Kompas.id Brief

Apakah Dongeng Cinderella Bodo/Glimt Akan Berlanjut?

Bodo/Glimt sedang menjalani kisah mirip dongeng Cinderella dengan lolos ke semifinal Liga Europa. Apakah dongeng tersebut akan terus berlanjut?

19 Apr 2025 08:00 WIB · Olahraga

Oleh Redaksi

Apa yang bisa Anda dipelajari dari artikel berikut ini?

  1. Bagaimana hasil pertandingan kedua perempat final Liga Europa Bodo/Glimt?
  2. Bagaimana Manchester United bisa ”remontada” melawan Lyon?
  3. Dengan Onana di bawah mistar, apakah Manchester United bisa melanjutkan perjalanan ke final?
  4. Apakah nasib Ange Postecoglou di Tottenhan Hotspur sudah aman?

Dongeng Bodo/Glimt Menggema di Liga Europa

copy title

Sebelum menyingkirkan Lazio pada perempat final Liga Europa, Bodo/Glimt hanyalah remah-remah di antara klub-klub elite Eropa. Pelan tetapi pasti, Bodo/Glimt memaksa publik mencermati kiprah mereka. Kemenangan dramatis atas Lazio sekaligus menjadi klub Norwegia pertama yang melaju ke semifinal menciptakan dongeng yang membius publik.

Setiap kompetisi memang ditakdirkan memiliki dongengnya tersendiri. Dongeng dalam sepak bola merujuk pada geliat klub kecil yang membalikkan prediksi, lalu muncul menjadi pahlawan. Liga Inggris telah lebih dulu mengisahkan dongengnya seiring keberhasilan Leicester City menjadi juara pada 2016.

Liga Champions Eropa tidak ketinggalan menyuguhkan kisah-kisah heroik saat suatu klub membalikkan keadaan setelah kalah telak pada pertemuan pertama. Di Liga Europa, dongeng itu dilukiskan oleh Bodo/Glimt. Kehadirannya di Liga Europa sempat tidak terdeteksi atau minimal dihiraukan oleh publik. Akan tetapi, mereka membuktikan keberadaannya dengan mengandaskan Lazio pada babak adu penalti di Stadion Olimpico, Roma, Jumat (18/4/2025) dini hari WIB.

Berbekal kekalahan 0-2 pada pertemuan pertama di Norwegia, Lazio bermain ulet dan penuh determinasi untuk membalikkan keadaan. Upaya itu berbuah hasil saat gol Valentin Castellanos (menit ke-21) dan Tijjani Noslin (90+3) membawa Lazio menyamakan agregat menjadi 2-2.

Bagaimana Manchester United bisa remontada melawan Lyon?

copy title

Bukan Manchester United namanya jika memilih jalan mudah untuk menang. Dari unggul, tertinggal, hingga berbalik menang pada menit-menit akhir dijalani tim asuhan Pelatih Ruben Amorim di Stadion Old Trafford. Dari stadion berjuluk ”Teater Impian” itu, tercipta salah satu malam paling ajaib dalam sejarah klub.

Remontada yang terus dibicarakan oleh Real Madrid selama sepekan terakhir tidak terjadi di Stadion Santiago Bernabeu ketika menghadapi Arsenal dalam laga kedua perempat final Liga Champions. Sehari berselang, Jumat (18/4/2025) dini hari WIB, istilah dari bahasa Spanyol yang berarti membalikkan keadaan itu justru direalisasikan oleh MU.

Old Trafford nyaris menjadi saksi remontada dari tim tamu Olympique Lyon. Namun, MU sukses membalikkan keadaan tertinggal 2-4 dengan tiga gol dalam rentang tujuh menit pada pengujung babak kedua tambahan waktu. Tim tuan rumah pun lolos ke semifinal Liga Europa berkat kemenangan 5-4 dan unggul agregat 7-6.

”Pastinya laga yang luar biasa,” kata bek MU, Harry Maguire, yang mencetak gol penentu kemenangan di injury time (120+1). ”Kami bekerja sangat keras untuk mewujudkan itu. Sebenarnya kami mengontrol penuh pada paruh kedua, tetapi mereka tiba-tiba mencetak dua gol entah dari mana,” lanjutnya.

Kemenangan MU terasa begitu ajaib karena muncul tanpa diduga saat momentum sudah berpindah dan moral pemain hancur lebur. Jungkat-jungkit emosi itu terwakili dengan ekspresi penggemar. Mereka tersenyum saat jeda turun minum, gusar ketika laga masuk babak tambahan, dan tenggelam dalam euforia setelah peluit panjang.

Dengan Onana di bawah mistar, apakah Manchester United bisa melanjutkan perjalanan ke final?

copy title

Onana membuktikan sendiri, alasan dirinya layak disebut penjaga gawang terburuk sepanjang sejarah Manchester United. Dua kesalahan fatalnya membuat MU gagal menang di kandang Olympique Lyon. Padahal, kemenangan itu sudah di depan mata ”Setan Merah”.

MU hanya perlu bertahan kurang dari semenit lagi untuk membawa pulang kemenangan dari markas Lyon, Stadion Groupama, pada Jumat (11/4/2025) dini hari WIB. Namun, mereka kecolongan karena gol pemain tuan rumah Rayan Cherki pada menit terakhir injury time. Laga berakhir imbang 2-2.

Onana menjadi ”kambing hitam” dari hasil antiklimaks pada laga pertama perempat final Liga Europa tersebut. Gol diawali tembakan datar Georges Mikautadze yang mengarah tepat ke sang kiper. Onana bisa mengantisipasi, tetapi bola terlepas dari tangannya. Bola pun jatuh ke kaki Cherki.

Pada paruh pertama, Onana juga yang membuat MU tertinggal lebih dulu. Dia gagal mengantisipasi tendangan bebas yang memantul tepat di depan wajahnya. Bola terlihat lambat dan bisa diantisipasi, tetapi kiper 29 tahun itu ragu-ragu karena pergerakan para pemain lawan di kotak penalti.

Meski akhirnya MU ke semifinal setelah melakukan ”remontada” di pertandingan kedua, tidak ada jaminan Onana tak akan kembali melakukan blunder. Menghadapi lawan lebih berkualitas seperti Athletic Bilbao, gawang MU akan lebih banyak mendapat ancaman. Berkebalikan dengan MU yang berada di papan bawah klasemen Liga Inggris, Bilbao kini berada di peringkat keempat La Liga.

Apakah nasib Ange Postecoglou di Tottenhan Hotspur sudah aman?

copy title

Ange Postecoglou barangkali adalah orang yang paling lega sekaligus bahagia dengan keberhasilan Tottenham Hotspurs melaju ke semifinal Liga Europa. Tekanan besar yang membayanginya sedikit berkurang. Ia sejenak bisa menunda perpisahan dengan Spurs berkat kemenangan 1-0 atas Frankfurt di Stadion Deutsche Bank Park, Frankfurt, Jumat (18/4/2025) dini hari WIB.

Hasil pada pertemuan kedua itu membuat Spurs unggul 2-1 secara agregat. Pada pertemuan pertama di markas Spurs, kedua tim bermain imbang 1-1. Perjuangan pada pertemuan kedua dinilai bakal lebih sulit bagi Spurs mengingat Frankfurt belum pernah menelan kekalahan setiap kali bermain di markasnya pada Liga Europa.

Akan tetapi, James Maddison dan rekan-rekannya meruntuhkan pesimisme. Gol semata wayang kemenangan Spurs dilesakkan Dominic Solanke melalui eksekusi penalti pada menit ke-43. Wasit Davide Massa memberikan hadiah penalti setelah Maddison ditabrak kiper Frankfurt Kaua Santos saat berebut bola udara.

Setelah tertinggal, Frankfurt mencoba keras menyamakan kedudukan. Pelatih Dino Toppmoller menginstruksikan para pemainnya untuk tampil lebih menekan serta meningkatkan intensitas serangan.

Hanya saja, pertahanan Spurs yang digalang Cristian Romero dan Micky van de Ven terlalu solid untuk ditaklukkan. Frankfurt menciptakan lima tembakan tepat sasaran, tapi tidak ada yang terlalu merepotkan kiper Guglielmo Vicario. Itu tecermin dari nilai angka harapan gol (expected goal/xG) Frankfurt yang menyentuh 0,91. Jumlah itu masih lebih kecil dibandingkan Spurs yang tampil lebih efisien. Meski hanya melepaskan tiga tembakan tepat sasaran, nilai xG Spurs mencapai 1,71.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti