Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Bagaimana proses pelantikan Donald Trump sebagai Presiden ke-47 Amerika Serikat?
- Siapa saja yang hadir?
- Apa yang Trump lakukan setelah menjadi orang nomor satu?
- Siapa saja kepala atau pejabat negara yang memberi ucapan selamat?
- Bagaimana dunia merespons kebijakan agresif Trump?
Bagaimana proses pelantikan Donald Trump sebagai Presiden ke-47 Amerika Serikat?
Donald Trump (78) resmi menjadi Presiden Amerika setelah mengucap sumpah di Gedung Capitol, Washington DC, Senin (20/1/2025) siang waktu setempat atau Senin tengah malam WIB. Beberapa saat sebelumnya, James David Vance lebih dahulu dilantik sebagai Wakil Presiden ke-50 AS.
Upacara pelantikan Trump digelar di ruang tertutup di Ruangan Rotunda, Gedung Capitol, karena cuaca sangat dingin menyelimuti ibu kota Washington DC. ”Masa keemasan Amerika akan dimulai saat ini,” kata Trump dalam pidatonya berdurasi sekitar 26 menit.
Dalam pidatonya, Trump turut menyebut akan mengganti nama Teluk Meksiko dengan nama Teluk Amerika. Ia juga kembali menegaskan janji untuk mengambil alih pengelolaan Terusan Panama dari Panama.
Upacara pelantikan Trump dihadiri mantan Presiden Joe Biden, mantan Wakil Presiden Kamala Harris, serta para mantan presiden, yaitu Barack Obama, George W Bush, dan Bill Clinton. Mantan Ibu Negara Hillary Clinton juga hadir. Sementara istri Obama, Michelle, memilih tak datang.
Selain mereka, para miliarder dan pemimpin raksasa teknologi—termasuk tiga orang terkaya di dunia—yakni CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk; CEO Amazon Jeff Bezos; dan CEO Meta Mark Zuckerberg, tak ketinggalan menjadi tamu undangan. Mereka duduk di barisan utama, dekat para anggota kabinet dan keluarga Trump.
Siapa saja kepala atau pejabat negara yang memberi ucapan selamat?
Ucapan selamat dan harapan mengalir dari pemimpin dunia untuk Trump. Pemimpin yang paling awal memberikan ucapan selamat, antara lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Presiden Rusia Vladimir Putin, Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara Mark Rutte, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
”Atas nama Pemerintah Meksiko, saya mengucapkan selamat kepada Donald Trump atas pelantikannya sebagai Presiden ke-47 Amerika Serikat. Sebagai tetangga dan mitra bisnis, dialog, rasa hormat, dan kerja sama akan selalu menjadi simbol hubungan kita,” tulis Sheinbaum di X.
Harapan juga terucap dari Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Perdana Menteri India Narendra Modi, Kanselir Jerman Olaf Scholz, dan Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim PBB Simon Stiell. Langkah senada dilakukan oleh Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva dan Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban.
Apa yang Trump segera lakukan setelah menjadi orang nomor satu?
Segera setelah dilantik, Trump langsung menandatangani serangkaian keputusan dan perintah yang mengubah arah negara secara dramatis. Ia membubuhkan tanda tangan pada setidaknya 100 perintah eksekutif pada Senin sore, waktu setempat.
Perintah-perintah tersebut mencakup beragam bidang kehidupan AS, antara lain, isu imigrasi, iklim, kebijakan energi, hingga inisiatif keragaman dalam pemerintah federal. Trump akan mendorong pengeboran minyak dan gas bumi guna menurunkan harga domestik.
Selain itu, ia berjanji memperbaiki sistem perdagangan. Caranya, dengan meningkatkan tarif kepada negara-negara lain yang menjadi mitra dagang. ”Mimpi kemakmuran Amerika akan segera kembali,” kata Trump.
Bagaimana dunia merespons kebijakan agresif Trump?
Bagi seluruh dunia, kembalinya Trump menimbulkan ketidakpastian. Ia tampaknya akan mengguncang tatanan global lagi dengan ancaman tarif ekspor tinggi serta ancaman teritorial, seperti Terusan Panama dan Greenland. Trump berencana mengenakan tarif 25 persen pada barang-barang impor dari Meksiko dan Kanada serta 10 persen tarif tambahan pada China.
Sejumlah negara mulai bersiap, seperti Meksiko, Malaysia, dan Korea Selatan (Korsel), serta Uni Eropa (UE). UE dan Malaysia mengumumkan akan memulai kembali negosiasi kesepakatan perdagangan bebas guna memperkuat hubungan perdagangan di seluruh dunia selain AS.
Sementara itu, Korsel sudah meluncurkan paket dukungan senilai 250 miliar dollar AS untuk para eksportir. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum berjanji untuk membela warga negaranya yang tinggal di AS. Hal ini terkait ancaman deportasi massal imigran ilegal.
Menanggapi pelantikan Trump, Paus Fransiskus mengecam operasi deportasi besar-besaran yang dijanjikan Trump terhadap migran tidak berdokumen. ”Jika benar, itu akan menjadi bencana karena membuat orang-orang malang yang tidak punya apa-apa harus membayar,” kata Paus.
Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?
- Bagaimana proses pelantikan Donald Trump sebagai Presiden ke-47 Amerika Serikat?
- Siapa saja yang hadir?
- Apa yang Trump lakukan setelah menjadi orang nomor satu?
- Siapa saja kepala atau pejabat negara yang memberi ucapan selamat?
- Bagaimana dunia merespons kebijakan agresif Trump?
Bagaimana proses pelantikan Donald Trump sebagai Presiden ke-47 Amerika Serikat?
Donald Trump (78) resmi menjadi Presiden Amerika setelah mengucap sumpah di Gedung Capitol, Washington DC, Senin (20/1/2025) siang waktu setempat atau Senin tengah malam WIB. Beberapa saat sebelumnya, James David Vance lebih dahulu dilantik sebagai Wakil Presiden ke-50 AS.
Upacara pelantikan Trump digelar di ruang tertutup di Ruangan Rotunda, Gedung Capitol, karena cuaca sangat dingin menyelimuti ibu kota Washington DC. ”Masa keemasan Amerika akan dimulai saat ini,” kata Trump dalam pidatonya berdurasi sekitar 26 menit.
Dalam pidatonya, Trump turut menyebut akan mengganti nama Teluk Meksiko dengan nama Teluk Amerika. Ia juga kembali menegaskan janji untuk mengambil alih pengelolaan Terusan Panama dari Panama.
Upacara pelantikan Trump dihadiri mantan Presiden Joe Biden, mantan Wakil Presiden Kamala Harris, serta para mantan presiden, yaitu Barack Obama, George W Bush, dan Bill Clinton. Mantan Ibu Negara Hillary Clinton juga hadir. Sementara istri Obama, Michelle, memilih tak datang.
Selain mereka, para miliarder dan pemimpin raksasa teknologi—termasuk tiga orang terkaya di dunia—yakni CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk; CEO Amazon Jeff Bezos; dan CEO Meta Mark Zuckerberg, tak ketinggalan menjadi tamu undangan. Mereka duduk di barisan utama, dekat para anggota kabinet dan keluarga Trump.
Siapa saja kepala atau pejabat negara yang memberi ucapan selamat?
Ucapan selamat dan harapan mengalir dari pemimpin dunia untuk Trump. Pemimpin yang paling awal memberikan ucapan selamat, antara lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Presiden Rusia Vladimir Putin, Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara Mark Rutte, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
”Atas nama Pemerintah Meksiko, saya mengucapkan selamat kepada Donald Trump atas pelantikannya sebagai Presiden ke-47 Amerika Serikat. Sebagai tetangga dan mitra bisnis, dialog, rasa hormat, dan kerja sama akan selalu menjadi simbol hubungan kita,” tulis Sheinbaum di X.
Harapan juga terucap dari Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Perdana Menteri India Narendra Modi, Kanselir Jerman Olaf Scholz, dan Sekretaris Eksekutif Perubahan Iklim PBB Simon Stiell. Langkah senada dilakukan oleh Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva dan Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban.
Apa yang Trump segera lakukan setelah menjadi orang nomor satu?
Segera setelah dilantik, Trump langsung menandatangani serangkaian keputusan dan perintah yang mengubah arah negara secara dramatis. Ia membubuhkan tanda tangan pada setidaknya 100 perintah eksekutif pada Senin sore, waktu setempat.
Perintah-perintah tersebut mencakup beragam bidang kehidupan AS, antara lain, isu imigrasi, iklim, kebijakan energi, hingga inisiatif keragaman dalam pemerintah federal. Trump akan mendorong pengeboran minyak dan gas bumi guna menurunkan harga domestik.
Selain itu, ia berjanji memperbaiki sistem perdagangan. Caranya, dengan meningkatkan tarif kepada negara-negara lain yang menjadi mitra dagang. ”Mimpi kemakmuran Amerika akan segera kembali,” kata Trump.
Bagaimana dunia merespons kebijakan agresif Trump?
Bagi seluruh dunia, kembalinya Trump menimbulkan ketidakpastian. Ia tampaknya akan mengguncang tatanan global lagi dengan ancaman tarif ekspor tinggi serta ancaman teritorial, seperti Terusan Panama dan Greenland. Trump berencana mengenakan tarif 25 persen pada barang-barang impor dari Meksiko dan Kanada serta 10 persen tarif tambahan pada China.
Sejumlah negara mulai bersiap, seperti Meksiko, Malaysia, dan Korea Selatan (Korsel), serta Uni Eropa (UE). UE dan Malaysia mengumumkan akan memulai kembali negosiasi kesepakatan perdagangan bebas guna memperkuat hubungan perdagangan di seluruh dunia selain AS.
Sementara itu, Korsel sudah meluncurkan paket dukungan senilai 250 miliar dollar AS untuk para eksportir. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum berjanji untuk membela warga negaranya yang tinggal di AS. Hal ini terkait ancaman deportasi massal imigran ilegal.
Menanggapi pelantikan Trump, Paus Fransiskus mengecam operasi deportasi besar-besaran yang dijanjikan Trump terhadap migran tidak berdokumen. ”Jika benar, itu akan menjadi bencana karena membuat orang-orang malang yang tidak punya apa-apa harus membayar,” kata Paus.