Akhir pekan ini, Liga Super Indonesia 2025-2026 bakal dimulai. Nama baru menghadirkan harapan. Tetapi, kebijakan kontroversi tetap membayangi.
04 Agt 2025 17:12 WIB · Olahraga
Kompetisi kasta tertinggi Indonesia memiliki tajuk baru. BRI Liga Super (Super League) namanya. Penamaan baru itu berimbas pada sejumlah perubahan yang dilakukan, mulai dari logo hingga trofi juara.
Ambisi I.League, operator kompetisi yang dahulu bernama PT Liga Indonesia Baru (LIB), ialah agar kehadiran jenama anyar kompetisi itu menjadi awal baru untuk menaikkan status liga di kawasan Asia.
Selain itu, Liga Super juga menunjukkan kembalinya kepercayaan sponsor asing. Hal itu dengan kehadiran Adidas menjadi penyedia perlengkapan kompetisi, seperti bola resmi pertandingan dan seragam perangkat pertandingan.
”Komitmen kami menciptakan liga yang lebih profesional, transparan, dan kompetitif,” ujar Direktur Utama I.League Ferry Paulus di Jakarta, Minggu (3/8/2025).
Tiga pertandingan akan langsung membuka hari pertama Liga Super 2025-2026, Jumat (8/8/2025). Tiga tim promosi, yaitu PSIM Yogyakarta, Bhayangkara Presisi Lampung, dan Persijap Jepara, bakal menjalani laga tandang.
Bhayangkara akan bermain di kandang Borneo FC, Stadion Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat pukul 15.30 WIB. Dua klub yang naik kasta dari Liga 2 musim lalu itu akan tampil pada Jumat pukul 19.00 WIB.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/28/dac93c2035ff064136b4a5e97370548b-Persita_2526.jpeg)
PSIM bertandang ke markas Persebaya Surabaya, Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur. Adapun Persijap memulai kompetisi di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, Sulawesi Selatan, rumah PSM Makassar.
Berikut tiga hal baru nan menarik yang membedakan Liga Super dengan era Liga 1 yang dimulai pada 2017 hingga 2024-2025:
Sekilas, logo kompetisi terlihat tidak berubah. Siluet burung garuda yang dibuat dengan garis biru masih dipertahankan sejak digunakan pada BRI Liga 1 2021-2022.
Perbedaannya, tulisan tajuk kompetisi berpindah di bawah logo garuda. Tulisan ”Super League” berada di bawah garuda dengan tetap berwarna biru. Adapun logo BRI, sponsor utama, tetap berada di dalam ”pelukan” garuda.
Rebranding ini adalah bagian dari transformasi I.League menuju standar liga top Asia.
Wujud siluetnya pun hanya mengalami perubahan minor. Hal itu terlihat dari paruh garuda yang bertambah menjadi tiga. Pada edisi Liga 1, paruh garuda hanya berjumlah dua.
Adapun jenama ”Super League” terasa serupa ketika Indonesia memiliki nama Indonesia Super League mulai 2008 hingga 2014. Kala itu, Liga Super Indonesia adalah kompetisi terbaik sejak Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengeluarkan peringkat kompetisi. Pada awal keberadaannya, Liga Super Indonesia pernah menduduki peringkat kedelapan Asia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/04/61b7b1d6-9384-473b-a6aa-424344b03900_jpg.jpg)
Saat ini, peringkat Liga Indonesia berada di peringkat ke-25 dari 47 kompetisi profesional di bawah pantauan AFC. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia kalah dari Kamboja (ke-23), Singapura (ke-15), Vietnam (ke-14), Malaysia (ke-11), dan Thailand (ketujuh).
Perbedaan jenama kompetisi baru mulai 2025-2026 ialah tidak menyematkan kata ”Indonesia” seperti edisi terdahulu. I.League selaku operator pun seakan memberikan perbedaan dengan hanya menyebut kompetisi dengan berbahasa Inggris, Super League, bukan Liga Super.
”Rebranding ini adalah bagian dari transformasi I.League menuju standar liga top Asia,” bunyi pernyataan I.League tentang penamaan baru kompetisi kasta tertinggi nasional.
Di sisi lain, Ferry juga memastikan akan memberikan tim juara Liga Super dengan trofi kampiun baru. Artinya, Persib adalah penerima piala juara terakhir edisi Liga 1. Trofi itu hanya dimiliki oleh dua tim, yakni PSM Makassar (juara 2022-2023) dan Persib yang kampiun pada dua musim terkini.
Perusahaan olahraga raksasa asal Jerman, Adidas, kembali meramaikan kompetisi Indonesia. Adidas mengantikan jenama olahraga lokal, Specs, sebagai produsen bola pertandingan dan latihan serta seragam wasit.
Liga Super 2025-2026 akan menggunakan bola Adidas seri Tiro Competition. Sebanyak 18 kontestan Liga Super telah memakai bola itu dalam masa persiapan hingga sejumlah laga ekshibisi. Tidak hanya Liga Super, bola Adidas itu juga akan hadir di Championship, nama anyar Liga 2.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/07/01/f11466c7-9aa0-46d2-a9ca-92907290986b_jpg.jpg)
Meskipun masuk dalam kualitas bola berstandar FIFA, seri Tiro Competition bukan bola yang digunakan Adidas untuk mendukung kompetisi di kawasan ASEAN, seperti Kejuaraan Klub ASEAN dan Kejuaraan ASEAN 2024. Pada dua kompetisi itu, Adidas memberikan bola seri Tiro Pro yang memiliki kualitas satu level di atas Tiro Competition.
Perbedaan bola itu terdapat pada warna motif segitiga. Untuk Tiro Competition berwarna biru, sedangkan Tiro Pro berwarna hitam. Adidas juga menyediakan seragam wasit. Wasit utama, dua asisten wasit, wasit keempat, serta asisten wasit video (VAR) akan mengenakan seragam dengan logo ikonik strip tiga.
”Kerja sama ini sejalan dengan misi Adidas Indonesia untuk mendukung keberlangsungan kegiatan olahraga di segala level. Semoga kemitraan ini membawa dampak positif bagi sepak bola Indonesia,” tutur Cinita Dewi Mayaktri, Senior Manager Brand Activation Adidas Indonesia.
Adidas tercatat pernah meramaikan kompetisi sepak bola terbaik Indonesia. Hal itu tercipta pada tiga edisi perdana liga profesional pada 1994-1995 hingga 1996-1997. Ketika itu, seluruh tim mengenakan jersei template yang tertulis jenama ”adidas” di bagian tengah dada.
Satu sorotan terbesar dari penamaan baru kompetisi adalah kian besarnya keran kuantitas pemain asing. Meskipun sejumlah pemain lokal melalui Asosiasi Pesepak Bola Profesional Indonesia (APPI) keberatan dengan regulasi pemain impor baru, I.League bergeming.
Sebanyak 18 kontestan Liga Super diberikan kesempatan bisa mengontrak hingga 11 pemain. Dari jumlah itu, hanya sembilan pemain yang boleh masuk daftar susunan pemain di setiap pertandingan. Lalu, setiap klub cuma diizinkan memainkan bersamaan tujuh pemain asing di laga.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/25/908e479e-3b17-40de-bee3-db6c1af7de5f_jpg.jpg)
Jika sebuah klub memaksimalkan jatah sembilan pemain asing dalam daftar pemain, setiap klub berpotensi hanya memasukkan 13 pemain lokal di setiap laga. Seburuk-buruknya, sekadar empat pemain lokal yang diturunkan sebuah tim di setiap pertandingan Liga Super.
Kondisi itu berpeluang kontraproduktif dengan ambisi I.League membantu PSSI melahirkan pemain-pemain berkualitas tim nasional, baik untuk tim senior, apalagi tim usia dini. Menit bermain yang lebih sedikit dibandingkan dengan musim-musim sebelumnya berpotensi menyebabkan perkembangan pemain lokal stagnan.
Terlepas pro dan kontra yang memayungi menjelang Liga Super 2025-2026, kompetisi terbaik Indonesia diharapkan bisa benar-benar naik kelas di kancah ASEAN, lalu Asia. Satu harapan besar lainnya ialah suporter bisa kembali bebas menikmati laga tim kesayangannya dengan nyaman, baik di kandang maupun tandang.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto