Kompas.id Brief

Apa Penyebab Indonesia Terhenti di Semifinal Piala Sudirman?

Tim bulu tangkis Indonesia berjuang sampai ”titik darah penghabisan”, tetapi takluk dari Korea Selatan. Meskipun tersingkir, Indonesia masih menyimpan potensi.

04 Mei 2025 11:58 WIB · Olahraga

Oleh Wisnu Aji Dewabrata

Kontingen “Merah Putih” harus mengakui keunggulan Korea Selatan, 2-3, dalam semifinal turnamen bulu tangkis beregu campuran Piala Sudirman di Xiamen, China, Sabtu (3/5/2025). Selanjutnya, China dan Korea Selatan akan berhadapan dalam partai final, Minggu (4/5/2025). 

Kekalahan Indonesia terjadi karena beberapa faktor, antara lain karena Korea Selatan menguasai nomor ganda campuran, tunggal putri, dan ganda putri. Hasil Piala Sudirman 2025 ini membuktikan sekali lagi ketertinggalan Indonesia dalam persaingan bulu tangkis dunia, khususnya dibandingkan Korea Selatan. 

Apa yang bisa dipelajari dari artikel ini?

1. Faktor apa yang menyebabkan Indonesia kalah dari Korea Selatan?

2. Bagaimana perbandingan kekuatan Indonesia dibandingkan Korea Selatan?

3. Apa makna tampilnya Indonesia di semifinal Piala Sudirman 2025?

1. Faktor apa yang menyebabkan Indonesia kalah dari Korea Selatan?

copy title

Pasangan Dejan Ferdinansyah/Siti Fadia Silva Ramadhanti (ganda campuran) kalah telak dari Seo Seung-jae/Chae Yu-jung dengan skor 10-21 dan 15-21. Kekalahan ini jadi beban mental bagi Indonesia, karena ganda campuran diharapkan bisa memberikan poin. Dejan dan Fadia adalah pasangan baru yang belum memiliki banyak pengalaman bermain bersama. Selain itu, Dejan baru diturunkan di semifinal sehingga kurang merasakan atmosfer pertandingan. Akan tetapi, tidak ada pilihan lain.

Putri Kusuma Wardani di tunggal putri tidak mampu menghentikan An Se-young, pemain nomor satu dunia, dan Putri kalah dalam dua gim langsung (18-21, 12-21).

Sementara di ganda putri, Amalia Cahaya Pratiwi/Siti Fadia Silva Ramadhanti sempat memberikan perlawanan sengit dengan memaksa pertandingan tiga gim, tetapi akhirnya kalah dari Lee So-hee/Back Ha-na (10-21, 21-18, 15-21). Fadia yang bermain di dua nomor mungkin mengalami kelelahan, sehingga memengaruhi penampilannya.

Indonesia's Bagas Maulana (front) hits a return as he and Muhammad Shohibul Fikri (back) play against and South Korea's Kim Won-ho and Seo Seung-jae during their men's doubles semifinal match at the Sudirman Cup badminton championship in Xiamen, China's Fujian province on May 3, 2025. (Photo by Adek BERRY / AFP)

Menurut Tiwi, pada gim pertama mereka terlalu mengikuti permainan lawan yang lambat. Lawan juga sangat konsisten dan sulit dibongkar pertahanannya. Pada gim kedua mereka bisa bermain lebih baik dan memaksa rubber game. Di gim penentuan itu fisik, teknik, dan mental diuji.

Indonesia tetap menunjukkan prestasi memukau di nomor tunggal dan ganda putra. Alwi Farhan mengalahkan Cho Geon-yeop (16-21, 21-8, 21-8). Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana, memenangi pertandingan yang menegangkan melawan Seo Seung-jae/Kim Won-ho (21-18, 13-21, 25-23). Kemenangan Fikri/Bagas sempat membangkitkan harapan, tetapi tekanan besar di ganda putri sebagai laga penentu belum mampu ditanggung Amalia/Fadia.

2. Bagaimana perbandingan kekuatan Indonesia dibandingkan Korea Selatan?

copy title

Peringkat empat besar merupakan gambaran kekuatan Indonesia yang realistis saat ini. Sepanjang tahun 2025, pemain Indonesia tidak banyak naik podium pada turnamen BWF World Tour. Dari delapan turnamen Super 300, 500, 750, dan 1000 yang telah berlangsung pada 2025, pemain Indonesia hanya meraih satu gelar juara, yaitu dari ganda putri, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Lanny Tria Mayasari, pada turnamen Thailand Masters Super 300.

Indonesia kalah bersaing dengan pemain-pemain Korea Selatan yang sudah mengoleksi 11 gelar juara, empat di antaranya dari turnamen level tinggi, yakni Malaysia Terbuka dan All England Super 1000. China mendapat delapan gelar juara, Jepang dan Thailand lima gelar, dan Denmark tiga gelar juara.

Infografik Indonesia di Piala Sudirman

Piala Sudirman menggambarkan kekuatan setiap negara dari semua nomor. Kelemahan Indonesia terlihat setelah kalah di nomor ganda campuran, tunggal putri, dan ganda putri.

Dalam daftar peringkat dunia, Korea Selatan sebenarnya hanya memiliki pemain tunggal dan ganda putri pada peringkat 10 besar dunia. Namun, Korea Selatan mempunyai pemain-pemain ganda putra dan campuran yang tangguh dan bisa berperforma maksimal meskipun pasangannya dibongkar pasang. Kelemahan Korea Selatan satu-satunya pada sektor tunggal putra.

3. Apa makna tampilnya Indonesia di semifinal Piala Sudirman 2025?

copy title

Indonesia menanti selama enam tahun untuk bisa merasakan kembali atmosfer babak semifinal Piala Sudirman sejak Nanning, China pada 2019. Sebelumnya, Indonesia selalu lolos ke babak semifinal sejak 1989-2011, tetapi perjalanan Indonesia tidak stabil mulai 2013.

Sejak 2013 hingga 2023, atlet Indonesia tiga kali dihentikan lawan di perempat final dan dua kali di semifinal. Catatan terburuk adalah Gold Coast 2017 ketika Merah Putih tersingkir pada penyisihan grup untuk pertama kalinya.

China, Jepang, dan Korea Selatan adalah tim yang masuk empat besar pada Piala Sudirman Vantaa 2021 dan Suzhou 2023. Jepang lolos ke semifinal enam kali beruntun, sementara China tak pernah absen dari persaingan empat besar sejak Piala Sudirman pertama kali diselenggarakan di Jakarta pada 1989. Adapun bagi Indonesia, semifinal pada Sabtu (3/5/2025) menjadi yang pertama setelah tersingkir pada perempat final 2021 dan 2023.

Putri Kusuma Wardani kalah dari An Se-young di Xiamen, China, Sabtu (3/5/2025), dalam semifinal Piala Sudirman Indonesia melawan Korea Selatan. Putri kalah dengan skor 18-21, 12-21.

Indonesia lolos ke semifinal setelah mengalahkan Thailand, 3-1, pada perempat final, Jumat (2/5/2025). Kemenangan tersebut membalas kekalahan dua tahun sebelumnya.

Sejak Piala Sudirman 1989 hingga 2005, Thailand hanya mampu bersaing di Grup II atau III, artinya dua lapis di bawah China, Korea Selatan, Denmark, termasuk Indonesia. Setelah format Piala Sudirman berubah pada 2021, Piala Sudirman hanya diikuti 16 tim terbaik dari berbagai federasi. Namun, saat itu Thailand sudah mengalami kemajuan pesat.

Thailand sukses menembus semifinal pada 2013, 2017, dan 2019. Thailand lebih baik dari Indonesia yang tersingkir pada perempat final 2013 dan penyisihan grup 2017. Thailand mengalahkan Indonesia 3-2 pada penyisihan grup 2023, setelah Indonesia menang telak 5-0 dalam pertemuan pertama pada 1995.


Kerabat Kerja

Penulis:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .