Berkat gol dan asis Tonali melawan Irlandia Utara, Italia hanya berjarak satu kemenangan untuk kembali tampil di Piala Dunia setelah gagal lolos pada dua edisi.
27 Mar 2026 09:14 WIB · Olahraga
AP PHOTO/ANTONIO CALANNI
BERGAMO, JUMAT — Sandro Tonali bersinar pada waktu yang tepat, yaitu saat timnas Italia gugup menghadapi barisan pemain muda Irlandia Utara. Seperti di klubnya, Tonali adalah anomali yang justru menjadi berkah untuk tim.
Bersama Moise Kean, Tonali membawa Italia meraih kemenangan 2-0 atas Irlandia Utara pada semifinal playoff kualifikasi Piala Dunia 2026. Hasil di Stadion Gewiss, Bergamo, Jumat (27/3/2026), itu membawa ”Gli Azzuri” hanya berjarak satu kemenangan untuk kembali tampil di panggung terakbar sepak bola.
Awalnya terlihat tidak mudah bagi Italia mengatasi bayang-bayang kegagalan tampil di Piala Dunia. Tekanan mental yang besar tampak begitu menghantui pasukan Gennaro Gattuso ketika menjamu Irlandia Utara.
Kendati sorak-sorai penonton menjadi penambah semangat tim tuan rumah, Italia tak mampu mengubah dominasi di lapangan sepanjang babak pertama menjadi keunggulan di papan skor. Peluang terbaik hanya dari Mateo Rategui yang melepaskan tembakan langsung tepat ke arah kiper Pierce Charles.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/27/28178331-84b1-4a38-90ad-2c063cf76a4c_jpg.jpg)
”Kami memang tidak banyak mendapatkan momen berkualitas, tetapi kami memanfaatkannya dengan baik ketika mendapatkannya,” kata Tonali kepada RAI Sport.
Setelah melewati babak pertama tanpa gol pun, Italia tidak langsung menunjukkan perubahan. Tonali mengakui, mereka masih merasakan gugup pada awal paruh kedua.
Memasuki hampir sejam laga, barulah momen bagus bagi Tonali dan Italia itu tiba. Pantulan bola dari sundulan Isaac Price mungkin terlihat canggung, tetapi tidak dengan penyelesaian Tonali di tepi kotak penalti Irlandia Utara.
Dengan tendangan setengah volinya, Tonali menerjang bola untuk akhirnya membobol gawang Irlandia. Bola melesat melewati Charles, bahkan sebelum kiper itu punya kesempatan untuk bereaksi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/27/24c7f633-dace-40ee-89d1-d29ff245c5b8_jpg.jpg)
Bagi Tonali, musim ini bisa dibilang ”aneh”. Klubnya, Newcastle United, sedang kesulitan bersaing di papan tengah Liga Inggris. Ketika bermain di markas lawan, mereka jarang menang. Total hanya empat kali menang dari 15 laga tandang.
Newcastle juga tersingkir dari Liga Champions Eropa. Langkah ”The Magpies” terhenti pada babak 16 besar. Namun, Tonali justru ”menyimpang” dari kondisi sulit klub.
Saat laga leg kedua playoff Liga Champions menghadapi Qarabag, misalnya, Tonali tampil bersinar untuk mencetak gol dalam kemenangan 3-2. Performa apik gelandang 25 tahun ini dihadiahi predikat Pemain Terbaik Laga dari UEFA.
Grup Pemantau Teknis UEFA menyebut pemain tersebut mampu mempertahankan penguasaan bola, mengontrol laga dari tengah, membuat umpan-umpan penting, menyajikan energi besar untuk tim, dan mencetak gol pertama yang krusial.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/27/9647b9ff-5ac1-454d-a86e-a4575022b9f2_jpg.jpg)
Menjelang laga kontra Irlandia Utara, muncul keraguan Tonali akan diturunkan. Mantan pemain AC Milan ini mengalami cedera kaki saat melawan Barcelona pekan lalu dan absen dalam kekalahan derbi melawan Sunderland di akhir pekan.
Tonali juga kerap absen membela Italia di turnamen besar. Namanya tidak masuk dalam skuad Italia ketika memenangi Piala Eropa 2020. Ia juga diskors untuk Piala Eropa 2024 setelah mengakui melanggar undang-undang perjudian.
Namun, Tonali adalah sosok anomali yang bersinar ketika tim dipenuhi gugup dan trauma. Setelah mencetak gol, ia menciptakan asis untuk gol Kean.
Gol dan asis itu membantu Italia mengatasi bayang-bayang kegagalan lolos ke Piala Dunia seperti edisi 2018 dan 2022. Gol pembuka Tonali juga meningkatkan kepercayaan diri tim setelah tertekan oleh Irlandia Utara.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/27/38938d04-a638-49f9-9821-eb08c4f67d7b_jpg.jpg)
Irlandia Utara, dengan usia rata-rata skuad termuda kedua sejak Perang Dunia II (22,5 tahun), membuat frustrasi Italia. Anak-anak muda ini memiliki beberapa momen bagus dalam menyerang. Masalah mereka ialah kurangnya penyelesaian di sepertiga akhir lapangan.
Dengan formasi 5-4-1 yang kompak saat tidak menguasai bola, Irlandia Utara memaksa Italia bermain di area sayap dan sering kali melakukan penjagaan ganda untuk mengantisipasi umpan silang. Ketika bola masuk ke area penalti, ketiga bek tengah mereka tampil dominan dalam mencegah bahaya meski lini depan Italia juga tidak dalam performa terbaiknya.
Walaupun memiliki pemain muda dan kurang berpengalaman, tim asuhan Michael O’Neill itu menunjukkan kematangan bermain. Mereka mampu memperlambat permainan, memenangkan pelanggaran, dan menenangkan suasana.
”Ini perjuangan yang berat, sama sekali tidak mudah. Mereka bahkan mengejutkan kami, mencoba melakukan umpan vertikal. Kami seharusnya bisa bermain lebih baik,” kata Gattuso kepada RAI Sport.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/27/30afd999-51a8-4d9c-b675-99eab9e6137b_jpg.jpg)
”Ini sulit, kami tahu pertandingan ini juga sulit. Jadi, sekarang kami harus mencoba mengisi ulang energi,” kata Gattuso.
Italia selanjutnya akan mengunjungi Bosnia-Herzegovina yang mengalahkan Wales pada laga semifinal playoff Jalur A Eropa. Gli Azzuri membutuhkan satu kemenangan lagi untuk kembali berlaga di Piala Dunia.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra