SEPAK BOLA

Piala Dunia 2026, Menguji Ide Gila Gianni Infantino

Demi tambahan pendapatan FIFA, Gianni Infantino meningkatkan jumlah peserta Piala Dunia mulai 2026. Pemain berpeluang menjadi ”tumbal” ambisi itu.

09 Jun 2026 07:00 WIB · Olahraga

AFP

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Piala Dunia 2026 adalah wujud dari ambisi, bahkan ide gila, milik Presiden FIFA Gianni Infantino. Demi inklusivitas peserta dan peningkatan keuntungan, Infantino memperbesar jumlah kontestan pesta sepak bola terakbar. Hal itu dibayangi sejumlah risiko yang berpotensi mengikis menu utama Piala Dunia, yakni persaingan menuju trofi ikonik.

Sebanyak 48 tim akan bertarung memperebutkan trofi berbalut emas 18 karat dari 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko merupakan trio pertama yang dipercaya berkolaborasi menggelar satu edisi Piala Dunia.

Itu menjadikan Infantino sebagai presiden kedua FIFA yang menambah jumlah peserta Piala Dunia secara signifikan. Sebelumnya, gagasan ekspansi dimulai Joao Havelange yang menjabat 1974 hingga 1998. Satu-satunya orang nomor satu FIFA asal Amerika Selatan itu adalah penggagas kontestan Piala Dunia berjumlah 24 tim pada edisi 1982.

Peserta Piala Dunia bertahan antara 13 dan 16 kontestan sejak 1930 hingga 1978. Tidak puas dengan penambahan itu, Havelange kembali mengubah peserta Piala Dunia menjadi 32 peserta sejak 1998. Warisan kuantitas peserta ala Havelange itu bertahan selama delapan edisi Piala Dunia hingga 2022.

Bagi FIFA yang kini dipimpin Infantino, penambahan signifikan peserta mulai 2026 demi membuka kesempatan lebih besar kepada negara-negara untuk tampil di turnamen sepak bola terakbar. Namun, kenyataannya, pada edisi tahun ini hanya terdapat empat tim debutan, yaitu Jordania, Uzbekistan, Tanjung Verde, dan Curacao.

Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan keterangan saat bertemu dengan para jurnalis, sehari menjelang pelaksaan Piala Dunia 2022 di Qatar, Sabtu (19/11/2022). Infantino mengatakan Qatar telah siap menggelar Piala Dunia yang akan berlangsung 20 November-18 Desember 2022. Kompas/Yuniadhi Agung (MYE) 19-11-2022

Di sisi lain, FIFA juga memburu rekor baru dalam catatan keuangan mereka melalui Piala Dunia 2026, tepatnya siklus 2023-2026. FIFA menargetkan bisa meraih pundi-pundi keuntungan 13 miliar dolar AS atau sekitar Rp 230,6 triliun.

Jumlah itu meningkat 2 miliar dolar AS dari target awal yang disampaikan Infantino menjelang penutupan Piala Dunia 2022 di Qatar, November 2022. Adapun pendapatan FIFA dari Piala Dunia 2022 sekitar 7 miliar dolar AS.

Infantino menekankan, pemasukan Piala Dunia 2026 akan dialokasikan untuk pengembangan sepak bola di semua negara anggota FIFA. Komitmen itu merupakan upaya FIFA menyebarkan pengaruh sepak bola lebih besar, sekaligus memastikan olahraga itu bisa terus lestari ke generasi selanjutnya.

”Kami menyerahkan pendapatan turnamen kepada 211 negara anggota untuk menjalankan proyek sepak bola, akademi, pembangunan stadion dan lapangan, serta menggelar turnamen untuk anak-anak, baik perempuan maupun laki-laki. Sepertiga dari jumlah anggota itu mungkin tidak bisa menggelar olahraga tanpa bantuan yang mereka dapatkan dari kompetisi seperti Piala Dunia,” tutur Infantino dalam America Forum di Washington DC, April lalu.

Hambatan

Di luar potensi keuntungan besar FIFA, tentu ada yang harus berjuang lebih keras. Mereka tidak lain adalah para pemain.

Jika sekadar melihat jumlah laga per tim, penambahan kontestan dan kuantitas laga keseluruhan memang hanya menambah satu duel untuk menembus final.

Infografik riset Perkembangan Total Hadiah Piala Dunia.

Sebelumnya, tim akan menjalani tujuh pertandingan untuk merengkuh trofi Piala Dunia. Kini, jumlah laga menjadi delapan. Itu disebabkan dimulainya fase gugur dari 32 besar, alih-alih babak 16 besar yang telah dikenal sejak Perancis 1998.

Namun, bagi pemain yang berkarier di kompetisi top Eropa, penambahan satu laga itu sangat krusial. Bayangkan, pemain-pemain Paris Saint-Germain baru menutup musim 2024-2025 pada Juli lalu akibat lolos ke final Piala Dunia Antarklub 2025.

Mereka hanya mendapatkan waktu rehat kurang dari sebulan untuk memulai kampanye edisi 2025-2026 yang ditandai Piala Super Eropa, Agustus lalu. Mereka juga menutup musim ini paling molor karena berlaga di partai puncak Liga Champions, 31 Mei 2026.

Quote

Kami akan menghadapi kalender pertandingan yang menuntut banyak perjalanan jauh dan iklim panas. Ini akan menjadi turnamen yang sangat menyulitkan.

Tak ayal, dalam satu tahun kalender, pemain utama PSG, seperti Vitinha, Nuno Mendes, Achraf Hakimi, dan Marquinhos, bakal tampil lebih dari 65 pertandingan, termasuk laga bersama timnas masing-masing.

Ancaman cedera

Demi meminimalkan kelelahan dan potensi cedera, FIFA memberikan jarak tanding setiap tim minimal 72 jam, lalu menyediakan aturan cooling break pada setiap laga.

Akan tetapi, waktu istirahat itu sudah dipotong dengan durasi penerbangan dari dan ke lokasi tiga laga fase grup. Timnas AS, misalnya, harus melakukan penerbangan sejauh 3.100 kilometer untuk menjalani tiga pertandingan penyisihan dengan durasi satu penerbangan pergi-pulang tiga hingga lima jam.

Sebuah rambu dipasang saat perbaikan Stadion Seattle, yang biasanya dikenal sebagai Lapangan Lumen, menjelang pertandingan Piala Dunia 2026, Rabu (27/5/2026).

Tim Meyer, mantan dokter timnas Jerman, dalam artikel bertajuk ”The 2026 Men’s FIFA Football World Cup: Evidence-Based Guidelines to Protect Player Health and Performance from Environmental Challenges” dalam jurnal Sports Medicine yang dikeluarkan Universitas Loughborough, Inggris, Maret 2026, menyebutkan bahwa faktor cuaca, kelembaban, dan jarak penerbangan memengaruhi performa pemain dan prestasi tim secara kolektif di dalam turnamen Piala Dunia.

”Saya memahami dengan pasti bahwa persiapan yang tepat untuk beradaptasi dengan faktor iklim dan lingkungan di setiap tempat latihan dan pertandingan akan menjadi kunci kesuksesan sebuah tim,” ucap Meyer.

Peran staf tim mengatur kondisi pemain amat penting. Sebab, pada akhirnya, pemain sangat berambisi tampil di Piala Dunia hingga mereka mencari berbagai cara agar bisa meredam rasa sakit atas cedera. Itu pernah dialami Ronaldo saat membawa Brasil mencapai pentacampeao di Jepang-Korea Selatan 2002.

Pelatih Brasil Carlo Ancelotti mengakui, selain harus memikirkan taktik dan persiapan menghadapi lawan, dirinya juga harus mempertimbangkan secara matang program pemulihan pemain di sela penerbangan ke lokasi laga.

”Kami akan menghadapi kalender pertandingan yang menuntut banyak perjalanan jauh dan iklim panas. Ini akan menjadi turnamen yang sangat menyulitkan bagi pemain,” kata Ancelotti.

Bagi fans sepak bola di seluruh dunia, Piala Dunia adalah sajian hiburan. Semoga ambisi FIFA tidak membuat turnamen itu menjadi kuburan bagi masa depan karier bintang lapangan hijau. (AFP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto, Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra