Anthony Sinisuka Ginting berupaya tampil baik setelah kembali ke turnamen. Namun, dalam lima turnamen setelah pulih dari cedera, dia selalu kalah pada babak awal.
17 Sep 2025 16:05 WIB · Olahraga
SHENZHEN, RABU — China Masters BWF World Tour Super 750 menjadi turnamen kelima bagi Anthony Sinisuka Ginting setelah pulih dari cedera. Penampilan di lapangan memperlihatkan tekadnya untuk bersaing kembali meskipun belum menghasilkan kemenangan.
Kekalahan pada babak pertama China Masters menjadi yang kelima beruntun saat dia bertanding kembali sejak Juli. Di Shenzhen Arena, Rabu (17/9/2025), Anthony kalah dari pemain Malaysia, Leong Jun Hao, dengan skor 19-21, 21-5, 10-21.
Dalam dua pertandingan sebelumnya, di lapangan berbeda, Alwi Farhan kalah dari atlet tuan rumah unggulan keempat, Li Shi Feng, 16-21, 9-21. Dengan demikian, tak ada satu pun tunggal putra pelatnas yang bisa melewati rintangan pertama.
Nomor ini pun bergantung pada Jonatan Christie yang membalas kekalahan dari Kenta Nishimoto. Jonatan, yang sudah tidak lagi berada di pelatnas bulu tangkis Indonesia, mengalahkan wakil Jepang itu, 21-19, 21-19, yang menjadi revans atas kekalahannya pada babak pertama Jepang Terbuka, Juli.
Di Shenzhen Arena, Anthony kalah cepat dari lawan dalam mengantisipasi arah dan laju angin ketika berpindah sisi lapangan. Itu membuatnya kehilangan gim pertama meski sempat mendekatkan diri pada posisi 19-19 setelah tertinggal 8-14. Adapun pada gim ketiga, Anthony tertinggal jauh sejak awal sehingga kesulitan untuk membalikkan keadaan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/17/13d129c4395fa9d72b5f1f6f7b373c22-Ginting8_R32_ChinaMasters2025_PBSI_20250917.jpg)
Hasil ini menjadi kekalahan pada babak pertama dalam lima kali beruntun sejak Anthony comeback dalam turnamen Jepang Terbuka. Setelah Jepang, dia kalah pada babak awal China Terbuka, Kejuaraan Dunia di Perancis, Hong Kong Terbuka, dan China Masters.
Sebelum tampil di Jepang, Anthony beristirahat dari turnamen selama enam bulan karena cedera bahu kanan. Dia hanya bermain di Malaysia Terbuka pada awal tahun.
Meskipun bisa bermain tiga gim dalam tiga laga terakhir, peraih perunggu Olimpiade Tokyo 2020 itu mengatakan belum mencapai performa yang diinginkan seperti sebelum cedera. Atlet berusia 28 tahun ini terakhir kali mencapai final pada All England, Maret 2024, saat dikalahkan Jonatan.
”Tidak terpikirkan bahwa setelah comeback, saya belum merasakan kemenangan. Tetapi, memang masih ada pekerjaan rumah karena sampai turnamen kelima ini, feeling dan cara main saya belum seperti dulu,” kata Anthony.
Setelah China Masters, Anthony terdaftar pada turnamen berikutnya, Korea Terbuka, pada 23-28 September. Pada bulan berikutnya, dia turut bertanding dalam Tur Eropa, yaitu di Denmark dan Perancis Terbuka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/17/5d5f92e33007d79e2bb9dc289fc1a9e6-Alwi8_R32_ChinaMasters2025_PBSI_20250917.jpg)
Pelatih tunggal putra pelatnas Indra Widjaja, sebelum Kejuaraan Dunia, mengapresiasi tekad Anthony kembali ke persaingan BWF. Indra melihat besarnya tekad Anthony dari sikap yang diperlihatkan dalam menjalani latihan dan pertandingan.
Namun, seperti dikatakan Anthony, dia masih harus mempertajam rasa kompetitif dan kemampuan beradaptasi di lapangan untuk kembali dalam persaingan tunggal putra yang begitu terbuka. Anthony membutuhkan kemenangan untuk mendapat poin ranking agar bisa menaikkan peringkatnya setelah lama absen.
Saat ini, dia berada di peringkat ke-88, di bawah lima tunggal putra Indonesia lainnya, yaitu Jonatan, Alwi, Chico Aura Dwi Wardoyo, Prahdiska Bagas Shujiwo, dan Mohammad Zaki Ubaidillah. Anthony masih bisa menjadi peserta turnamen Super 750 dan 1000 yang tidak menggunakan sistem babak kualifikasi. Namun, jika peringkatnya terus menurun, dia akan kehilangan kesempatan itu dan harus mengikuti kualifikasi untuk turnamen Super 500 ke bawah.
Kondisi yang sama seperti Anthony dialami mantan atlet nomor satu dunia, Viktor Axelsen. Peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 dan Paris 2024 ini kalah pada babak pertama Hong Kong Terbuka pada turnamen pertamanya setelah All England, Maret. Axelsen tak bertanding karena mengalami cedera punggung hingga menjalani operasi.
Di China Masters, dia pun hampir tersingkir pada laga awal setelah kehilangan gim pertama dan tertinggal 9-16 pada gim kedua saat melawan Wang Zheng Xing. Axelsen akhirnya mendapatkan kemenangan pertamanya dengan skor 16-21, 21-17, 21-11.
Ganda campuran Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu akhirnya membayar kekecewaan mereka setelah selalu kalah dalam dua pertemuan melawan Hiroki Midorikawa/Natsu Saito. Mereka mengalahkan pasangan Jepang itu dengan skor 23-21, 21-17.
Kemenangan tersebut membayar penyesalan Jafar/Felisha karena kalah pada semifinal Kejuaraan Asia dan babak kedua Indonesia Terbuka. ”Puji Tuhan, bersyukur bisa melewati babak pertama dengan kemenangan. Ini kemenangan pertama kami setelah di dua pertemuan sebelumnya cukup nyesek kalahnya,” kata Felisha.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/17/5d7b9e9a654885462f7233f4a55492a1-JafarFelisha2_R32_ChinaMasters2025_PBSI_20250917.jpg)
Dalam dua pertemuan sebelumnya, Jafar/Felisha sebenarnya memiliki peluang besar untuk menang, tetapi mereka selalu terkejar pada momen kritis. Setelah memenangi gim pertama, mereka membuat match point, 21-20, pada gim kedua di Kejuaraan Asia, tetapi berbalik kalah 21-15, 21-23, 11-21.
Pada pertemuan di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Jafar/Felisha lag-lagi mempunyai kesempatan menang saat unggul 14-9 hingga 18-15 pada gim ketiga. Akan tetapi, ganda campuran nomor satu Indonesia itu kalah 21-23, 21-14, 20-22 setelah bertanding 1 jam 14 menit.
Felisha menuturkan, kemenangan di China Masters didapat karena bisa tampil lebih baik dalam mengantisipasi permainan lawan. Meski demikian, mereka harus mengurangi kesalahan ketika dalam posisi menerima servis.
Jafar juga menilai pergerakannya belum maksimal setelah tampil dalam Kejuaraan Dunia di Perancis, 25-31 Agustus, dengan kondisi cedera. Dia mengalami cedera pergelangan kaki kiri saat latihan di pelatnas, Cipayung, Jakarta, sekitar sepekan sebelum tampil di Paris.
Kedua pemain muda Indonesia itu pun menargetkan bisa bermain lebih baik saat melawan Chen Tang Jie/Toh Ee Wei pada babak kedua, Kamis. Dari pasangan Malaysia unggulan ketiga tersebut, Jafar/Felisha selalu kalah dalam tiga pertemuan, salah satunya pada babak ketiga Kejuaraan Dunia. Pada kejuaraan individu dengan level tertinggi itu, Chen/Toh akhirnya menjadi juara.
Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah juga memenangi babak pertama saat bertemu Callum Hemming/Estelle Van Leeewen. Mereka menang 21-17, 21-13 untuk berhadapan dengan wakil tuan rumah unggulan ketujuh, Guo Xin Wa/Chen Fang Hui.
Sementara Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil tak bisa tampil konsisten setelah mencapai semifinal Hong Kong Terbuka. Mereka disingkirkan Hoo Pang Ron/Chen Su Yin, 6-21, 14-21, di babak pertama.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar