Angola menjadi persinggahan ketiga Paus Leo XIV dalam lawatan ke empat negara di Afrika.
20 Apr 2026 12:21 WIB · Internasional
AP/Andrew Medichini
Menjelang fajar, ribuan pemeluk Katolik di Angola telah berdatangan, mencari lokasi terbaik untuk dapat mengikuti misa yang dipimpin Paus Leo XIV, di Kilamba, Minggu (19/4/2026). Angola menjadi persinggahan ketiga Paus Leo dalam lawatan ke empat negara di Afrika.
Dihadapan sekitar 100.000 umat yang mengikuti misa di lapangan tanah, Paus Leo meminta warga Angola untuk mengatasi perpecahan akibat konflik berdarah yang telah terjadi 27 tahun. Paus yang menyebut Angola adalah negara indah, tetapi terluka, juga mengajak umat memerangi korupsi di negeri itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/20/b7e66021-f243-4f00-bd0f-342b75a00b41.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/20/a9fe3afc-fc70-4f9f-af9f-0ffe787509db.jpg)
Angola, yang memiliki populasi sekitar 38 juta jiwa, memperoleh kemerdekaan dari Portugal pada tahun 1975. Perang saudara yang dimulai setelah kemerdekaan dan berakhir tahun 2002 diperkirakan menelan korban setengah juta orang.
Menurut Badan Energi Internasional, Angola kini menjadi produsen minyak terbesar keempat di Afrika dan termasuk dalam 20 produsen terbesar di dunia. Negara ini juga merupakan produsen berlian terbesar ketiga di dunia dan memiliki cadangan emas serta mineral penting yang sangat dicari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/20/9319f750-2cf6-47a7-ac33-e7b653fba0f9.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/20/bc23bc91-fee5-427e-b5e5-56bf8f9b7cd2.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/20/3438167c-45b9-40e5-8f08-553bd31efa04.jpg)
Pesawat yang membawa Paus Leo XIV diarahkan ke tempat parkir setelah tiba di Luanda, Angola, Sabtu (18/4/2026).
AP/THEMBA HADEBE
Penantian yang setia untuk kedatangan Paus Leo XIV di Muxima, Minggu (19/4/2026).
AP/Andrew Medichini
Paus Leo XIV menyapa umat di Muxima, Angola, Minggu (19/4/2026).
AP/Andrew Medichini
Walaupun memiliki sumber daya alam yang kaya, lebih dari 30 persen penduduknya hidup dengam pendapatan kurang dari 2,15 dolar AS per hari. Kondisi itu merujuk pada data yang dikeluarkan Bank Dunia pada 2023. Dalam kunjungan sebelumnya di Kamerun, Leo mengecam ”rantai korupsi”, yang menghambat pembangunan dan merusak bumi dengan perang dan eksploitasi. Ia mengangkat poin-poin serupa di Angola.
Pada Minggu, Leo juga mengenang kesedihan dan penderitaan besar yang dialami rakyat Angola selama berabad-abad dengan berdoa di tempat ziarah Katolik Bunda Muxima atau Mama Muxima. Tempat itu terletak di lokasi pusat perdagangan budak Afrika selama pemerintahan kolonial Portugal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/20/903c64ca-4df0-4134-9814-c01fa5f9a50d.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/20/3a4817d2-3698-41f4-8829-03d3970df071.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/20/83c5beef-a666-43ac-8d43-8c010d256648.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/20/203a07d4-5006-421e-90fd-8bc9ccb8d41d.jpg)
Gereja Mama Muxima terletak di savana Angola yang dipenuhi pohon baobab di tepi Sungai Kwanza. Tempat itu menjadi tujuan ziarah utama umat Katolik Angola setelah umat melaporkan penampakan Bunda Maria sekitar tahun 1833. Di daerah ini pula, dahulu, orang-orang Afrika dikumpulkan sebelum dinaikkan ke kapal menuju Amerika untuk dijual sebagai budak.
Paus Leo berdoa Rosario di tempat suci itu, di sebuah gereja sederhana bercat putih dengan hiasan biru dan patung Bunda Maria di dalamnya. Berbicara dalam bahasa Portugis, ia mengenang bahwa di tempat itu, selama berabad-abad, banyak pria dan wanita telah berdoa di saat sukacita dan saat kesedihan dan penderitaan besar dalam sejarah negara ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/04/20/7a734a4f-3781-4f3f-b697-7d537303cb93.jpg)
Di hadapan sekitar 30.000 umat yang berkumpul di luar gereja, Paus Leo mengajak untuk juga membangun dunia yang lebih baik dan lebih ramah. ”Dunia di mana tidak ada lagi perang, tidak ada ketidakadilan, tidak ada kemiskinan, tidak ada ketidakjujuran,” tambahnya. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Nur Adji