Donald Trump mengancam akan membumihanguskan Gaza jika Hamas tidak membebaskan sandera yang masih ditahannya. Bertolak belakang dengan pidatonya di Kongres.
06 Mar 2025 09:30 WIB · Internasional
WASHINGTON, KAMIS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumbar kembali ancamannya. Ia akan membumihanguskan Gaza jika warga AS yang menjadi sandera tidak dibebaskan Kelompok Hamas. Trump menyebut dia tidak akan segan mengirimkan semua kebutuhan perang bagi militer Israel untuk mewujudkan keinginannya itu.
Juru bicara Hamas abdel-Latif al-Qanoua mengatakan, cara terbaik membebaskan sisa sandera di Gaza adalah melanjutkan perundingan gencatan senjata tahap II. Perundingan seharusnya digelar sejak awal Februari 2025. "Ancaman (Trump) membuat rumit kesepakatan gencatan senjata dan mendorong penjajah menerapkan syarat-syaratnya," kata al-Qanoua, Kamis (6/3/2025).
Hingga 24 orang diduga masih disandera Hamas dan sejumlah kelompok perjuangan kemerdekaan Palestina di Gaza. Dalam gencatan senjata Januari-Februari 2025, Hamas membebaskan 25 sandera dan menyerahkan delapan jenazah.
Pernyataan al-Qanuoa disampaikan setelah Trump kembali mengancam Hamas. Ia akan membumihanguskan Gaza jika warga AS yang disandera tidak dibebaskan Hamas.
Ancaman Trump dilontarkan tak lama setelah dirinya berpidato di hadapan Kongres AS, Rabu (5/3/2025). Saat itu, dia menyatakan berupaya mendorong perdamaian di Timur Tengah dan memperluas jangkauan negara penandatangan Perjanjian Abraham, perjanjian untuk menormalisasi hubungan diplomatik negara Arab dan Israel.
”Kepada Rakyat Gaza: masa depan yang indah menanti, tetapi tidak jika Anda menyandera. Jika Anda melakukannya, Anda mati! Ambil keputusan yang cerdas. Bebaskan sandera sekarang atau akan ada neraka yang harus dibayar nanti!” kata Trump dalam unggahannya di platform Truth Social miliknya.
Dalam lanjutan unggahannya, Trump menegaskan peringatannya itu adalah yang terakhir yang disampaikannya. Apabila menolak, Hamas dan seluruh rakyat Gaza akan menanggung akibatnya. ”Ini peringatan terakhir bagi Anda! Bagi para pemimpin, sekaranglah saatnya meninggalkan Gaza, selagi Anda masih punya kesempatan,” tulisnya.
Ancaman Trump ini muncul tidak hanya setelah dia berpidato dan menyatakan keinginannya mendorong perdamaian di Timur Tengah, tetapi juga setelah negara-negara Arab menyodorkan proposal baru pembangunan kembali Gaza. Dalam proposal baru ini, negara-negara Arab berencana membentuk sebuah komite administratif yang bertanggung jawab atas pembangunan kembali Gaza sekaligus bertanggung jawab mengawasi penyaluran bantuan kemanusiaan serta administrasi pemerintahan sementara pascaperang.
Proposal ini bertolak belakang dengan keinginan Trump yang berencana mengosongkan Gaza, mengusir rakyat Palestina dari wilayah itu, dan memindahkannya ke beberapa negara, antara lain Jordania, Mesir, Arab Saudi, bahkan Indonesia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/06/2a9f99d2d90df5eeed4aea56365dde36-000_36ZB968.jpg)
Dalam ancamannya, Trump menyebut pernyataannya bukan sesuatu yang bisa dipandang sebelah mata. Apalagi setelah Trump memutuskan mencabut semua keputusan yang diambil pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden, yang melarang pengiriman sejumlah persenjataan serta bom bagi militer Israel. Trump, tak lama setelah kembali berkuasa di Gedung Putih, mencabut keputusan itu dan memberikan lampu hijau pengiriman kembali persenjataan dan bom bagi militer Israel.
”Saya mengirimkan kepada Israel semua yang dibutuhkannya untuk menyelesaikan tugas, tidak seorang pun anggota Hamas akan aman jika kalian tidak melakukan apa yang saya katakan,” katanya.
Meski demikian, Trump tidak menyebutkan secara pasti tindakan apa yang akan diambilnya jika Hamas tidak mau memenuhi tuntutannya.
Lima warga Amerika diyakini masih disandera Hamas sejak serangan 7 Oktober 2023. Empat dari mereka dipastikan tewas dan yang lainnya, Edan Alexander, diyakini masih hidup.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/06/9436f169-79e1-46b3-ad35-f57b4c347325_jpg.jpg)
Bersamaan dengan ancaman terhadap Hamas dan rakyat Palestina di Gaza, Pemerintah AS diketahui melakukan pembicaraan rahasia dengan kelompok tersebut untuk mengupayakan pembebasan sandera. Menurut dua sumber, Trump mengutus Utusan Khusus Presiden AS untuk Urusan Sandera Adam Boehler agar bernegosiasi langsung dengan pejabat Hamas. Perundingan disebut-sebut telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir di Doha, Qatar.
Negosiasi langsung AS dengan Hamas, yang masih masuk dalam daftar kelompok teror Pemerintah AS, dikonfirmasi oleh Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt. Dia mengatakan bahwa Boehler memiliki kewenangan berbicara langsung dengan Hamas, dan Pemerintah Israel pun telah diajak berkonsultasi soal perundingan tersebut.
Saat ditanya apakah negosiasi itu mencakup keinginan Trump untuk mengosongkan Gaza dan mengambil alih wilayah itu, Leavitt tidak memberikan jawaban yang jelas. ”Ini adalah pembicaraan dan diskusi yang sedang berlangsung. Saya tidak akan merincinya. Ada nyawa orang Amerika yang dipertaruhkan,” katanya.
Taher Al-Nono, penasihat politik Hamas, kepada Reuters mengaku dirinya tidak mendapat informasi mengenai pembicaraan itu. ”Saya tidak memiliki informasi tentang pertemuan dengan pejabat Amerika, tetapi setiap pertemuan dengan Pemerintah AS bermanfaat bagi stabilitas kawasan,” katanya.
Sumber Reuters menyebut perundingan dikhususkan pada upaya AS untuk membebaskan Alexander, satu-satunya sandera warga AS yang masih hidup. Sosoknya pernah muncul dalam sebuah rekaman video yang dipublikasikan Hamas pada November 2024.
Walau demikian, sumber lain mengatakan, Boehler juga mengupayakan kesepakatan lebih luas untuk membebaskan semua sandera tersisa dan gencatan senjata jangka panjang antara Hamas dan Israel. Diyakini masih ada 59 sandera yang ditahan Hamas dan separuhnya telah meninggal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/20/f45bb082-78fa-4f88-b1f5-047a70317f13_jpg.jpg)
Jonathan Panikoff, mantan wakil perwira intelijen nasional AS di Timur Tengah, mengatakan, pendekatan diplomatik Trump yang tidak konvensional di satu sisi memiliki peluang. Namun, di sisi lain, ada risiko yang juga harus dihadapi.
”Di satu sisi, melibatkan Hamas secara langsung dapat mempermudah pembebasan sandera AS dan membantu mencapai kesepakatan jangka panjang,” kata Panikoff, yang kini bekerja sebagai analis Atlantic Council, sebuah lembaga think tank.
Keterlibatan langsung AS berbicara dengan Hamas terjadi karena kelanjutan gencatan senjata Israel-Hamas masih belum pasti. Trump telah memberi isyarat bahwa ia tidak berniat mendorong Netanyahu agar tidak kembali bertempur jika Hamas tidak menyetujui persyaratan proposal gencatan senjata baru. Proposal itu disebut Israel sebagai rancangan utusan khusus AS, Steve Witkoff.
Rencana baru tersebut mengharuskan Hamas membebaskan setengah dari sandera yang tersisa sebagai imbalan atas perpanjangan gencatan senjata, dan untuk merundingkan gencatan senjata jangka panjang. Israel tidak menyebutkan pembebasan lebih banyak tahanan Palestina yang menjadi komponen utama gencatan senjata tahap pertama. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Mahdi MuhammadEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari