Belanda dan Jepang jadi unggulan Grup F karena selalu tampil agresif. Namun, Swedia dan Tunisia bisa menciptakan antitesis untuk menjatuhkan kedua raksasa Eropa itu.
10 Jun 2026 10:00 WIB · Olahraga
AP Photo/Patrick Post
Aroma pertarungan panas ala neraka tercium pada penyisihan Grup F Piala Dunia 2026. Jika di grup lainnya hanya terdapat satu kuda hitam yang membayangi dua tim unggulan, di Grup F terdapat dua kuda hitam yang menjadi antitesis dari dua tim yang diunggulkan.
Empat tim yang mengisi Grup F adalah Belanda, Jepang, Swedia, dan Tunisia. Dua tim yang paling dijagokan di Grup F tentu saja ditempati oleh Belanda dan Jepang. Keperkasaan kedua tim itu dibuktikan dengan lolos ke babak utama Piala Dunia 2026 pada kesempatan pertama babak kualifikasi di tingkat konfederasi.
Belanda yang diperkuat oleh para pemain dari klub-klub papan atas Eropa tampil tanpa cela pada kualifikasi Piala Dunia zona Eropa. Dari delapan laga yang dijalani, Belanda menang enam kali dan hanya dua kali imbang, tanpa kalah sekali pun. Permainan menyerang Belanda sangat mematikan. Para pemainnya dari berbagai lini mampu mencetak gol. Total 27 gol dicetak oleh para pemain tim ”Oranye” dan mereka hanya kebobolan empat kali.
Seperti Belanda, Jepang juga tim yang sangat agresif dalam menyerang. Dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia putaran ketiga, Jepang lolos sebagai pemuncak klasemen dengan tujuh kemenangan dari sepuluh laga dan hanya sekali kalah. Jepang mencetak 30 gol dan hanya kebobolan 3 gol. Mereka menjadi paling produktif di Asia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/06/40d072d61247b5d6bbf2372d8b0fd8a9-Netherlands_WCup_Soccer_138681139.jpg)
Dalam beberapa laga uji coba, Jepang juga menunjukkan kualitas mereka sudah setara tim-tim Amerika Selatan dan Eropa. Jepang mengalahkan Brasil, 3-2, lalu atas Inggris dan Skotlandia dengan skor identik, 1-0.
Saat dua tim unggulan tampil begitu perkasa pada kualifikasi Piala Dunia, Swedia justru terpuruk selama kualifikasi. Tim ”Biru Kuning” hanya mampu meraih dua kali imbang dan nirmenang dalam enam laga. Swedia bisa lolos ke babak utama Piala Dunia karena mendapat jatah tampil di playoff dari hasil Liga Nasional Eropa. Swedia lantas menunjukkan kualitas permainan sesungguhnya.
Belajar dari rangkaian kekalahan sepanjang babak kualifikasi, Graham Potter, Pelatih Swedia, menyusun taktik bertahan dengan formasi 3-4-2-1. Dalam posisi yang lebih tertekan, Swedia akan memasang garis pertahanan rendah dengan formasi 5-4-1. Permainan disiplin dan efektif Swedia tak hanya menyulitkan lawan untuk menembus pertahanan, tetapi juga memudahkan mereka melakukan transisi positif guna menyerang balik.
Di lini depan, Swedia memiliki penyerang mematikan. Viktor Gyokeres, yang membantu Arsenal memuncaki klasemen Liga Inggris sampai pekan ke-33, merupakan striker yang sangat tajam untuk melakukan serangan balik. Ketajaman dan kecepatannya ditopang pula oleh penyerang Newcastle United, Anthony Elanga. Duet Gyokeres dan Elanga sangat mematikan untuk serangan balik Swedia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/09/e689e07bdf4d270f3f36cd54ff811c3c-Japan_WCup_Soccer_138885361.jpg)
Polandia dan Ukraina sudah merasakan ketajaman Swedia pada playoff Piala Dunia zona Eropa. Polandia dan Ukraina mengurung pertahanan Swedia dan menguasai bola, masing-masing, sampai 67 persen dan 68 persen. Namun, pertahanan yang kokoh dan permainan efektif membuat Swedia mampu menahan gempuran lawan. Saat lawan lengah, Gyokeres dan Elanga menjadi pembunuh melalui serangan balik yang cepat dan akurat.
Serangan dari mereka sangat didukung para pemain Swedia yang memiliki stamina dan kecepatan tinggi. Skuad Swedia diisi kombinasi pemain muda dan beberapa senior, yaitu dengan rata-rata usia 26,7 tahun. Rata-rata usia itu adalah usia emas bagi pemain sepak bola. Pengalaman dan visi bermain berpadu dengan stamina serta kecepatan.
Pola permainan Swedia semacam ini dapat menjungkirbalikkan taktik menyerang secara agresif yang diperagakan Belanda dan Jepang. Organisasi permainan yang rapat dan garis pertahanan yang rendah dapat memancing para pemain Belanda dan Jepang untuk mengepung pertahanan Swedia guna mencetak gol. Jika hal itu terjadi, jebakan maut sudah menanti Belanda dan Jepang.
Dengan jebakan serangan balik, Swedia bukan hanya berpotensi menahan imbang kedua tim unggulan di Grup F tersebut. Mereka juga berpeluang mencuri kemenangan jika Belanda dan Jepang mengabaikan ancaman serangan balik.
Sementara, Tunisia juga patut diperhitungkan sebagai kuda hitam yang tendangannya mampu menggulingkan tim unggulan. Dalam perjalanan penyisihan Piala Dunia 2026 zona Afrika, Tunisia tampil sangat dominan dengan merebut 28 dari 30 poin maksimal yang bisa diraih. Dari sepuluh laga, tim berjuluk ”Elang dari Carthage” itu memenangi sembilan laga dan imbang hanya pada satu laga lainnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/09/287cd2d06f2707f41a8ed7eb42935470-FBL_WC_2026_SWE_GRE_FRIENDLY_138777324.jpg)
Kelebihan Tunisia adalah memiliki pertahanan yang sangat kuat dan disiplin tinggi. Terbukti, dalam sepuluh laga kualifikasi Piala Dunia zona Afrika, Tunisia tidak kebobolan satu gol pun. Lalu, saat uji coba melawan tim-tim yang lolos ke babak utama Piala Dunia, Tunisia juga menunjukkan kemampuan mereka dalam pertahanan sehingga sulit dikalahkan lawan-lawan kuat.
Saat melawan Brasil, Tunisia mampu menahan imbang tim megabintang itu dengan skor 1-1. Hasil imbang juga diraih saat melawan tuan rumah Kanada dengan skor 0-0. Tunisia meraih hasil positif saat menekuk wakil Asia, Qatar, dengan skor 3-0 dan melibas wakil Amerika Tengah, Haiti, dengan skor 1-0.
Minimnya jumlah gol yang menggetarkan gawang Tunisia memberi gambaran betapa kokoh pertahanan yang dibangun para pemain di bawah asuhan Pelatih Sabri Lamouchi. Sejak menangani Tunisia pada Januari 2026, Lamouchi membangun tim yang adaptif untuk melakukan transisi cepat dari bertahan ke menyerang.
Dengan formasi 4-2-3-1 saat bertahan, Tunisia dapat berubah cepat menjadi formasi 4-3-3 untuk menyerang. Gelandang Mohamed Ali Ben Romdhane sering menjadi motor transisi positif untuk melakukan serangan balik. Pemain klub Mesir, Al-Ahly, itu juga sering menjadi eksekutor gol-gol Tunisia dari lini kedua. Pada kualifikasi, Romdhane menjadi pencetak gol tersubur dengan empat gol.
Di lini depan, Tunisia mengandalkan Elias Saad yang biasa bermain di Liga Jerman untuk klub Hannover 96. Kecepatan dan kecerdikan Saad di kotak penalti sering membuat lawan kesulitan menghadangnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/09/9827ec4882eddbfca0b8d29521cf4aea-FBL_WC_2026_AUT_TUN_FRIENDLY_138710884.jpg)
Saat menghadapi Jepang dan Belanda sebagai tim unggulan, Tunisia bakal menyiapkan jebakan di pertahanan mereka. Pertahanan yang berlapis dan disiplin dari para pemain yang memiliki rata-rata usia 25,8 tahun itu dapat membuat frustrasi penyerang Jepang dan Belanda. Saat ditekan lawan, Elang dari Carthage bisa melayang cepat untuk menusuk balik dan mencetak gol yang mematikan.
Tunisia lebih menyukai lawan yang agresif menyerang dibandingkan dengan tim yang suka bertahan seperti Swedia. Para penyerang Tunisia cukup tajam jika menusuk ke pertahanan lawan yang longgar karena terlambat kembali saat transisi negatif. Namun, Tunisia memiliki kekurangan untuk membongkar pertahanan lawan yang rapat.
Dengan persaingan yang berpotensi sengit itu, setiap detail taktik harus dihitung dengan cermat oleh semua tim sebelum masuk ke lapangan hijau. Setiap laga bakal berlangsung sangat ketat sehingga penentuan untuk lolos dari fase grup mungkin tidak hanya ditentukan oleh poin kemenangan, tetapi juga oleh selisih gol karena ada dua atau tiga tim yang berpotensi memiliki poin yang sama.
Penulis:
Emilius Caesar AlexeyEditor:
Yulvianus Harjono, Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Nur Adji