Kompas.id Brief

Apa yang Dilakukan China untuk Mengatasi Populasi yang Kian Menua?

Jumlah penduduk China tahun 2025 ada 1,416 miliar dengan angka kelahiran terus turun. Di tahun 2100, jumlah penduduk bisa tersisa hanya 633 juta jiwa.  Apa sebabnya?

12 Jan 2026 07:58 WIB · Internasional

AFP/Adek BERRY

Oleh Iwan Santosa

Sejak satu dekade terakhir, China menghadapai tantangan serius dalam isu demografi. Jumlah penduduk berusia lanjut semakin besar, sementara jumlah penduduk usia muda semakin menyusut.

Saat ini, sebagaimana sejumlah negara maju seperti Korea Selatan dan Jepang, China menjadi negara dengan populasi yang menua. Menyikapi tantangan tersebut, China melakukan beragam upaya. Lalu, apa yang dapat kita pelajari dari artikel ini?

  1. Bagaimana kondisi demografi China?
  2. Apa yang menjadi pemicunya?
  3. Apa tantangan lain yang dihadapi China?
  4. Apa dampak menurunnya populasi di China?
  5. Apa yang dilakukan Pemerintah China?

1. Kondisi demografi China

copy title

Selama tiga tahun berturut-turut populasi penduduk China terus menurun. Pemerintah China pada Jumat (17/1/2025) mengumumkan populasi penduduk tahun 2024 mencapai 1,408 miliar jiwa atau turun 1,39 juta jiwa dari tahun sebelumnya. Realitas tersebut menjadi peringatan akan krisis demografi yang memburuk. Sebagai negara terpadat kedua di dunia setelah India, China saat ini menghadapi populasi yang menua dan kekurangan angkatan kerja.

Angka yang diumumkan oleh pemerintah Beijing seiring dengan tren yang terjadi di sejumlah negara di seluruh dunia. Di wilayah Asia Timur, Jepang, Korea Selatan, dan beberapa negara lain mencatatkan angka kelahiran yang juga anjlok.

Tren penurunan ini disebabkan angka kelahiran yang lebih rendah dibandingkan dengan angka kematian. Di sisi lain, satu alasan yang banyak memengaruhi rendahnya angka kelahiran adalah meningkatnya biaya hidup yang menyebabkan banyak anak muda menunda menikah atau mempunyai anak demi mengejar pendidikan tinggi dan karier.

China telah lama menjadi salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia yang mampu bertahan dari invasi dan bencana alam. Setelah berakhirnya Perang Dunia II dan Partai Komunis naik ke tampuk kekuasaan pada 1949, tren keluarga besar muncul kembali di China dan populasinya berlipat ganda hanya dalam tiga dekade.

Penyusutan populasi China diawali dari laporan Biro Pusat Statistik Nasional China pada awal 2023 yang menyebutkan selama tahun 2022 jumlah penduduk China berkurang 850.000 jiwa, yakni dari 1,412 miliar jiwa susut menjadi 1,411 miliar jiwa.

Saat ini, lebih dari seperlima populasi China berusia 60 tahun atau lebih tua. Pada 2035, angka ini diperkirakan melebihi 30 persen, yang memicu wacana tentang perubahan usia pensiun resmi.

Sementara di sektor pendidikan, dengan jumlah siswa yang saat ini menyusut dan lebih sedikit dari tahun sebelumnya, beberapa sekolah dan taman kanak-kanak yang kosong dialihfungsikan menjadi fasilitas perawatan untuk orang tua.

2. Beberapa hal yang menjadi pemicu turunnya populasi di China

copy title

Semakin banyak warga di China enggan menikah. Biaya hidup yang meningkat dan kecemasan terhadap masa depan membuat orang merasa tak sanggup berkeluarga.

Penurunan jumlah pasangan yang menikah dilaporkan oleh Kementerian Urusan Sipil China, akhir pekan lalu. Pada 2023, ada 7,7 juta pasangan menikah. Sementara tahun 2024 jumlahnya berkurang menjadi 6,1 juta pasangan menikah. Ada penurunan sebesar 20,5 persen.

Bahkan, pada 2013 atau satu dekade lalu, angka pernikahan di China masih menyentuh dua digit, yakni 13,7 juta. Angka pernikahan yang turun selaras dengan jumlah penduduk China yang terus berkurang.

Penyebab kian banyaknya orang muda di China yang enggan menikah pada intinya berkisar pada peningkatan biaya hidup.

Ongkos untuk membesarkan anak-biaya sekolah, biaya les, dan sebagainya membesar. Pemerintah China telah berupaya mengurangi beban ini, antara lain dengan menertibkan tempat-tempat kursus yang memberlakukan harga sangat tinggi.

Selain itu, ada aspek kecemasan warga muda terhadap masa depan. Hal ini terjadi seiring dengan pertumbuhan ekonomi China yang tak sebaik pada tahun-tahun silam. Aspek lain yang juga dinilai membuat orang muda enggan berkeluarga ialah mahar mahal yang harus dibayar calon mempelai laki-laki.

3. Tantangan baru yang dihadapi China

copy title

Munculnya gaya hidup santai di kalangan muda di China dinilai ”menggerogoti” semangat bangsa itu untuk maju.

Bekerja keras tanpa henti demi meraih kesuksesan di dunia modern kini tak lagi menjadi impian atau ambisi anak-anak muda di China. Lelah dengan segala macam realitas kehidupan di kota yang tak seindah harapan, anak-anak muda China kini malah memilih untuk hidup lebih santai dan apa adanya. Mereka sudah tak mau lagi bekerja keras karena gaji atau upaya yang didapatkan tak setimpal.

Perubahan sikap pada anak-anak muda di China yang belakangan ramai dibicarakan di media sosial ini dikenal dengan istilah tang ping atau lying flat atau bisa diartikan dengan prinsip hidup lebih santai dan tanpa harapan muluk-muluk.

Prinsip baru ini menarik perhatian anak-anak muda di China karena banyak anak muda yang merasa semakin sulit mendapatkan pekerjaan karena kompetisi yang tinggi. Setelah mendapatkan pekerjaan, mereka harus bekerja sangat keras hanya agar bisa membayar uang sewa rumah atau apartemen di perkotaan yang harganya bisa setinggi langit.

Sikap anak-anak muda ini, menurut harian China Daily, menunjukkan anak-anak muda zaman sekarang memiliki pandangan dan pendekatan yang berbeda tentang hidup. Ini yang terjadi di Jepang ketika banyak anak muda mulai kehilangan semangat untuk maju. Ini mengancam perekonomian negara.

4. Salah satu dampak menurunnya populasi di China

copy title

Bagi banyak produsen produk khusus untuk bayi dan anak-anak di China, penurunan populasi China menjadi momok menakutkan. Ketika penurunan populasi betul-betul terjadi untuk pertama kali dalam sejarah China pada 2023, penjualan domestik menyusut. Mereka mulai berkompetisi mengembangkan produk lain, seperti diversifikasi ke produk untuk orang dewasa, atau meningkatkan penjualan ke pasar luar negeri dengan populasi yang lebih muda, seperti kawasan Asia Tenggara dan India.

Menurut penelitian dari Euromonitor, pasar China untuk makanan bayi dan popok adalah yang terbesar di dunia dengan total nilai 37,9 miliar dollar AS. Ini menyumbang sekitar sepertiga dari penjualan global setiap tahunnya. Namun, efek lanjutan dari penurunan populasi China terjadi cepat dan pasar diperkirakan berkontraksi tahun ini.

Tahun 2023 nilai pasar akan menyusut menjadi 37,6 miliar dollar AS dan pada 2025 menjadi 37,2 miliar dollar AS. Tren penurunan tingkat kelahiran juga diperkirakan tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Sebab, anak muda China tidak tertarik untuk memiliki lebih dari satu anak atau bahkan tidak mau memiliki anak karena mahalnya biaya membesarkan anak, terutama biaya pendidikan.

Perusahaan Grup Internasional Hengan yang berbasis di Fujian, yang membuat pembalut perempuan, popok, dan tisu, harus menghadapi penurunan penjualan popok 1,4 persen pada tahun lalu. Namun, sebaliknya, pendapatan dari popok dewasa melonjak hingga 13 persen. Ini menunjukkan populasi China yang menua dengan cepat dan mendorong pergeseran dalam belanja konsumen.

5. Beragam upaya yang dilakukan oleh Pemerintah China

copy title

Pemerintah China melakukan berbagai cara untuk mendorong warganya punya banyak anak. Salah satu cara terbaru: menaikan pajak untuk alat kontrasepsi. Disinsentif itu untuk membuat alat kontrasepsi semakin mahal sehingga diharapkan jumlah kehamilan meningkat. Kebijakan itu mulai berlaku pada 1 Januari 2026.

Sebelumnya, untuk menghadapi persoalan penurunan jumlah penduduk, Pemerintah China berusaha menempuh berbagai cara agar rakyat mereka tetap mau berkeluarga dan memiliki anak. Setelah mengeluarkan berbagai kebijakan yang lebih condong kepada pembiayaan, muncul wacana yang lebih substantif untuk meningkatkan mutu kehidupan rakyat sehingga mereka mau berkeluarga.

Konteks mutu ini ialah semakin berpendidikan masyarakat, semakin maju dan modern pandangan mereka dalam mengembangkan konsep keluarga yang bermutu. Hal ini dijelaskan oleh Wang Peian, Ketua Program Keluarga Berencana China, kepada surat kabar Economic Daily.

Wang mencontohkan nilai-nilai yang harus ditinjau ulang ialah mengenai pembagian tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Budaya tradisional China membebankan pengasuhan anak sepenuhnya kepada perempuan. Akibatnya, setinggi apa pun pendidikan perempuan, ketika menikah dan memiliki anak, ia harus berhenti berkarier demi menjadi ibu rumah tangga. Peran suami pun terbatas menjadi pencari nafkah yang kerap bekerja hingga larut malam demi memenuhi kebutuhan materiil keluarga.

”Keluarga modern sejatinya menerapkan pembagian tanggung jawab yang adil. Anak adalah tanggung jawab ayah dan ibu sehingga harus ada perumusan ulang mengenai peran kedua orangtua agar tidak berat pada satu sisi saja. Aktualisasi diri kedua orangtua juga harus dijamin,” tutur Wang.

Upaya lain adalah memperbanyak tempat penitipan anak dan mengurangi beban mahar. Selain itu ada pula kebijakan untuk menambah waktu cuti menikah.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto