Trofi Liga Europa membawa perdebatan baru ke rivalitas di London Utara. Apakah capaian itu membuat Tottenham lebih baik daripada Arsenal pada akhir musim ini?
23 Mei 2025 13:03 WIB · Olahraga
Bagi dua tim sekota asal London Utara, Arsenal dan Tottenham Hotspur, tolak ukur prestasi terasa jauh lebih kompleks. Pencapaian masing-masing tim saja tidak cukup untuk mengukur keberhasilan di setiap musim. Musim yang baik bisa berubah menjadi buruk jika tim tetangga lebih berprestasi. Begitu pun sebaliknya.
Perdebatan terbaru muncul jelang akhir musim 2024-2025, terutama setelah Tottenham menjuarai Liga Europa. Trofi mayor pertama sejak 2008 itu mengubah drastis nasib ”Si Lili Putih” yang masih berada di peringkat ke-17 jelang pekan terakhir Liga Inggris. Son Heung-min dan rekan-rekan menciptakan jalur sukses sendiri.
Di sisi lain, Arsenal menjalani musim terbaik di bawah kepemimpinan manajer Mikel Arteta. ”Si Meriam” kembali finis di peringkat kedua liga domestik dan mampu menjadi semifinalis Liga Champions. Meskipun begitu, mereka menyudahi musim tanpa gelar. Lantas, musim siapa yang lebih baik?
Paul Merson, mantan pemain Arsenal, berkata, trofi adalah segalanya dalam sepak bola. Oleh karena itu, Tottenham menjalani musim yang lebih baik walaupun hanya beprestasi di kasta kedua turnamen Eropa. ”Ketika Anda tim besar dan tidak memenangi trofi, itu akan menjadi sebuah kekecewaan,” ujarnya kepada Sky Sports.
Pernyataan itu cukup relevan. Trofi selalu menjadi simbol dilema bagi Arsenal belakangan ini. Meskipun mampu finis sebagai runner-up liga dalam tiga musim beruntun, proyek Arteta belum dianggap berhasil karena masih nirgelar. Satu-satunya trofi yang diraih tim asuhan Arteta adalah Piala FA, pada lima tahun lalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/22/04db1d81efe87e1fb3bbeaafe49334f1-wires_photo_2025_05_22T123518.586.jpg)
Perspektif berbeda diberikan oleh salah satu media lokal Inggris, The Telegraph, dalam artikel berjudul ”Sorry Tottenham, but trophyless Arsenal had the better season”. Menurut sang penulis, Thom Gibbs, kejayaan Tottenham dalam semalam tidak sebanding dengan hasil buruk selama sekitar sepuluh bulan terakhir.
Apalagi, prestasi Tottenham datang dari turnamen yang berstatus ”kelas dua”. Level kompetitif turnamen itu juga semakin diragukan setelah perubahan format pada musim ini. Adapun tidak ada lagi tim lungsuran dari Liga Champions ke Liga Europa untuk pertama kali sejak musim 1999-2000.
Sebaliknya, Arsenal bisa tampil cukup konsisten di dua kompetisi dengan level tertinggi, yaitu Liga Inggris dan Liga Champions. Mereka melanjutkan momentum dari musim-musim sebelumnya walaupun masih belum maksimal karena terkendala badai cedera. Hasil itu sudah sangat baik dengan situasi skuad yang tersedia.
Wakil dari kedua klub yang merupakan rival abadi itu turut diberikatan pertanyaan serupa. Mulai dari Arteta hingga bek Tottenham, Kevin Danso. Mereka sama-sama enggan berkomentar banyak. Bagi mereka, meskipun saling bersinggungan dalam hal rivalitas, Arsenal dan Tottenham terpisah jurang yang sangat lebar.
Jurang tersebut membuat prestasi kedua tim tersebut tidak bisa dibandingkan. Cara paling mudah membuktikannya adalah simulasi pertukaran prestasi. Apakah Arsenal akan merasa lebih baik jika punya prestasi seperti Tottenham pada musim ini? Pertanyaan sebaliknya juga berlaku untuk Tottenham.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/10/df3bbcc4ee5ad68d0af563f06fe9bcc5-wires_photo_2025_05_10T172750.141.jpg)
Tentu tidak. Bayangkan jika ”Si Meriam” finis hanya berjarak satu peringkat dari zona degradasi di Liga Inggris dan gagal berbicara banyak di Liga Champions. Arteta mungkin akan dipecat sebab trofi Liga Europa tidak sejalan dengan proyek untuk mengembalikan Arsenal ke puncak persaingan.
Arsenal saat ini dituntut bersaing memperebutkan trofi bergengsi di level kompetisi tertinggi, bukan sekadar asal juara. Hal itu pula yang diungkapkan Arteta ketika ditanya tentang rumor transfer penyerang bintang Real Madrid, Rodrygo. Sang manajer memberikan konteks posisi dan status teranyar timnya.
”Saya tidak mau menyebutkan nama pemain (yang akan didatangkan), tetapi hal terbesar (dari isu itu) adalah kami telah membawa klub ini ke posisi lebih tinggi. Posisi di mana kami harus memenangi trofi mayor pada musim depan. Kami telah menunjukkan konsistensi sebagai tim elite di negara ini dan Eropa,” jelas Arteta.
Hal serupa berlaku untuk Tottenham. Mereka mungkin akan sangat senang jika bisa mendapatkan capaian tim tetangga pada musim ini. Namun, tim asuhan Ange Postecoglou itu tidak akan mau menukar trofi Liga Europa. Mereka membutuhkan trofi lebih dari apa pun setelah dihantui kutukan nirgelar selama nyaris dua dekade.
Prestasi itu juga sangat dibutuhkan Postecoglou. Isu pemecatan berulang kali menghampiri pelatih asal Australia tersebut sepanjang musim ini. Namun, dia berhasil mengembalikan kepercayaan para penggemar dan petinggi klub. Dia menepati janjinya, selalu bisa memenangi sesuatu di musim kedua.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/22/f528b6566276b28457ea14361e0d19ef-Britain_Soccer_Europa_League_Final_1_.jpeg)
Hadiah paling diincar, selain trofi, adalah tiket Liga Champions. Arsenal dan Tottenham mendapatkan itu untuk musim depan. Bedanya, Tottenham meraih itu lewat jalur juara Liga Europa yang sekaligus akan memacu rasa percaya diri tim. ”Saya merasa tujuan akhir untuk memenangi sesuatu lebih penting,” kata Postecoglou.
Pada akhirnya, prestasi Arsenal dan Tottenham merupakan yang dibutuhkan masing-masing. Sulit mencari yang lebih unggul karena mereka memiliki konteks situasi berbeda. Satu hal yang pasti, prestasi mereka lebih baik dari Manchester United yang gagal total dalam seluruh kompetisi setelah kalah di final Liga Europa. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .