Kiper Manchester United, Andre Onana, seolah tidak berhenti mempermalukan diri sendiri di luar dan di dalam lapangan. Sampai kapan Onana akan terus dipercaya?
11 Apr 2025 07:27 WIB · Olahraga
LYON, JUMAT — Onana membuktikan sendiri, alasan dirinya layak disebut penjaga gawang terburuk sepanjang sejarah Manchester United. Dua kesalahan fatalnya membuat MU gagal menang di kandang Olympique Lyon. Padahal, kemenangan itu sudah di depan mata ”Setan Merah”.
MU hanya perlu bertahan kurang dari semenit lagi untuk membawa pulang kemenangan dari markas Lyon, Stadion Groupama, pada Jumat (11/4/2025) dini hari WIB. Namun, mereka kecolongan karena gol pemain tuan rumah Rayan Cherki pada menit terakhir injury time. Laga berakhir imbang 2-2.
Onana menjadi ”kambing hitam” dari hasil antiklimaks pada laga pertama perempat final Liga Europa tersebut. Gol diawali tembakan datar Georges Mikautadze yang mengarah tepat ke sang kiper. Onana bisa mengantisipasi, tetapi bola terlepas dari tangannya. Bola pun jatuh ke kaki Cherki.
Pada paruh pertama, Onana juga yang membuat MU tertinggal lebih dulu. Dia gagal mengantisipasi tendangan bebas yang memantul tepat di depan wajahnya. Bola terlihat lambat dan bisa diantisipasi, tetapi kiper 29 tahun itu ragu-ragu karena pergerakan para pemain lawan di kotak penalti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/11/7fe15a7d3c2be7b10e5c8f2d50266a6d-wires_photo_74_.jpg)
”Anda akan marah besar (jika jadi rekan setim Onana),” kata mantan pemain tim nasional Inggris, Aaron Lennon, kepada BBC Sport. ”Itu adalah dua kesalahan besar. Menurut saya, dia harus menyelamatkan kedua tembakan itu. Dia berhasil menjadi berita utama sebelum dan setelah laga,” lanjutnya.
Onana sempat berkata sebelum laga, MU jauh lebih baik dibandingkan dengan Lyon. Opini itu memanaskan suasana. Nemanja Matic, gelandang veteran Lyon yang merupakan mantan pemain MU, tidak terima. Matic menyerang balik penjaga gawang yang sudah dua musim bersama ”Setan Merah” tersebut.
Menurut Matic, pendapat Onana sama sekali tidak pantas. ”Jika Anda adalah kiper terburuk dalan sejarah MU, Anda harus berhati-hati (bicara). Kalau David de Gea, Peter Schmeichel, atau Edwin van der Sar berkata demikian, saya pasti akan mempertanyakan diri sendiri. Dia harus menunjukkan sesuatu dulu sebelum berbicara,” tegas Matic.
Ucapan Matic ternyata dibuktikan sendiri oleh Onana. Kesalahan kiper asal Kamerun itu mengkhawatirkan karena terjadi berulang kali. Sejak musim lalu, menurut Opta, tidak ada kiper di Liga Inggris yang membuat blunder lebih banyak dan berujung kemasukan dalam seluruh kompetisi dibandingkan dengan Onana (8 gol).
Pelatih Kepala MU Ruben Amorin sangat kecewa karena tidak bisa membawa pulang modal keunggulan ke Stadion Old Trafford untuk laga kedua nanti. Namun, dia enggan menyalahkan Onana atas insiden dua gol tim tuan rumah. Baginya, mereka harus senang dan susah bersama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/11/4487c452ef01c77745fe6ed168236312-wires_photo_75_.jpg)
”Itu penting untuk fokus ke laga selanjutnya di Liga Inggris dan baru kemudian memikirkan laga kedua versus Lyon. Ketika satu pemain membuat kesalahan, semua tim bertanggung jawab atas itu. Jadi, kami akan melanjutkan (cara berpikir) seperti itu,” kata Amorim.
Tanda tanya kepada Onana semakin membesar. Apakah sudah saatnya dia dicadangkan oleh Amorim? MU masih memiliki kiper pelapis yang merupakan pemain timnas Turki, yaitu Altay Bayindir. Bayindir sudah pernah tampil di Piala FA, Piala Liga, dan Liga Europa musim ini.
Salah satu penampilan Bayindir bahkan sempat mencuri perhatian saat MU menyingkirkan Arsenal di Piala FA. Bayindir berhasil membawa ”Setan Merah” yang tampil dengan sepuluh pemain sampai ke babak penalti. Lalu, dia menjadi pahlawan dalam adu tos-tosan tersebut.
Onana, finalis Liga Champions bersama Inter Milan, mampu bermain sangat solid ketika sedang percaya diri. Namun, dia sering tampil inkonsisten di MU akibat beban ekspektasi yang terlampau besar. Statistik Opta bisa memperlihatkan performa kiper yang masih di bawah standar.
Onana memang mencatatkan jumlah rerata penyelematan terbanyak, yaitu 3,4 kali per 90 menit, jika dibandingkan dengan para penjaga gawang MU selama 20 tahun terakhir dengan minimal 900 menit penampilan di liga. Akan tetapi, persentase penyelamatannya merupakan yang kedua terendah (70,1 persen) di bawah Dean Henderson (76,5 persen).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/04/11/b289f893-866d-4b4d-a5f7-82322df36a24_jpg.jpg)
Sementara itu, Onana juga berstatus kiper MU dengan rerata kemasukan tercepat (setiap 63 menit) dibandingkan dengan para penjaga gawang lain yang minimal punya lebih dari 10 kali penampilan di liga. Dia jauh di bawah De Gea (84 menit), Peter Schmeichel (106 menit), dan Van der Sar (117 menit).
Tentu perbandingan tersebut tidak bisa diambil mentah-mentah. Semua kiper itu bermain di beda zaman. Mayoritas berada dalam masa kejayaan ”Setan Merah”. Sementara itu, Onana berada dalam masa transisi perpindahan pelatih dari Erik ten Hag ke Amorim.
Amorim, soal pergantian kiper, belum mau terlalu reaktif mengambil keputusan. Dia tampak ingin menjaga harmoni dalam tim. ”Kami akan melakukan hal yang sama. Berlatih, memantau laga, dan memilih sebelas pemain terbaik untuk memenangi pertandingan,” pungkasnya. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .