Final sesama tim Inggris tercipta di Liga Europa, antara Manchester United dan Tottenham Hotspur. Keduanya melaju jauh di tengah format baru turnamen Eropa.
09 Mei 2025 07:08 WIB · Olahraga
Arsene Wenger, pelatih legendaris asal Perancis, menyulut perdebatan baru. Dia kurang setuju dengan hadiah untuk tim pemenang Liga Europa yang sudah diberikan selama satu dekade terakhir. Baginya, hadiah lolos langsung ke Liga Champions terlalu berlebihan di situasi seperti saat ini.
”Tidak. Mereka (tim juara) seharusnya otomatis lolos langsung untuk Liga Europa lagi, bukan Liga Champions. Terutama saat ini Anda sudah memiliki lima tim yang akan lolos dari Liga Inggris. Saya pikir saatnya (UEFA) untuk memikirkan dan meninjau ulang itu,” kata Wenger dalam acara BeIN Sports, akhir pekan lalu.
Pelatih Kepala Tottenham Hotspur Ange Postecoglou tidak sependapat. Menurut dia, Wenger hanya membahas persoalan itu karena urusan personal sebab Spurs berpotensi juara turnamen kasta kedua tersebut pada musim ini. Adapun Wenger merupakan mantan manajer Arsenal, tim rival sekota dari Tottenham.
Mengapa itu tidak menjadi isu pada musim lalu? Semua sama saja.
Postecoglou berkata, semua baik-baik saja dalam beberapa tahun terakhir. Seharusnya kebiasaan itu tetap dilanjutkan karena tidak bermasalah. ”Mengapa itu tidak menjadi isu pada musim lalu? Semua sama saja. Saya menghormati Arsene, tetapi ketika Spurs (dalam pembahasan), (dia) tertarik dengan itu,” ujarnya, Kamis (8/5/2025).
Ucapan Postecoglou benar, tetapi tidak sepenuhnya akurat. Musim ini terjadi perubahan format drastis di Liga Champions dan Liga Europa. Tim peringkat ketiga di babak grup Liga Champions tidak lagi otomatis terlempar ke Liga Europa. Format yang mulai berlaku sejak musim 1999-2000 itu resmi dihapus.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/09/a79672db8215ebc4c820817111fb1a33-Norway_Soccer_Europa_League.jpeg)
Standar kualitas Liga Europa pun dipertanyakan. Tidak ada lagi delapan tim dari turnamen kasta teratas yang ikut meramaikan babak gugur, seperti musim-musim sebelumnya. Belum lagi, jumlah peserta Liga Champions musim ini bertambah dari 32 jadi 36 klub. Itu berperan signifikan mengurangi tim-tim besar di Liga Europa.
Menariknya, dalam lima musim sebelumnya, tim-tim yang turun kasta dari Liga Champions nyaris selalu bisa meramaikan persaingan. Sebanyak total tujuh tim berhasil lolos ke semifinal dalam rentang musim 2019-2020 sampai 2023-2024. Di antara itu, empat tim sukses melenggang ke partai puncak.
Keseimbangan kompetisi Liga Europa bahkan sempat dirusak di musim 2023-2024. Juventus, Bayer Leverkusen, dan Sevilla mendominasi empat besar setelah gagal lolos babak grup Liga Champions. Sevilla berhasil keluar sebagai juara dari turnamen berjuluk ”Liga Malam Jumat” tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/09/99ce6ae5-9a97-4cc0-a6f9-5d71efc839c3_png.png)
Seperti kebetulan, Manchester United dan Tottenham berhasil memastikan tiket ke final Liga Europa pada Jumat dini hari WIB. Mereka kembali menciptakan final sesama tim Inggris sejak terakhir kali terjadi pada musim 2018-2019. Di balik kesuksesan itu, muncul pertanyaan, apakah mereka diuntungkan format baru?
Di atas kertas, tim-tim raksasa Liga Inggris, seperti MU dan Tottenham, seharusnya bisa berbicara banyak. Apalagi dengan ketidakhadiran tim dari kasta teratas. Hipotesis itu semakin relevan ketika melihat lawan Tottenham di semifinal, yaitu tim ”kuda hitam” asal Norweigia, Bodo/Glimt.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/09/5b522d3e94ca5909617288292c3213b2-Britain_Soccer_Europa_League_2_.jpeg)
Bodo/Glimt baru pertama kali dalam sejarah klub bisa mencapai semifinal di turnamen Eropa. Tiga musim sebelumnya, mereka selalu berturut-turut tersisih di babak gugur Liga Konferensi Eropa yang merupakan turnamen kasta ketiga. Adapun Tottenham ke final setelah membungkam Bodo/Glimt dengan unggul agregat 5-1.
Pelatih Bodo/Glimt Kjetil Knutsen sampai kebingungan setelah kalah 0-2 di kandang dalam laga kedua, Jumat dini hari WIB. Baginya, perbedaan kualitas kedua tim tecermin dari hasil. ”Tottenham jauh lebih baik dari kami dan pantas lolos ke final. Saya merasa kami seperti tidak ada di laga ini sama sekali,” katanya.
Meskipun begitu, keuntungan format baru agaknya kurang relevan jika dilihat dari sisi MU. Mereka dihadang tim-tim yang punya nama cukup besar di Eropa sejak babak 16 besar. Mulai dari Real Sociedad, Olympique Lyon, hingga terakhir Athletic Bilbao. Adapun Bilbao, lawan MU di semifinal, berstatus tim peringkat keempat Liga Spanyol.
MU memang menang besar atas Bilbao (7-1) dan Sociedad (5-2). Namun, hasil itu didapatkan berkat resistensi tim asuhan pelatih Ruben Amorim terhadap ancaman nyata lawan. Terutama saat bertandang di laga pertama. Adapun versus Lyon (7-6), MU sampai perlu momen ajaib di penghujung babak tambahan untuk menang.
Ernesto Valverde, Pelatih Kepala Bilbao, saksinya. Bilbao sempat memperkecil selisih agregat dengan unggul 1-0 di Stadion Old Trafford. Namun, MU mampu membalikkan keadaan lewat empat gol pada 20 menit terakhir. Perpindahan momentum itu seperti mengulang kisah laga pertama di Stadion San Mames.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/09/562eb80057e425b6677f3eafec3e2ae2-Britain_Soccer_Europa_League_1_.jpeg)
Valverde, timnya bermain baik dalam dua laga, tetapi MU jauh lebih efisien. ”Kami bermain baik di laga tadi sampai menit ke-80, berupaya menekan mereka di kotak penalti sendiri. Lalu, kami tampil buruk dalam sepuluh menit terakhir. Sayangnya, sepak bola dimainkan selama 90 menit,” ujar mantan pelatih Barcelona tersebut.
Jika dilihat sekilas, tim-tim dengan nama besar memang berkurang. Namun, itu tidak serta-merta menggerus level persaingan. Setiap kompetisi berbeda, punya kesulitan masing-masing. Termasuk di Liga Europa. Itu yang membuat hanya satu tim, dalam lima musim terakhir, yang mampu juara dengan berstatus buangan Liga Champions.
Tim-tim buangan itu memang meramaikan persaingan, tetapi belum tentu bisa berjaya. MU membuktikan sendiri pada musim 2020-2021. ”Setan Merah” terlempar dari babak grup Liga Champions ke babak gugur Liga Europa. Mereka berhasil mencapai final, hanya saja kalah dari Villarreal yang sudah menyelami kompetisi sejak babak grup. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .