Naluri Imperialis Trump di Jalur Gaza

Keinginan Trump menguasai Jalur Gaza, dengan memindahkan warga Palestina, hanyalah kemasan ulang pengusiran warga Palestina, basis berdirinya Negara Israel 1948.

08 Feb 2025 08:10 WIB · Opini

Oleh REDAKSI

Pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump soal Jalur Gaza tak hanya mengejutkan dunia. Idenya menguak naluri imperialis dalam doktrin kebijakan luar negerinya.

Pernyataan Trump yang mengejutkan itu disampaikan saat konferensi pers bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, tamu kepala pemerintahan asing pertama yang dijamu selepas pelantikannya pada 20 Januari lalu, di Gedung Putih, Washington DC, AS, Selasa (4/2/2025). Trump menegaskan, AS ingin menguasai Jalur Gaza dan membangun kembali enklave itu menjadi ”Riviera-nya Timur Tengah” setelah warga Palestina dipindahkan keluar.

Belum jelas, bagaimana ia akan mewujudkan keinginan itu. Meski demikian, ia telah menyebut Jordania dan Mesir sebagai negara yang diharapkannya menampung warga Gaza. Dua negara itu sudah jelas-jelas menolak. Trump merasa, besarnya bantuan AS ke Mesir-Jordania bisa dijadikan alat penekan.

Awalnya, Trump mengungkapkan tak tertutup kemungkinan tentara AS dikerahkan guna melaksanakan keinginan tersebut. Setelah melihat penolakan keras, termasuk dari tokoh-tokoh Republik pendukungnya di AS, ia meralat sehari kemudian dengan menyatakan, Israel akan menyerahkan Jalur Gaza kepada AS sehingga pasukan AS tak perlu dikirim ke Gaza.

Seperti diberitakan, penolakan terhadap rencana Trump itu tak hanya dari Palestina dan dunia Arab. Negara-negara Barat sekutu AS pun menentangnya. Menlu Jerman Annalena Baerbock menyebut pemindahan warga Palestina dari Gaza ”tak dapat diterima” dan ”melanggar hukum internasional”.

Quote

Rencana itu tak ubahnya seperti pembersihan etnis.

Rencana itu tak ubahnya seperti pembersihan etnis. Melihat absurdnya—Gedung Putih menyebutnya out of the box—rencana Trump tersebut, banyak kalangan tidak yakin, ucapan Trump menggambarkan keinginan dia yang sebenarnya. Ada yang menyebut itulah taktik Trump untuk menjajaki parameter-parameter negosiasi yang akan dilakukannya.

Namun, apa yang dilakukan Trump berbahaya, terlebih disampaikan saat negosiasi gencatan senjata babak kedua Hamas-Israel baru dimulai. Media Israel mengingatkan bahaya jika, gara-gara proposal Trump, Hamas menolak melanjutkan perundingan dan tetap menahan sandera Israel yang tersisa.

Trump

Jika Trump ngotot dengan rencananya, seperti dilontarkan pejabat di Kairo, Mesir bisa mengancam keluar dari perjanjian damai dengan Israel. Perjanjian damai dengan Mesir (1979) dan Jordania (1994) jadi fondasi keamanan bagi Israel.

Proposal Trump di Gaza juga menguak naluri imperialisnya, yang diperlihatkan sejak ia menyatakan keinginan mengambil alih Terusan Panama, Kanada, dan Greenland. Pengamat Mesir, Mohamed Salmawy, menyebut proposal Trump itu hanya kemasan ulang pengusiran warga Palestina, basis berdirinya Negara Israel 1948 (Al Ahram, 5/2/2025).

Retorika-retorika ekspansionis Trump mendengungkan lagi imperialisme gaya lama. Wajar jika seluruh dunia—kecuali Israel—menolak mentah-mentah proposal Trump itu.


Kerabat Kerja

Penulis:

REDAKSI
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi, Andreas Maryoto