Angka-angka Mengerikan Setelah Dua Tahun Perang di Gaza

Angka resmi di Gaza belum termasuk 6.000 orang yang terkubur di bawah reruntuhan dan 460 kematian akibat malanutrisi.

08 Okt 2025 10:53 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Tanggal 7 Oktober 2025 perang Hamas-Israel tepat berlangsung dua tahun di Jalur Gaza. Data terbaru menggambarkan dampak mengerikan terhadap rakyat Palestina akibat serangan Israel. Negosiasi Hamas-Israel mmemberikan secercah harapan.

”Sudah dua tahun kami hidup dalam ketakutan, kengerian, pengungsian, dan kehancuran,” ujar Mohammed Dib (49), warga Palestina di Gaza, kepada Reuters edisi Rabu (8/10/2025).

Data saja tidak dapat menggambarkan dampak keseluruhan dari serangan militer Israel. Namun, angka-angka tersebut dapat memberi gambaran tentang bagaimana konflik mempengaruhi kehidupan 2,1 juta warga Palestina di kawasan seluas 365 kilometer persegi itu.

Seorang perempuan menggendong bayi di dekat anak-anak lain di luar tenda di kamp pengungsian warga korban perang di Nuseirat utara, Jalur Gaza tengah, Selasa (7/10/2025). Hari itu merupakan peringatan dua tahun perang Hamas-Israel berlangsung. Delegasi dari Hamas, Israel, dan Amerika Serikat mulai mengadakan perundingan perdamaian di Mesir sejak 6 Oktober 2025.

Media Associated Press telah merangkum data dari Kementerian Kesehatan Gaza, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Komite Internasional Palang Merah (ICRC), dan lembaga lain terkait terkait perang di Gaza per September 2025.

Sekitar 11 persen penduduk Gaza telah terbunuh atau terluka. Secara terperinci, lebih dari 67.000 orang tewas dan 170.000 orang terluka.

Jumlah korban tewas mencakup 18.430 anak-anak, 9.735 perempuan, dan 4.429 lansia, tetapi belum termasuk 6.000 orang yang terkubur di bawah reruntuhan dan 460 kematian akibat malanutrisi. Selain itu, lebih dari 40.000 korban mengalami luka yang mengubah hidup.

Quote

Sudah dua tahun kami hidup dalam ketakutan, kengerian, pengungsian, dan kehancuran.

Kantor Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) memperkirakan, jumlah korban tewas dan luka kemungkinan lebih besar. Sebab, operasional Kemenkes Gaza sempat terhenti di awal-awal perang karena serangan Israel. Kemenkes Gaza tidak membedakan penghitungan korban warga sipil dan pejuang militer.

Sekitar 2 juta warga, yakni 90 persen dari total populasi, menjadi pengungsi. Mereka berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain setiap beberapa bulan untuk menghindari serangan. Tenda kumuh tersebar di sebagian besar wilayah selatan Gaza. Lebih dari 500.000 orang menghadapi kelaparan yang sangat parah.

Pusat Satelit PBB menyatakan, setidaknya 102.067 bangunan telah hancur, termasuk sekolah, kampus, klinik medis, masjid, rumah kaca, dan rumah warga. Dengan demikian, sebanyak 78 persen bangunan dan 92 persen rumah rusak atau hancur. Banyak lahan pertanian hancur lebur, sementara area pemakaman penuh.

Menurut Komite Perlindungan Jurnalis dan PBB, perang tersebut merupakan konflik paling mematikan bagi jurnalis, tenaga kesehatan, dan pekerja bantuan PBB dalam sejarah. British Medical Journal menyebutkan, prevalensi pasien dengan cedera akibat bahan peledak di Gaza sebanding dengan data pasukan tempur Amerika Serikat yang terluka di Irak dan Afghanistan.

Para ahli PBB serta kelompok-kelompok hak asasi manusia telah menyebutkan aksi Israel merupakan genosida. Tel Aviv terus membantah. Adapun sebanyak 2.662 warga Palestina mendekam di penjara-penjara Israel sejak perang berlangsung.

Komitmen Hamas

Israel terus menyerang Jalur Gaza sampai sekarang. Sementara itu, Hamas dan Israel telah mulai bernegosiasi secara tidak langsung terkait proposal perdamaian usulan Presiden AS Donald Trump di Sharm el-Sheikh, Mesir, sejak Senin (6/10/2025) waktu setempat. Pembahasan mencakup detail pertukaran sandera dan tahanan serta jaminan keamanan.

Menurut seorang sumber, perundingan telah ditunda pada Selasa. Namun, suasana lebih baik daripada hari Senin. Perundingan terkait proposal berisi 20 poin itu akan berlanjut pada Rabu, waktu setempat. Negosiasi pada Rabu akan menjadi indikator yang menentukan kemajuan pembicaraan mengingat para mediator senior hadir.

Pemandangan umum Kota Sharm el-Sheikh di Laut Merah Mesir. Kota ini menjadi tempat perundingan secara tidak langsung terkait proposal perdamaian dari Amerika Serikat antara pejabat Hamas dan Israel sejak Senin (6/10/2025). Perundingan memasuki hari kedua, Selasa (7/10/2025).

Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin akan menyusul ke Mesir. Sebagai salah satu mediator kunci, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman al-Thani juga bakal bergabung dalam perundingan Rabu.

”Ini bertujuan mendorong rencana gencatan senjata Gaza dan perjanjian pembebasan sandera,” ujar seorang pejabat Qatar.

Pada Selasa (7/10/2025), pemimpin tertinggi Hamas, Khalil Al-Hayya, mengatakan, Hamas datang untuk ”terlibat dalam negosiasi yang serius dan bertanggung jawab” kepada Al Qahera News TV. Hamas siap mencapai kesepakatan, tetapi membutuhkan jaminan dari Trump bahwa perang akan berakhir dan tidak terulang.

Pengunjuk rasa menuntut kemerdekaan Palestina di jalanan Barcelona, Spanyol, Jumat (4/10/2025). Pengunjuk rasa juga mengecema perompakan yang dilakukan Angkatan Laut Israel terhadap ratusan aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang ditangkap di perairan internasional. Participants march during a demonstration in solidarity with Palestinians in Barcelona on October 4, 2025. The Global Sumud Flotilla, with around 45 vessels carrying politicians and activists, departed Barcelona last month to challenge Israel’s blockade of Gaza, where the United Nations reports famine conditions after nearly two years of war. The Israeli navy intercepted several vessels at sea on October 1, 2025, after warning activists against entering waters it says fall under its blockade. (Photo by Lluis GENE / AFP)

Hamas juga kembali menyatakan keinginan gencatan senjata permanen dan komprehensif. Kelompok itu juga mendesak segera dimulainya proses rekonstruksi di bawah pengawasan ”badan teknokratis nasional” Palestina.

”Delegasi kami yang berpartisipasi dalam negosiasi saat ini di Mesir sedang berupaya mengatasi semua hambatan untuk mencapai kesepakatan yang memenuhi aspirasi rakyat kami di Gaza,” ujar pejabat senior Hamas, Fawzi Barhoum.

Hamas masih memiliki syarat untuk menyetujui proposal tersebut, termasuk penarikan penuh pasukan Israel. Di sisi lain, Israel ingin demiliterisasi Hamas, sesuatu yang ditolak kelompok itu.

Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty mengatakan, negosiasi saat ini bertujuan untuk implementasi tahap pertama perjanjian, yakni pembebasan sandera, pembukaan akses bantuan kemanusiaan, dan pembebasan tahanan Palestina.

”Oleh karena itu, butuh penempatan ulang pasukan Israel agar kami dapat bekerja untuk melaksanakan tahap ini,” tuturnya.

Keyakinan Trump

Dari AS, Utusan Khusus Presiden AS untuk Urusan Timur Tengah Steve Witkoff bersama Jared Kushner menjadi perwakilan dalam negosiasi di Mesir. Kushner adalah menantu Trump yang dulu berperan penting dalam lahirnya Perjanjian Abraham, kesepakatan tentang normalisasi hubungan negara Arab dengan Israel.

Trump tampak yakin perang Gaza dapat berakhir. Dia sempat bertemu Witkoff dan Kushner untuk mendapatkan informasi terbaru sebelum berangkat ke Mesir.

”Ada kemungkinan nyata kita bisa melakukan sesuatu. Saya pikir ada kemungkinan kita bisa mencapai perdamaian di Timur Tengah,” kata Trump kepada para wartawan di Ruang Oval.

Saat ini, fokus AS pada perundingan adalah menghentikan pertempuran. Washington juga ingin mendapatkan rincian logistik tentang pertukaran sandera Israel dan tahanan Palestina.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) berjabat tangan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di akhir konferensi pers bersama di Ruang Makan Negara, Gedung Putih, Washington DC, Senin (29/9/2025). Trump menyambut Netanyahu dalam kunjungan keempatnya ke Gedung Putih. Mereka membahas proposal perdamaian AS untuk gencatan senjata antara Hamas-Israel dan mengakhiri perang di Jalur Gaza.

Perundingan di Mesir memancarkan sedikit harapan bahwa perang di Gaza dapat berakhir. Namun, para pejabat dari semua pihak mendesak agar berhati-hati atas prospek kesepakatan yang terburu-buru.

Masih belum terjawab siapa yang akan memerintah dan membangun ulang Gaza serta menggunakan dana dari siapa. Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengesampingkan peran apa pun bagi Hamas.

Netanyahu tidak segera mengomentari status perundingan. Dalam sebuah pernyataan di X, ia hanya mengatakan, Israel berada dalam ”hari-hari penentuan”. ”Kami akan terus bertindak untuk mencapai semua tujuan perang: pembebasan semua sandera, penghapusan kekuasaan Hamas, dan jaminan bahwa Gaza tidak akan lagi menjadi ancaman bagi Israel,” ujarnya.

Serangan Israel tanpa ampun di Gaza telah membuatnya semakin terkucilkan di dunia internasional. Sejumlah negara Barat besar mulai mengakui Palestina, termasuk Perancis, Inggris, dan Kanada. Unjuk rasa pro-Palestina terus bergelora di berbagai benua, mulai dari Amerika, Eropa, hingga Australia. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan