Kebijakan terkait imigrasi dan ancaman Trump mengacaukan rencana perjalanan wisatawan internasional. Tidak hanya ke AS, tetapi juga ke negara-negara yang diancamnya.
17 Jan 2026 11:00 WIB · Internasional
AFP
Sektor pariwisata Amerika Serikat akan kehilangan ”berkah” dari gelombang wisatawan asing yang bakal bertandang ke negeri itu. Tahun ini, sejatinya ada tiga event besar yang bisa mendatangkan devisa, yakni perayaan 250 tahun kemerdekaan AS, 100 tahun jalan raya ikonik ”Route 66”, dan Piala Dunia FIFA.
Sebagaimana telah dijadwalkan, AS akan menjadi tuan rumah Piala Dunia bersama dengan Meksiko dan Kanada. Dua tahun lagi, AS juga akan menjadi tuan rumah Olimpiade. Namun, kini orang mulai berpikir ulang untuk bertamasya ke AS. Penyebabnya, kebijakan Presiden AS Donald Trump terkait pendatang.
Perkara pertama yang akan mengganjal pariwisata AS adalah penangguhan visa imigran untuk pelamar dari 75 negara, Rabu (14/1/2026). Perkara lain adalah ancaman Trump yang akan menerapkan deportasi massal serta akan memulai program meneliti profil media sosial wisatawan asing sebelum mereka diizinkan masuk AS.
Terkait Piala Dunia FIFA, kebijakan Trump dapat mengganggu kelancaran dan kesuksesan perhelatan akbar tersebut, baik di AS maupun di Kanada dan Meksiko. Sikap Trump yang mudah berubah membuat kedua tetangganya marah dan mengancam memindahkan pertandingan.
Padahal, ratusan ribu penggemar sepak bola diperkirakan akan datang ke negara-negara tuan rumah, khususnya AS yang menyelenggarakan 82 dari 104 pertandingan turnamen. Trump juga berulang kali mengancam akan memindahkan pertandingan Piala Dunia dari beberapa kota yang dipimpin Partai Demokrat dengan alasan keamanan. Kota-kota yang berpotensi berisiko antara lain Boston, San Francisco, Seattle, dan Los Angeles.
Kontrak kota tuan rumah hanya dapat diakhiri jika terjadi peristiwa bencana, seperti bencana alam, perang, atau kerusuhan. Jika batal, akan ada konsekuensi hukum.
Situasi itu tentu membuat FIFA pusing. Belum lagi para penggemar yang sudah memesan penerbangan dan akomodasi.
Yang menambah situasi tidak pasti, Trump telah mengerahkan Garda Nasional ke banyak kota yang dipimpin politisi dari Partai Demokrat. Lantas, razia oleh agen imigrasi di kota-kota seperti Los Angeles yang memburu migran tanpa dokumen kian masif.
Situasi lain yang turut memengaruhi adalah perkara tarif yang dikenakannya pada Meksiko dan Kanada. Selain itu, siapa yang bisa menjamin Trump tak mencaplok Meksiko dengan alasan menindak kartel narkoba internasional sebagaimana yang dilakukannya atas Venezuela.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/20/1822b894-d12c-4bf7-affc-025b53278bd9_jpg.jpg)
Selain ganjalan di atas, ada pula perkara visa. Rencana penangguhan visa AS bagi 75 negara akan mulai berlaku 21 Januari. Sejumlah negara yang terdampak antara lain negara-negara di Amerika Latin, seperti Brasil, Kolombia, dan Uruguay. Lalu, ada pula negara-negara Balkan, seperti Bosnia dan Albania, serta negara-negara Asia Selatan, seperti Pakistan dan Bangladesh. Selain itu, penangguhan visa juga mengarah pada warga dari Afrika, Timur Tengah, dan Karibia.
Alasan penangguhan adalah adanya indikasi warga dari 75 negara itu datang ke AS untuk menetap, bukan hanya jalan-jalan. AS mensyaratkan, pelamar visa harus dipastikan mandiri secara finansial dan tidak berisiko menjadi bergantung pada subsidi pemerintah selama tinggal di AS.
Untuk Asia Tenggara, kebijakan itu mengarah pada warga dari Kamboja, Thailand, Laos, dan Myanmar.
Pada kondisi normal, potensi wisatawan asing yang datang ke AS akan membahagiakan pemilik hotel dan maskapai penerbangan. Masalahnya, dalam 12 bulan terakhir ”tidak ada yang normal” di AS. Semakin banyak negara yang mengeluarkan peringatan perjalanan ke AS. Banyak juga orang yang menyerukan boikot total perjalanan ke AS. Bahkan, AS kini disebut sebagai ”negara yang bermusuhan”.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/26/d27b1f9d-18f7-4daa-bde0-e84659ed2044_jpg.jpg)
BBC, 12 Januari 2026, memberitakan, laporan World Travel & Tourism Council (WTTC), memproyeksikan AS akan kehilangan pendapatan sebesar 12,5 miliar dolar AS dari pengeluaran wisatawan asing. Dari 184 negara yang dianalisis oleh WTTC dan Oxford Economics, AS adalah satu-satunya negara yang diperkirakan mengalami penurunan pengeluaran wisatawan asing sepanjang tahun 2025.
Kondisi ini dikhawatirkan makin memburuk. Keputusan Trump untuk menyerang Venezuela, mengancam akan mencaplok Greenland, serta mengancam Kuba, Iran, Kolombia, dan Meksiko memengaruhi keputusan wisatawan untuk berwisata ke AS serta destinasi lain di negara-negara yang diancam Trump.
”Tadinya saya mau menengok teman-teman di Greenland, tetapi setelah Trump mengancam terus, saya pikir-pikir lagi,” kata warga Denmark, Heather Storgaard.
Jackie Arruda, pemasar perhotelan di Brasil, juga berencana mengunjungi teman di Greenland. Namun, sekarang ia sedang menimbang untuk membatalkan perjalanannya. ”Ancaman bisa berubah cepat menjadi kenyataan. Seperti yang terjadi pada Venezuela,” ujarnya.
Jesús Noguera, pemilik Cuba Careo Tours di Havana, khawatir retorika Trump membuat orang takut datang ke Kuba. Padahal, Kuba sedang sangat membutuhkan wisatawan untuk memulihkan perekonomian.
Bagi operator pariwisata, patokan yang mereka gunakan adalah saran dari pemerintah. Jika pemerintah memberikan saran untuk tidak bepergian, itu harus dipatuhi karena jika terjadi apa-apa, asuransi tidak akan mau menanggung. Namun, pelancong independen masih bisa pergi, tetapi tanpa asuransi perjalanan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/08/84f93535-1150-42da-8f94-81205ac3e7a9_jpg.jpg)
Di sisi lain, Inga Rós Antoníusdóttir, eksekutif pariwisata yang berpengalaman di Arktika dan Nordik, menilai bahwa peningkatan perhatian media sangat penting bagi suatu tujuan wisata. Seperti Greenland, misalnya. Dengan perhatian media yang luas, kesadaran global tentang Greenland dapat ditingkatkan. Greenland dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk menampilkan budaya, alam, dan sejarahnya yang unik.
Di Iran, Mahdi Eshraghi, CEO dari agen wisata Surfiran yang berbasis di Teheran, mengatakan bahwa pernyataan Trump untuk campur tangan dalam protes di Iran bukan masalah persoalan utama yang mendasari penurunan wisatawan asal Barat. Menurut dia, persepsi negatif yang sudah lama tertanam di benak warga AS tentang Iran dan perubahan kebijakan telah menyebabkan perusahaan perjalanan dan individu menghindari pemasaran dan kunjungan ke Iran.
”Penurunan perjalanan wisata ke Iran sudah terjadi sejak AS menarik diri dari perjanjian nuklir pada 2018. Bukan karena reaksi terhadap retorika politik saat ini,” kata Eshraghi.
Dalam industri perjalanan, persepsi adalah segalanya. Dua tahun lalu, Forum Ekonomi Dunia menobatkan AS sebagai tujuan wisata terbaik di dunia. Tetapi, lihatlah sekarang. Kini para pelancong merasa risiko berkunjung ke negeri itu tidak sebanding dengan imbalannya. Tidak hanya risiko melancong ke AS, tetapi juga melancong ke negara-negara yang menjadi incaran Trump. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul