Perundingan Hamas-Israel Dimulai di Mesir

Dua tahun sudah perang di Gaza berkecamuk. Dunia menanti akhir dari konflik dengan adanya gencatan senjata nyata.

07 Okt 2025 10:14 WIB · Internasional

Oleh Laraswati Ariadne Anwar

SHARM EL-SHEIKH, SELASA — Perundingan gencatan senjata antara Hamas dan Israel akhirnya dimulai kembali di Mesir. Pada hari pertama, perundingan berjalan positif sehingga memberi harapan ada perkembangan baik menghentikan perang yang kini genap berjalan dua tahun.

Hamas dan delegasi Israel bertemu di Sharm el-Sheikh, kota pariwisata di pesisir Laut Merah, Mesir, pada Senin (6/10/2025) waktu setempat atau Selasa (7/10/2025) waktu Indonesia. Pertemuan ini menyambung perundingan di Qatar pada bulan September yang tercemar serangan pesawat nirawak Israel.

Delegasi Hamas dipimpin Khalil al-Hayya. Bulan lalu, putra Al-Hayya merupakan salah sattu anggota delegasi Hamas yang tewas akibat serangan pesawat nirawak Israel di Doha, Qatar.

Holiday makers visit the Red Sea city of Sharm el-Sheikh, Egypt, where Israeli and Hamas officials are set to hold indirect talks, Monday, Oct. 6, 2025. (AP Photo)

Israel diwakili koordinator pembebasan sandera Gal Hirsch; penasihat politik luar negeri Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Ophir Falk; dan sejumlah pejabat dinas intelijen Mossad ataupun Shin Bet.

Dari Amerika Serikat (AS) ada Utusan Khusus Presiden AS untuk Urusan Timur Tengah Steve Witkoff. Ia didampingi Jared Kushner, menantu Presiden AS Donald Trump. Kushner pada masa pemerintahan pertama Trump, 2017-2021, memegang peranan penting dalam lahirnya Perjanjian Abraham, kesepakatan tentang normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Israel.

Tidak bertatap muka

Seperti biasa, kedua delegasi tidak bertatap muka. Mereka berada di ruangan terpisah. Mediator yang terdiri dari para diplomat Mesir, Qatar, dan AS bertugas bolak-balik mengantarkan pesan dari kedua belah pihak.

Melansir Al-Qahera, media yang terafiliasi intelijen Pemerintah Mesir, perundingan ini membahas teknis pembebasan sandera Israel ataupun tahanan politik Palestina. Masih ada 48 sandera Israel yang ditahan Hamas dan sebanyak 28 di antaranya diperkirakan sudah meninggal.

”Walaupun dimulai dengan semangat positif, selama beberapa hari ke depan, ini akan menjadi perundingan yang sulit,” kata seorang pejabat Palestina yang dirahasiakan namanya.

Holiday makers visit the Red Sea city of Sharm el-Sheikh, Egypt, where Israeli and Hamas officials are set to hold indirect talks, Monday, Oct. 6, 2025. (AP Photo)

Ia menjelaskan, penghalang utama ialah Israel tidak benar-benar berniat menghentikan perang. Mereka masih ingin menguasai Jalur Gaza sepenuhnya.

Hal itu tecermin dari situasi di Gaza selama perundingan berlangsung. Serangan Israel masih terjadi walaupun berkurang intensitasnya dibandingkan dengan hari-hari lalu. Kementerian Kesehatan di Gaza melaporkan, per Senin, ada 19 orang yang tewas akibat serangan Israel.

Secara total, Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat ada 67.160 warga Palestina yang tewas sejak 2023. Dari pihak Israel, serangan Badai Aqsa 7 Oktober 2023 menewaskan 1.219 jiwa. Ini adalah serangan terburuk yang menyasar orang Yahudi sejak Holocaust.

Harapan warga

Warga Gaza sangat mengharapkan terobosan dalam perundingan ini. Selain korban tewas, serangan balasan Israel memaksa 2,2 juta warga terpaksa mengungsi. Mereka bertahan hidup di antara puing-puing. Kini, mereka menghadapi bencana kelaparan akut. 

Militer Israel menghalangi akses masuknya bantuan sosial ke Gaza. Bantuan hanya disebarkan melalui empat posko Yayasan Kemanusiaan Gaza (Gaza Humanitarian Fund/GHF) yang buka satu jam setiap hari. 

Akibatnya, antrean sangat panjang dan padat. Selain itu, tentara Israel dan kontraktor dari AS kerap melepaskan tembakan ke arah warga Gaza. Dalihnya ialah warga tidak tertib mengantre sehingga ”mengancam” keamanan di lapangan. 

Children sit with jerrycans next to a puddle of water outside tents sheltering people displaced by war in the south of Deir el-Balah in the central Gaza Strip on October 6, 2025. Delegations from Hamas, Israel and the United States are holding talks in Egypt on October 6, with President Donald Trump urging negotiators to "move fast" to end the nearly two-year war in Gaza. (Photo by Bashar TALEB / AFP)

PBB melaporkan, sebanyak 1.300 korban tewas dari keseluruhan di Palestina kehilangan nyawa ketika berusaha mendapat bantuan sosial, terutama makanan. Hampir setengah dari angka tersebut terjadi di sekitar posko-posko GHF.

”Hanya perundingan ini harapan kami. Jika gagal, menjadi vonis mati bagi kami,” kata Gharam Mohammad (20), seorang perempuan pengungsi di Gaza.

Pertukaran sandera dan tahanan merupakan tahap awal dari proses gencatan senjata Hamas dengan Israel. Apabila itu terwujud, Israel akan menarik mundur pasukan dari Gaza.

Setelah itu, Hamas harus meletakkan senjata. Pengelolaan Gaza dilakukan oleh komite khusus di bawah Otoritas Palestina Tepi Barat. Palestina bersatu harus dikelola oleh pemerintahan sipil dan tidak melibatkan Hamas.

Optimisme Trump

Di Washington DC, Presiden AS Donald Trump mengemukakan optimismenya pada perundingan kali ini. ”Firasat saya mengatakan kita bisa meraih kesepakatan yang baik,” ujarnya.

Trump mendesak Pemerintah Israel menghentikan serangan ke Gaza. Pada saat yang sama, ia menekan Hamas menerima proposal gencatan senjata yang ia buat. Apabila Hamas tidak menerima dan menanggapi sebelum Minggu (5/10/2025), Trump berjanji memberi mereka ”neraka”.

A woman passes a placard with the lettering 'Bring them home now' that is seen among portraits of hostages and victims of Palestinian militant group Hamas that are attached to the fence of the New Synagogue in Berlin on October 6, 2025, one day before the second anniversary of Hamas's October 7, 2023 attack on Israel. Delegations from Hamas, Israel and the United States are due to convene in Egypt for talks on October 6, with US President Trump urging negotiators to "move fast" to end the nearly two-year war in Gaza. Both Hamas and Israel have responded positively to Trump's proposal for an end to the fighting and the release of captives in Gaza in exchange for Palestinians held in Israeli jails. (Photo by John MACDOUGALL / AFP)

Di Jerusalem, Uskup Gereja Katolik Roma Kardinal Pierbattista Pizzaballa mengajak umat Katolik di Palestina agar tidak berpangku tangan. Memang, umat Katolik jumlahnya hanya 1 persen di Palestina, tetapi bisa mengambil peran aktif karena keberadaannya tidak mengancam siapa pun.

”Ayo, kita menjadi jembatan perdamaian antara Palestina dan Israel,” imbau Kardinal Pizzaballa.

Walaupun begitu, Pizzaballa mengakui ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Warga trauma akibat perang dan hidup dalam ketakutan. Bahkan, gereja Katolik di Jerusalem menjadi sasaran peluru nyasar meriam Israel yang menewaskan tiga orang pada Juli lalu.

”Ini hal yang susah, tetapi kita harus bisa keluar dari lingkaran kegelapan dan memulai lagi,” kata Pizzaballa.

Ia menjelaskan, di Jerusalem, perang telah memecah belah masyarakat yang majemuk. Padahal, kota itu merupakan kota suci bagi umat Islam, Kristen, dan Yahudi. Sekarang, semua tataran kehidupan bermasalah. Tataran politik, sosial, ekonomi, dan agama menjadi topik yang sangat sensitif. (AP/AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Laraswati Ariadne Anwar
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji