menjalankan tugas mereka, para pemain belakang Indonesia yang memiliki kualitas individu lebih baik juga gagal tampil dalam performa terbaik menghadapi Jepang. Tiga dari empat gol Indonesia diawali blunder yang dilakukan pemain belakang.

Gol pertama Jepang diawali kegagalan Jay Idzes menghalau bola yang mengarah kepada Daichi Kamada. Hingga pemain Crystal Palace itu bisa menggiring bola tanpa penjagaan di kotak penalti, lalu memberikan operan kepada Koki Ogawa di muka gawang Indonesia. Operan itu cukup untuk memancing Justin melakukan sapuan yang berujung gol bunuh diri.

Kiper Indonesia Maarten Paes berusaha menyelamatkan gawangnya dari serangan pemain Jepang pada pertandingan Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (15/11/2024). Indonesis kalah 0-4 dari Jepang.

Pada gol ketiga, giliran Maarten Paes yang melepaskan operan keliru. Ia memberikan ”asis” kepada gelandang Jepang, Hidemasa Morita, yang hanya perlu dua sentuhan sebelum melepaskan tembakan yang menggetarkan jala gawang Indonesia.

Itu adalah blunder kedua Maarten bersama skuad Garuda. Sebelumnya, ia berandil memberikan penalti kepada Arab Saudi pada gim pertama Grup C. Ia bisa menebus error itu dengan menahan eksekusi penalti penyerang Saudi, Salem al-Dawsari.

Selanjutnya, gol pamungkas Jepang di Gelora Bung Karno yang diciptakan bek sayap pengganti, Yukinari Sugawara, juga disebabkan kesalahan penempatan posisi para pemain belakang Indonesia.

Tidak ada satu pun bek Indonesia yang menutup ruang tembak Sugawara setelah ia memenangi adu sprint dengan bek kiri, Calvin Verdonk. Pemain Indonesia hanya fokus menjaga pemain Jepang di kotak penalti sehingga Sugawara memutuskan untuk mengambil keputusan berbeda hanya dalam hitungan milidetik.

”Awalnya, saya ingin mengumpan, tetapi saya melihat rekan setim terlalu jauh dan banyak pemain Indonesia berjaga. Saya memilih untuk menembak langsung dan senang bisa menyumbang gol untuk kemenangan tim,” ujar Sugawara. 

Sayap kiri Timnas Indonesia, Calvin Verdonk (kiri), berusaha merebut bola dari pemain Jepang, Yukinari Sugawara, pada pertandingan Grup C putaran ketiga kualifikasi Piala Dunia zona Asia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (15/11/2024). Indonesis kalah 0-4 dari Jepang.

Ya, Sugawara, yang berkarier di Inggris bersama Southampton, menunjukkan satu lagi keunggulan pemain Jepang dibandingkan pemain Indonesia, utamanya yang berkarier di Eropa. Ia memiliki inteligensi yang cemerlang sehingga pengambilan keputusan yang berubah dalam waktu cepat tetap bisa dieksekusi dengan sempurna.

Tak heran, Jepang bisa amat dominan di Grup C dengan meraih empat menang dan satu seri. Samurai Biru sudah mencetak 19 gol dan baru satu kali kemasukan akibat gol bunuh diri Taniguchi. Itu membuat Jepang sudah satu kaki mengunci posisi juara Grup C dan menyegel tiket ke Piala Dunia 2026.

Sisi inteligensi itu yang belum terlihat dari skuad Garuda. Keputusan pemain-pemain Indonesia dominan keliru untuk menyelesaikan peluang serta saat upaya meredam peluang Jepang.

Selain itu, Jepang menunjukkan kedewasaan mereka berkat pengalaman panjang bermain di level elite, baik sejak usia dini hingga tingkat profesional. Mereka sudah mengalami beragam turnamen terbaik bersama tim nasional hingga rutin bermain di liga-liga top Eropa.

Harus diakui, meskipun telah mendatangkan 16 pemain naturalisasi, jalan Indonesia masih amat jauh untuk mendekati level Jepang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra